wonder

Wonder: Support System Terbaik adalah Keluarga

Judul: Wonder
Penulis: R.J. Palacio
Penerbit: Atria
Cetakan I: September 2012
ISBN: 978-979-024-508-2

Sudah lama saya direkomendasikan film Wonder oleh banyak teman. Tapi baru tahun kemarin akhirnya saya benar-benar menontonnya. Dan, benar kata orang, filmnya bagus dan bikin mewek banget 😭 Saya cuma kagum dengan August, lebih kagum lagi dengan orang tuanya yang sangat mendukung August.

Makanya, ketika novel ini lewat di Unhaul seorang teman, saya langsung saja membelinya. Meskipun sudah menonton filmnya, rasanya untuk kisah yang bagus nggak afdhol kalau tidak baca bukunya.

Sinopsis buku

August Pullman mengidap kelainan Mandibulofacial Dysostosis sejak lahir. Kondisi ini mengakibatkan wajahnya menjadi tampak tidak biasa.

“Omong, omong, namaku August. Aku tidak akan menggambarkan seperti apa tampangku. Apa pun yang kaubayangkan, mungkin keadaannya lebih buruk. (hlm. 3)

Menjadi anak yang ‘berbeda’, sebelumnya August tak pernah bersekolah di sekolah umum. Ia hanya belajar di rumah bersama Isabel, ibunya. Sampai ketika August sudah memasuki usia 10 tahun, Mom, begitu panggilan ibu August, mendaftarkannya ke sekolah Beecher Prep dekat rumahnya.

Tentu saja itu tak mudah. Pada awalnya August menolak. Berkat keyakinan yang diberikan ibu dan ayahnya, August akhirnya bersekolah.

Hari-hari pertama terasa berat bagi Auggie. Terang saja, tak banyak yang bisa menerima perbedaannya secara langsung. Tapi sesulit apapun, kehidupan tetap harus dihadapi sekalipun kita anak sekolah menengah. Dan kesulitan itulah yang menjadikan ujian bagi Auggie.

Auggie memiliki support system yang hebat

Jujur, setelah baca bukunya saya nggak begitu mewek seperti saat nonton filmnya. Barangkali karena sudah tahu gambaran dan tokoh di ceritanya ya. Tapi tetap saja pada beberapa bagian, sedihnya tetap terasa 😭 Dan ternyata banyak bagian yang tidak ditayangkan di film. Pasti sih, karena keterbatasan waktu yang ada.

Mom mengucapkan kata-kata lembut yang aku tahu seharusnya membuatku merasa lebih baik, tapi kata-kata tak bisa mengubah wajahku. (hlm. 85)

Orang tua dan kakaknya hebat. Jadi support system pertama dan terbaik bagi Auggie. Memang benarlah bahwa support terbesar adalah dari lingkup keluarga. Ketika keluarga sehat tercipta, maka segalanya terasa lebih mudah untuk dijalankan.

Terjemahan dan tulisan yang enak dibaca

Kesan pertama saya adalah bukunya enak sekali dibaca. Mulai dari terjemahannya. Cara penulisannya yang ringan dan mudah dipahami serta minim kesalahan. Selain itu juga tekniknya yang mendeskripsikan, tidak memberi tahu. Kalau istilah kepenulisannya tuh “show don’t tell.” Seperti gambaran fisik August:

“Dari semua bagian wajah, aku paling membenci telingaku. Telingaku seperti kepalan tangan kecil yang diletakkan di samping wajahku. Telingaku juga letaknya terlalu rendah. Telingaku kelihatan seperti potongan adonan pizza…” (hlm. 287)

Dan yang terpenting bagi saya adalah pendek-pendek setiap judulnya! Hehe. Dasar saya memang yang punya nafas nulis yang pendek. Suka bacaan pun yang pendek juga 😁

Saya kira sampai akhir bukunya hanya ditulis dari sudut pandang August aja. Tapi ternyata ada sudut pandang-sudut pandang lainnya. Ada kakaknya August, Olivia, teman-teman August: Summer, Jack. Miranda dan Justin teman dari Olivia, yang ke semuanya menceritakan August dari sudut pandang mereka masing-masing. Sayangnya, tidak ada sudut pandang orang tua August. Padahal saya nunggu-nunggu 😁

Tapi yang saya bingung adalah pas bagian Justin hurufnya kecil semua. Jadi di kalimat awal, kalimat setelah titik, itu hurufnya kecil semua bukan kapital. Bahkan tanda petik dalam percakapan saja tidak ada. Saya kira awalnya itu salah tulis. Ternyata semua bagian Justin memang begitu. Berarti sepertinya memang disengaja. Untungnya tanda koma titik dan paragraf masih ada. Kalau tidak, wah pasti bingung banget semua kalimat nyambung haha.

Setiap manusia punya ujian

Awalnya saya ngira penulisnya pria lho. Soalnya namanya Palacio haha. Tapi ternyata wanita, karena di ucapan terima kasih penulis, penulis menyebutkan “suamiku”. Dan kisah ini rupanya bukan kisah nyata secara langsung, tapi terinspirasi dari gadis kecil yang mungkin ‘sama’ seperti Auggie. Hebat, penulis bisa menuliskannya dengan sangat menyentuh :’)

Overall membaca buku ini benar-benar menyadari saya pribadi, bahwa setiap manusia punya ujiannya masing-masing. Hanya tinggal bagaimana kita menyikapi ujian tersebut saja. Apakah kita mampu, apakah kita bisa menjadi support system yang baik seperti layaknya orang tua August yang tidak pernah merendahkan anaknya sedikit pun, dan apakah kita masih tetap bersikap baik sekalipun lingkungan menjauhi kita? :(( Hiks berat banget nulis bagian ini.

“Maukah kita memubat sebuah aturan baru dalam hidup … selalu berusaha untuk lebih berbaik hati dari yang seharusnya?” (hlm. 408)

Kisah August, layak mendapat 5 bintang!

Thank you for not comment out of topic

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.