Hush Little Baby: Ibuku, Ibumu, Ibu Kita Semua

Hush Little Baby.delinabooks

Judul: Hush Little Baby
Penulis: Anggun Prameswari
Penerbit: Noura Books
Jumlah Halaman: 340 hlm.
ISBN: 978-602-385-381-6

Setelah buku Me Time, saya masih tertarik untuk baca buku-buku lain yang berhubungan dengan ibu dan anak. Tapi karena sedang bosan membaca buku parenting, so saya lebih milih membacanya dalam bentuk fiksi. Dan buku Hush Little Baby adalah pilihan yang tepat! Tidak salah kalau beberapa orang di media sosial merekomendasikan buku ini.

Sinopsis buku

Masa lalu terkadang memang tidak seperti yang kita inginkan Ruby. Tapi, selalu ada cara untuk menebusnya.” (hlm. 59)

Wanita miskin yang menikah dengan laki-laki kaya tak hanya terjadi dalam film atau drama-drama di TV. Tapi di buku ini, wanita bernama Ruby juga menikah dengan Rajata, seorang laki-laki kaya raya dengan memiliki warisan perusahaan yang cukup besar dari orang tuanya.

Ruby wanita sederhana. Bukan saja hidupnya sempurna karena menikah dengan Rajata. Tapi ia juga memiliki seorang anak perempuan yang manis bernama Gendhis. Sayangnya, Ruby kebingungan setelah menjadi ibu. Bagaimana menghentikan bayinya menangis? Belum lagi dengan anggapan tidak waras yang disandangnya. Padahal ia merasa yang gila adalah ibunya sendiri. Ruby terbayang-bayang masa lalu buruk dengan ibunya.

Sampai suatu hari, Gendhis hilang. Ruby mulai tidak tenang. Tak ada lagi yang bisa Ruby percaya. Rajata, ibu mertuanya, bahkan Bibi Ka, pengasuhnya sejak kecil. Ruby ingin membuktikan bahwa dia bisa menjadi seorang ibu. Dengan menelusuri masa lalunya.

Isu yang realita

Membaca buku ini sungguh membuat saya teriris-iris. Bukan saja karena masa lalu Ruby yang amat kelam. Tapi juga cerita-cerita yang terjadi di dunia realita tentang dunia per-ibuan. Kenapa melahirkan sesar? Padahal sempurnanya seorang ibu itu melahirkan normal. Kenapa kok pakai susu formula? Dan lain-lain drama-drama yang seringkali memang terjadi di dunia nyata. Masih ada saja kalimat-kalimat menyakitkan itu keluar dari seorang perempuan yang bahkan juga dirinya adalah seorang ibu. Hiks.

“Ketika kamu akhirnya hamil, Ruby, itu berarti kamu dipercaya untuk bisa merawatnya. Semesta tidak pernah salah.” (hlm. 58)

Dan yang saya suka lagi, buku ini mengangkat isu baby blues syndrome, postpartum depression, dan postpartum psychosis. Yakni depresi yang dialami ibu pasca melahirkan. Jangan salah, melahirkan mungkin seharusnya bahagia. Tapi perubahan pola hidup dari mulai istirahat yang berkurang, mau melakukan sesuatu harus dikejar waktu saking takut keburu bayi menangis, sampai akhirnya tidak bisa bebas kemana-mana setelah punya anak, itu semua bisa membuat seorang perempuan stres terlebih jika minim dukungan.

Di buku ini contohnya, bukan saja pola hidup Ruby berubah. Tapi tinggal dengan mertuanya, membuat Ruby juga banyak mendapatkan intervensi soal anak. Belum lagi dengan perkataan-perkataan orang sekitarnya yang membuat Ruby tambah stres. Makanya saya sedih banget baca bukunya 😦

Saya sendiri sempat merasakan stres saat awal-awal punya anak. Walaupun Alhamdulillahnya hanya stres ringan, tidak sampai tahap berat seperti Ruby yang sampai harus minum obat anti depresan.

Gaya tulisan yang mengalir

Sejak awal membaca buku ini, saya sudah suka dengan gaya tulisan yang digunakan Mbak Anggun. Sangat mengalir. Meskipun alurnya maju mundur, tapi dari segi karakternya masing-masing cukup kuat dan konsisten. Karakter yang paling saya benci adalah Bunda Alana, mertua Ruby. Dan jelas yang saya suka adalah Ruby. Dari nalurinya sebagai seorang ibu yang sangat ingin melindungi anaknya. Dia sangat kuat berkeinginan untuk sembuh dari depresinya demi bisa melindungi anaknya.

Awalnya saya suka dengan Rajata. Dia laki-laki yang penuh kasih sayang dan cinta pada istrinya. Sayangnya, ketika Ruby menderita depresi, Rajata malah memisahkan kamar Ruby. Padahal kira saya, Ruby butuh dukungan. Ternyata di balik itu, Rajata ingin membuat Ruby lebih tenang dahulu dengan membuatnya istirahat sementara dari menjaga anak.

Kekurangan buku

Dan plot twistnya cukup mengesankan bagi saya. Agak tertebak, tapi masih pintar polesannya, jadi masih ada rasa terkejutnya. Tapi untuk thriller, jujur tidak begitu seram layaknya novel-novel thriller yang amat suram. Di novel ini menurut saya kadarnya masih tidak menyeramkan untuk dibaca.

Ibuku, ibumu, ibu kita semua

Well, menjadi ibu yang bahagia itu memang penting. Dan kita harus terus belajar, agar bisa menjadi ibu yang baik. Tapi lebih daripada itu, saya suka dengan pesan yang disampaikan di akhir bagian buku ini,

Ibuku, ibumu, ibu kita semua –
Bayangkanlah dia,
Hadirkanlah dia kembali ke dalam ingatan,
Pada setiap tarikan napas kita.

Lalu, tanyakan pada diri sendiri:
Apakah kita sudah cukup mencintai ibu,
Sebagaimana dia mencintai kita? (hlm. 326)

Huhu auto inget ibu di rumah :(((((

Iklan

Thank you for not comment out of topic

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.