Hidup itu Harus Pintar Ngegas dan Ngerem

Hidup itu Harus Pintar Ngegas dan Ngerem: Nasihat yang Bagus

Judul: Hidup itu Harus Pintar Ngegas dan Ngerem
Penulis: Emha Ainun Nadjib
Penerbit: Noura
ISBN: 978-602-385-150-8

Kakak ipar saya punya salah satu bukunya Cak Nun yang isinya kumpulan cerita pendek gitu. Sayang, sampai sekarang belum minat baca hiks. Tapi pas Mbak Wijatnika ngasih buku yang Sedang Tuhan pun Cemburu, saya langsung suka tulisan Cak Nun 😍 Ya memang karena buku ini non fiksi juga kali ya.

Makanya, waktu Noura ngabarin bakal nerbitin buku Cak Nun yang akan saya review ini, saya senang sekali. Apalagi dari judulnya pun menarik. Hidup itu Harus Pintar Ngegas dan Ngerem. Yang kayaknya valid banget nih sama situasi dan kondisi saat ini di mana orang lebih suka ngegas. Padahal kalau gas terus ya jadi nyusruk. Harus direm biar nggak nabrak.

Benar saja, dari halaman-halaman awal saya sudah suka sekali dengan tulisan Cak Nun 😍

Sinopsis buku

“Orang bermain judi juga rukun. Bandar dan yang main rukun. Itu namanya kerta raharja, tapi tidak wa rabbun ghafûr. Tidak diterima Gusti Allah. (hlm. 3)

Dan first impression adalah duh sukaaa sama covernya. Warna hijau muda gitu. Dipadu dengan ilustrasi Cak Nun dengan pose yang khas banget. Pokoknya cakep.

Buku ini berisi kumpulan nasihat-nasihat Cak Nun. Ada 11 bab dalam buku ini. Yang satu babnya menghabiskan sekitar 20 halaman.

Di antaranya ada Gusti Allah Siap Memberi Ampunan, Belajar Ilmu Ashhabul Kahfi, dan Hidup itu Harus Belajar Ngegas dan Ngerem.

Ada salah satu nasihatnya yang nempel banget di saya. Manusia itu jangan merasa paling benar. Sejatinya kita ini sama-sama mencari kebenaran. Dalam mencari tentu saja kita banyak salahnya. Makanya, daripada saling ribut siapa yang benar, kenapa kita nggak sama-sama mencari kebenaran.

Posisi manusia tidak di “adalah”, tapi di “semoga”. Tidak di “pasti”, tapi di “insya Allah”. Posisi kamu itu insya Allah. Seumur hidup, ya isinya hanya insya Allah, dan semoga; siapa tahu. (hlm. 28)

Ringan tapi jangan ditelan mentah-mentah

Bahasa yang digunakan ringan banget. Kalau yang suka nonton ceramah-ceramah Cak Nun pasti hafal deh gayanya. Nah demikian pula di buku ini tidak jauh berbeda bahasanya.

Meskipun begitu, kalau saya bilang baca buku Cak Nun apalagi tentang Islam gini kudu terbuka banget pikirannya. Dan mungkin butuh bimbingan. Saya sendiri beberapa kali harus nanya ke suami, “Ini maksudnya apa? Kok gini ya, Sayang?” Biar saya nggak salah paham.

Cak Nun itu nyeleneh. Jadi jangan diikutin mentah-mentah. Tapi kita harus paham hakikat tulisanny. Misalnya dalam tulisan ini,

Entah itu mazhab empat, entah ditambah wahabi, itu semua tafsir. Tidak sama dengan Al-Qur’an. Tidak sama dengan Allah dan Kanjeng Nabi Saw.

Sebaiknya, jangan terlalu fanatik dengan siapa pun, kecuali Allah dan Kanjeng Nabi Saw. Jangan sampai tertipu dengan sesuatu yang bisa menyebabkan hubungan kamu dengan Allah terganggu. (hlm. 60)

Mungkin ada orang yang terusik dengan tulisan tersebut. Padahal kalau direnungkan lagi. Ya Cak Nun ada betulnya juga. Cuma Allah kan tempat kebenaran. Dan Kanjeng Nabi adalah utusan Allah yang juga paling bisa dipastikan kebenarannya. Kalau manusia, selain nabi dan rasul ya nggak ada jaminan.

Di buku ini juga membahas beberapa terjemahan Al-Qur’an. Misalnya di halaman 199.

Ada ayat Allah: ati-‘ullâh wa ati-‘urrasûl wa ulil amri minkum. Ada Allah, rasul, dan ulil amri. Yang pakai “ati-‘u” ada dua; ati-‘ullâh wa ati-‘urrasûl. Tidak wa ati-‘u ulil amri minkum. (hlm. 199)

Buku yang full colour

Dari halaman awal, kita akan diajak memasuki buku dengan penuh warna. Yes, buku ini punya desain layout yang cantik banget. Dari mulai pemilihan ilustrasi, warna, sampai bentuk fontnya pun semua cantik. Saya suka buku berwarna gini hehe.

Belum lagi beberapa kalimat-kalimat yang penting atau quotable sudah dihighlight sendiri dari penerbitnya. Jadi tampilan isi buku ini memang menarik banget.

Nasihat-nasihatnya bagus

Overall, 4 bintang dari saya untuk buku ini. Isinya bagus kalau kita mau memahami lebih jauh. Yang penting harus paham dulu hakikat arah tulisannya mau ke mana. Dan saran saya, lebih baik punya pikiran terbuka dulu. Jangan keburu menelan tulisan yang pahitnya. Tapi pahami lebih dalam makna apa yang hendak dinasihati oleh Cak Nun 😊

Allah tidak peduli pada kesuksesanmu di dunia. Yang Allah ajarkan adalah agar kamu berjuang terus-menerus dan selalu menancapkan jihad ihdinasirâtal mustâqim di dalam pikiran dan hatimu. Sukses itu adalah bila kamu istiqamah terus sampai akhir. (hlm. 228)

Thank you for not comment out of topic

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.