Hijrah Sakinah: Menghadapi Masalah Pernikahan

Processed with VSCO with preset

Judul: Hijrah Sakinah
Penulis: Hanny Dewanti
Penerbit: Ikon
Cetakan 1: September 2018
ISBN: 978-602-61440-8-9

Waktu ada lowongan jadi #BookReviewer buku ini tanpa pikir panjang saya langsung daftar. Bukan cuma karena covernya yang menarik. Tapi juga judulnya yang sangat menggoda untuk dibaca.

Ya, saya memang suka buku-buku yang membahas rumah tangga. Buat saya yang sudah menikah, bahasan ini jadi nomor satu dibanding bahasan-bahasan lain bahkan parenting sekalipun. Karena saya percaya kalau rumah tangga yang bahagia dan bisa bertahan itu kunci untuk menghadapi hidup dengan lebih optimis termasuk saat menjadi orang tua.

Sejak menikah pula saya sudah nggak pernah lagi ngomporin anak-anak muda untuk nikah muda. Pasalnya setelah menikah saya semakin paham bahwa menikah itu tidak sesederhana ‘buat anak’. Tapi kompleks sekali. Salah-salah, jika tak ada persiapan, maka buyarlah pernikahan. Naudzubillahimindzalik.

So, menikah bukan masalah cepat-cepatan, tapi masalah KESIAPAN. Kesiapan untuk menghadapi ujian yang akan lebih tinggi lagi. Itulah kenapa nikah dibilang ‘menyempurnakan agama’. Karena memang di fase inilah sebaik-baik pelajaran hidup.

Sinopsis buku

Masalah ada untuk membuat manusia menjadi lebih dewasa dari sebelumnya. (hlm. 231)

Hijrah Sakinah hadir untuk membantu kita yang sudah menikah menghadapi permasalahan rumah tangga dengan lebih jernih. Dan hadir untuk memberi gambaran pada yang belum menikah bahwa pernikahan itu tidak melulu berisi kebahagiaan. Justru pernikahan membawa masalah-masalah baru yang seringkali lebih rumit di saat kita masing single. Sungguh, saya bisa bilang bahwa buku-buku seperti inilah yang seharusnya dibaca. Bukan cerita-cerita yang mengupas kebahagiaan pernikahan semata tanpa melihat isinya lebih jauh.

Bahasan dalam buku ini sangat runut. Dimulai sejak setelah gebyar pesta. Fase mulai masuk menjalankan rumah tangga mulai dari finansial, anak, pekerjaan rumah tangga, sampai hubungan suami istri, tetangga, hingga bagaimana kita bisa mempertahankan rumah tangga supaya langgeng hingga jannah-Nya.

Bahkan buku ini dilengkapi pula dengan cerita-cerita nyata penulis, yakni Mbak Hanny Dewanti sendiri, juga orang-orang yang ada di sekitarnya yang akan membuat kita lebih percaya bahwa cerita-cerita tentang ujian rumah tangga itu benar-benar ada.

Hampir semua masalah dalam pernikahan itu sebenarnya terjadi juga pada rumah tangga lainnya. (hlm. 210)

First impression about this book

Buku ini juga dilengkapi dengan poin-poin tips yang sangat to the point dan bisa kita aplikasikan dalam kehidupan rumah tangga hingga menjadi orang tua. Bahasanya pun sangat ringan dan mudah dipahami.

Tak hanya dibahas dari sudut pandang istri saja, tapi juga nasihat-nasihat untuk para istri dalam menjaga hubungannya dengan suami agar suami lebih senang dan menyayangi istri.

First impression saya adalah, saya suka sekali dengan covernya! Begitu cantik dan terkesan feminim tapi tidak terlalu memalukan jika diambil para suami untuk dibeli 🙂

Selain itu, buku ini juga dilengkapi dengan ilustrasi yang tak kalah menarik. Dengan desain background pink dan gambar kartun muslimah menambah layout buku ini jadi semakin menggoda.

Pokoknya sejak halaman awal saya sudah jatuh cinta sekali sama buku ini. Bahkan rasanya nggak mau lepasin gitu 😀

Buku yang bagus untuk suami istri dan singlelillah

So, saya bisa bilang kalau buku ini sangat bagus untuk para istri dan suami untuk mempertahankan rumah tangga dan memandang masalah dengan lebih jernih. Ketahuilah bahwa setiap permasalahan rumah tangga itu ada di semua rumah. Bukan hanya kita yang mengalaminya. Yang membedakan hanyalah kadar masalahnya. Allah takkan memberi cobaan di luar batas kemampuan umat-Nya kan?

Buku ini juga cocok untuk para singlelillah. Agar gambaran pernikahan terlihat lebih nyata. Dan masalah-masalah yang ditulis dalam buku ini bisa menjadi bahan pembelajaran untuk memberi kesiapan sebelum melangkah menuju pernikahan.

Bukan rumah tangga bila tanpa ujian. Toh hidup di dunia memang selalu ada ujian bukan? Kita, manusia hanya diberi kesempatan untuk memperbaiki diri terus menerus sepanjang hidup. Serta tak putus berdoa dan memohon pada Allah untuk selalu diberi kekuatan.

Semoga sakinah mawaddah warahmah-Nya bisa tercapai dalam rumah tangga kita 🙂

Meminta maaf tidak akan membuat diri lebih rendan dan hina. Meminta maaf bukan berarti kita salah dan dia benar. Meminta maaf bukan berarti kita kalah dan dia menang. Meminta maaf adalah cara untuk mengatakan bahwa kita telah mengalahkan ego dan kita mencintainya melebihi ego yang kita miliki. (hlm. 231)

Iklan

Thank you for not comment out of topic

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s