Jungkir Balik Mencari Jodoh: Tentang Menanti dan Menemukan Jodoh

Jungkir Balik Mencari Jodoh.delinabooks
Judul: Jungkir Balik Mencari Jodoh

Penulis: Agung Pribadi, dkk
Penerbit: LovRinz Publisher
Cetakan Pertama: Februari 2018
ISBN: 978-602-5684-01-2

Berpikir positif pada Allah SWT adalah salah satu hal yang penting. Sebagai manusia, pengetahuan kita terbatas. Ya, seringkali terbatas menilai pada yang kasat mata, sementara di balik semua itu kita tak tahu apakah itu baik atau tidak. (hlm. 3)

Saya bilang ke grup penulis buku antologi ini, “duh, aku nggak puas dengan tulisan sendiri. Ini kayaknya nggak diedit ya? Tahu gitu, aku nggak akan deh ngirim draft mentah. Huhu nyesel banget.” Iya, sungguh aku menyesal karena tulisanku berantakan sekali 😩

Jadi Desember kemarin kalau tidak salah, ada tawaran dari Mas Agung untuk mengirimkan naskah non fiksi tentang jodoh. Ya dengan senang hati karena saya sudah cerita juga di blog dan punya draft tulisan yang mana dulu nggak jadi diterbitkan oleh sebuah komunitas, ya saya kirim aja ke Mas Agung.

Sialnya, waktu itu saya lagi kerepotan dan malas sekali untuk menulis. Jadilah draft mentah itu yang dikirim. Tanpa saya baca lagi dan edit sedikitpun! Huhu. Sebenarnya ada sedikit tambahan sih di tulisan saya. Tapi tidak signifikan. Karena masih terasa sekali tulisan aslinya. Kalau matang, mungkin saya senang. Sayangnya ya itu tadi, ternyata pas dibaca lagi tulisannya berantakan, whuaaaa.

Ya baiklah yang penasaran tulisan saya, silakan boleh dibeli buku ini. Bisa via saya kok hehe. Jangan fokus ke tulisan saya ya, tulisan lainnya bagus-bagus kok 😍

Jadi sesuai judulnya, Jungkir Balik Mencari Jodoh ini, adalah sekumpulan kisah inspiratif tentang lika-liku dalam mencari dan menemukan jodoh. Ada 20 penulis yang terlibat dan 25 tulisan di dalamnya.

Biasalah ya, di Indonesia perkara jodoh ini memang masih sering dipermasalahkan. Kalau wanita menginjak 25 tahun ke atas, mulai deh tuh banyak terima pertanyaan, “kapan nikah?”. Bahkan beberapa kisah benar-benar mengharukan karena bukan datang dari orang luar, melainkan orang tua dan keluarga sendiri yang mendesak untuk cepat-cepat punya pasangan 😔

Ada juga kisah seperti saya *uhuk. Yang berlika-liku dalam menemukan jodoh. Tadinya berharap banget, eh tiba-tiba si doi menghilang. Kita disuruh ikhtiar dulu sama Allah. Disuruh sabar dulu. Begitu kita benar-benar pasrah, Allah datangkan deh tuh jodoh hehe. Begitu kira-kira kisah kami ini.

Selain itu, terselip juga tips-tips bagaimana agar kita bisa mendapatkan jodoh. Apa saja ikhtiar yang perlu kita lakukan. Bagaimana cara kita mensyukuri saat-saat kita belum bertemu jodoh kita.

Sayangnya, masih banyak lubang di buku ini. Mungkin karena minim editan kali ya. Jadi masih banyak tata bahasa yang belum rapi. Ejaan-ejaan yang agak berantakan seperti penempatan huruf awal dan tanda baca. Serta kesalahan penulisan pada beberapa kata. But, tidak sama sekali mengurangi esensi sebenarnya dari kisah-kisahnya kok.

Ya, jodoh itu memang seperti maut. Tidak tahu kapan datangnya. Jodoh juga seperti rezeki. Yang jangan hanya ditunggu saja di bawah pohon, tapi juga harus dijemput dengan ikhtiar dan doa yang tulus dari hati.

“Jika datang kepada kalian lelaki yang baik agamanya (untuk melamar) maka nikahkanlah ia. Jika kalian tidak melakukannya, niscaya akan terjadi fitnah dan kerusakan besar di muka bumi.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah) (hlm. 141)

Hanya satu yang selalu saya sampaikan pada siapapun yang saat ini masih menanti jodoh. Berharaplah hanya pada Allah SWT. Segala ikhtiar, kita niatkan hanya untuk Allah semata. Sebab ketika hanya Allah yang kita jadikan sandaran, disitulah Dia akan memainkan perannya. Bisa jadi apapun yang kita harapkan, akan dikabulkannya dengan cara yang indah. Seperti kisah saya. Tanpa diduga, jodoh itu akhirnya datang 😍😁

Jodoh tidak ditentukan dengan sedekat takdir dan sesering apa orang berinteraksi namun ditentukan oleh takdir. Jika kau mencintai seseorang tak perlu melanggar aturan Allah untuk mendapatkannya, cukup pinta ia dalam doa yang tak kenal lelah, maka kau akan mendapatkannya dengan cara yang indah bahkan melalui jalan yang tak pernah terlintas sedikitpun di benakmu, (hlm. 127)

Iklan