menata kala

Menata Kala: Sudah Kita Pergunakan Apa Saja Waktu Kita?

Judul: Menata Kala
Penulis: Novie Ocktaviane Mufti & Khairunnisa Syaladin
Penerbit: CV. IDS
Cetakan Kedua: November 2018

Menata Kala, saat dengar judulnya saya langsung terpikir kala, waktu. Saya sendiri pernah menulis tentang waktu di blog Sohibunnisa berapa waktu yang lalu. Ketika Waktu Tidak Produktif, Maka Dunia Maya Hanya Jadi Keburukan, Kemerdekaan, Saatnya Kita Menghargai Diri Sendiri dengan Tepat Waktu, Menjadi Produktif di Waktu Luang.

Setelah punya anak, saya memang kerasa lebih fokus untuk mengatur waktu. Apalagi setelah punya dua anak, kalau tidak segera dimanfaatkan, mana sempatlah saya menulis begini. Selagi anak-anak tidur, buru-buru ngerjain pekerjaan rumah tangga. Selagi anak-anak tidur, baca buku atau nulis atau ngambil foto buku *eh. Pokoknya begitulah. Saya justru lebih produktif setelah punya anak.

Makanya jadi ibu buat saya itu ada hikmahnya juga. Ya dulu karena single ngerasa bebas-bebas saja dengan waktu, alhasil nggak begitu banyak yang saya hasilkan. Tapi setelah punya anak, saya justru bisa melakukan banyak hal. Kerjaan rumah tangga, masak, nulis, baca buku, bahkan menjadi bookstagrammer dan seorang blogger. Masya Allah.

Alhamdulillah, sejak awal melirik buku ini saya langsung tertarik pengen beli. Bukan karena apa. Tapi barangkali ada yang kurang untuk saya terapkan soal waktu. Eh ternyata malah dapat hadiah giveaway di Mbak Arini Rachma hehe. Alhamdulillah, makasih, Mbak 🙂

Kelebihan buku

Pertama, saya suka banget judulnya. Dengan diksi waktunya yang diganti menjadi kala. Mengatur jadi menata. Kalau judulnya Mengatur Waktu ya jadi nggak menarik. Tapi karena jadi Menata Kala alhasil judul ini memikat sekali.

Terus, covernya. Saya juga suka cover baru ini dibanding cover sebelumnya. Dari segi font, warna, sampai ilustrasinya. Bahkan beberapa orang yang komen strory saya bilang, buku ini kayak buku fiksi. Jelas ya, ini bukan buku fiksi, melainkan non fiksi.

Sinopsis buku

Menata Kala sendiri berbicara tentang waktu. Kala bersama diri sendiri, Kala bersama Allah, Kala bersama orang lain, dan Mengeja kala. Keempat bab ini, diturunkan lagi menjadi beberapa tulisan yang pendek-pendek. Karena pendek, alhasil buku ini jadi terasa tidak membosankan. Karena setiap tulisannya pun membawa cerita yang berbeda-beda.

Bagaimana cara kita menata kala selama ini? Adakah produktif? Adakah waktu yang terbuang percuma? Atau, sudahkah kita mengaturnya dengan baik? Buku ini mungkin akan menjadi semacam renungan bagi kita. Ya, buku ini tak sekedar membawa cerita kedua penulisnya. Tapi juga mengajak kita mengambil hikmah dari setiap cerita-ceritanya.

“Kita semua memiliki kemampuan yang mengagumkan untuk merenda mimpi, merajut cita-cita, dan menyusun rencana, tetapi semua itu tidak pernah lebih kuat daripada kemampuan kita untuk menunda. Maka, setelah memiliki visi, kita memang seharusnya memiliki gairah untuk mewujudkannya…” – Salim A. Fillah, Jalan Cinta Para Pejuang (hlm. 33)

Renungan soal waktu

Seperti dalam bab pertama, Kala Bersama Allah. Sebab Setiap Detik Akan Diuji. Kita semua diberi waktu yang sama, 24 jam. 86.400 detik. Dalam puluh ribuan detik ini, apakah kita sudah melakukan banyak hal? Apakah yang kita lakukan mengandung kebaikan. Semua orang punya waktu yang sama, tapi penggunaannya tidaklah sama. Termasuk produktifkah kita? Atau hanya menyia-nyiakannya begitu saja?

Salah satu tulisan yang saya suka ada di judul Mengontrol Makan untuk Menjaga Produktivitas. Makan berlebihan, akan membuat kita kekenyangan. Alhasil diri menjadi malas bergrak lagi karena perut sudah tidak enak. Ini sebabnya manusia dianjurkan untuk mengontrol diri agar waktu yang ada tidak terbuang percuma karena kekenyangan.

Dalam tulisan ini ada tiga tips. Hindari makan terus menerus, makan makanan yang halal dan baik, dan hindari makan berlebihan. Seperti dalam sebuah hadits:

“Cukuplah bagi seorang manusia untuk makan beberapa suap untuk mempertahankan tulang punggungnya dengan benar. Tetapi jika dia harus (mengisinya) maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk air, dan sepertiga untuk udara. (HR. Ibnu Majah) (hlm. 149)

Masih banyak lagi cerita yang sayang jika dilewatkan dalam buku ini.

Kekurangan buku

Sayangnya, semakin ke belakang justru semakin banyak kesalahan ketik. Ada yang kelebihan huruf, kekurangan huruf. Tapi yang paling banyak adalah kesalahan penggunaan kata ganti di- dan ke – .

Misalnya ke sebuah tempat. Ditulis kesebuah. Harusnya dipisah. Dirumah. Seharusnya di rumah.

Semoga jika dicetak ulang, ada perbaikan.

Setiap waktu libatkan Allah

Secara keseluruhan, saya cukup menikmati buku ini. Mengalir sekali tulisannya. Mudah dipahami. Buku ini juga akan membuat kita berpikir ulang bagaimana cara kita menggunakan waktu selama ini. Mungkin dengan hadirnya buku Menata Kala, bisa membantu kita untuk menjawab pertanyaan, “Sudah kita pakai apa saja waktu kita selama ini?” Dan sungguh, benar kata buku ini jika dikatakan, sesungguhnya waktu yang kita punya HANYALAH di saat ini. Kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Pun kita tidak bisa mengetahui sampai kapan batas waktu kita di dunia ini harus berakhir.

Dan setiap waktu yang ada, hendaknya kita selalu libatkan Allah. Karena hanya Dia yang Maha Menciptakan Waktu, dia pula yang akan memudahkan urusan kita jika selalu ingat pada-Nya:

Allah, jadikan diri dan hati ini menghabiskan setiap detik hidup dalam ketaatan, dalam keimanan, dan kecintaan kepada-Mu. (hlm. 85)

 

Advertisements

Thank you for not comment out of topic

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.