Beli Karena Butuh

Beli Karena Butuh: Penting untuk Tahu Tujuan Kita

Judul: Beli Karena Butuh
Penulis: Andi Sri Wahyuni, Akt
Penerbit: Quanta
ISBN: 978-602-04-8014-5

Salah satu resolusi saya di 2019 adalah hidup minimalis. Walaupun belum sempat membuang/memberi barang yang sekiranya tidak saya perlukan lagi, tapi saya sudah mulai mengurangi beli-beli barang apalagi kalau itu memang belum dibutuhkan. Termasuk, ehm, buku. Makanya tahun ini saya menantang diri sendiri untuk babat 5 timbunan, baru boleh beli satu buku. Tapi setelah dipikir lagi, apa sekalian aja saya nggak usah beli buku dulu. Karena buku yang belum dibaca pun masih banyak banget 😦 Ya, semoga resolusi saya tercapai.

Itu sebabnya, saat buku ini lewat di timeline saya, tanpa pikir panjang saya langsung tertarik! Kenapa, ya karena saya merasa butuh buku ini. Cocok dengan resolusi yang akan saya jalankan. Apalagi dengan tagline, “The Secret of Financial Management for Young Muslimah.” Ya saya kan masih muda walaupun sudah punya dua anak 😛

Sinopsis buku

Kebahagiaan sejati muncul bukan karena setiap keinginan telah terpenuhi. Namun justru karena ia bebas dari keinginan-keinginan sesaat untuk memuaskan ego semata. (Rospitadewi dan Efferin, 2017) (hlm. 26)

Oke, sasaran buku Beli Karena Butuh ini memang para remaja muslimah. Kenapa remaja? Karena ya memang fase remaja itu kan fase dewasa awal ya. Walaupun dalam Islam sebetulnya tidak ada istilah remaja, yang ada adalah baligh/pemuda. Dimana fase ini tuh lagi tinggi-tingginya emosi. Tinggi-tingginya rasa ingin diakui oleh lingkungan sekitarnya. So, bisa dibilang fase sedang boros-borosnya untuk memenuhi kebutuhan rasa pengakuannya itu.

Dan kenapa harus muslimah? Karena perempuanlah yang lebih sering tergiur hal-hal yang remeh. Seperti wah itu bajunya lagi trend. Wah tasnya lucu. Wah handphonenya yang terbaru. Dan sebagainya. Meski begitu, menurut saya buku ini juga cocok untuk siapa saja. Mau remaja atau pun dewasa. Mau muslimah/perempuan, atau pun laki-laki. Buku ini cocok untuk dibaca bagi kita yang ingin mengetahui sejauh mana kita sudah menjalankan “Beli Karena Butuh” ini.

Buku ini akan membahas empat bagian. Penting Dipikirkan Kembali, Resisten Berbagai Godaan, Pos-pos Pengurang Kantong, dan Beberapa Saran untuk Mengelola Keuanganmu. Yang keempatnya dibagi lagi ke dalam beberapa judul. Yang penjelasannya cukup padat, sehingga tidak bertele-tele. Dan dengan bahasa yang renyah sekali. Ya pokoknya masuk banget dengan bahasa remaja gahul zaman now. Karena bahasanya yang ringan inilah sehingga buku ini mudah dipahami. Dan landasannya pun ekonomi Islam, sehingga lebih tenang menjalankan tips-tipsnya.

Kelebihan buku

First impression, kalau lihat buku berwarna kayak gini tuh saya suka banget. Ditambah layoutnya yang juga mendukung. Bikin buku ini makin terasa nggak kaku sama sekali. Bahkan meskipun buku ini disisipi beberapa ayat Al-Qur’an, buku ini tetap asyik dibaca.

Di bagian belakang buku juga terdapat daftar pustaka yang lengkap yang menjadi referensi penulisan buku ini. Salah satunya ada referensi dari buku-buku yang sekarang sedang ngehits. Seperti buku Marie Kondo dengan The Life-Changing Magic of Tyding Up, Francine Jay dengan The Joy of Less, dan Fumio Sasaki dengan Goodbye Things: On Minimalist Livingnya.

Kekurangan buku

Sayangnya, saya masih ngerasa kurang klik dengan covernya yang menurut saya terlalu simpel. Apalagi jika target buku ini untuk remaja. Yang biasanya lebih suka dengan sesuatu yang lucu dan colourful. Mungkin bisa ditambahin ikon muslimahnya biar pas dengan tagline.

Atau barangkali sengaja dibikin simpel karena memang menunjukkan buku ini nggak hanya bisa dibaca remaja dan muslimah aja sih 🙂

Dan masih terdapat beberapa kesalahan ketik. Dikit sih, jadi so far tidak terlalu mengganggu 👌

Penting untuk tahu tujuan kita

Kesimpulan yang bisa saya ambil adalah,ternyata menumpuk barang itu efeknya besar sekali. Bisa jadi kita malah sibuk ngatur barang-barang kita yang kebanyakan, sibuk milih sampai akhirnya urusan kita yang lain yang lebih penting jadi terabaikan.

Maka PENTING bagi kita untuk tahu apa TUJUAN KITA. Sebab ketika kita punya tujuan, maka kita tahu apa yang kita butuhkan. Dengan begitu, kita tidak akan terjebak keinginan sesaat. Kita juga tidak akan mudah termakan trend kekinian. Alhasil kita tidak akan menumpuk barang dan membuat waktu kita jadi lebih produktif karena kita tidak punya terlalu banyak pilihan yang bisa menghabiskan waktu kita.

Kamu adalah seseorang yang ‘ada’ karena sesuatu yang melekat di dalam dirimu: akhlak, kebaikan, dan ide-idemu. Bukannya malah seseorang yang ‘ada’ karena sesuatu yang melekat di luar dirimu: pakaian, sepatu, kendaraan, dan barang sejenisnya milikmu. (hlm. 137)

Menghemat atau hanya memiliki apa yang kita butuhkan ternyata bisa menolong banyak orang termasuk anak cucu kita kelak.

Ketika kami memutuskan memiliki sebuah barang, yang ada dalam pertimbanganmu tidak saja tentang dirimu sendiri, tetapii tentang semesta yang kamu tinggali. (hlm. 36)

Iklan

Thank you for not comment out of topic

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.