I am Sarahza: Belajar Mensyukuri Amanah-Nya

Processed with VSCO with  preset

Judul: I am Sarahza
Penulis: Hanum Salsabiela Rais & Rangga Almahendra
Penerbit: Republika
Cetakan 1: April 2018

Saya percaya setiap orang punya sisi struggle nya masing-masing. Nggak ada yang patut disombongkan sekalipun itu kesedihan. Yap, kalimat “Aku nih paling sedih dari yang lain.” Itu juga suatu kesombongan lho. Kalau kata orang Jawa, “Urip iku sawang sinawang.” Hidup itu harus saling melihat. Hanya karena kita sedang bersedih, bukan berarti orang lain nggak pernah sedih. Roda berputar toh. Kadang hidup di atas, kadang di bawah.

Seperti Hanum dan Rangga yang punya sisi strugglenya sendiri. 11 tahun berdua menanti anak bukan perkara mudah. Saya mungkin mudah dikasih anak oleh Allah. Sebulan setelah nikah, langsung hamil. Tapi saya juga punya perjuangan yang lain.

Ya, 11 tahun menanti anak bukanlah perkara mudah. Lima kali bayi tabung, tiga kali inseminasi, dua kali laparaskopi dan kuretase semua dilakukan Hanum dan Rangga demi bisa memiliki anak.

Ilmu pengetahuan manusia hanya bisa memprediksi. Tak pernah menjamin. Ia tetap bertekuk lutut pada veto Pencipta Segala Pencipta Ilmu. (hlm. 175)

Sinopsis buku

Karirnya di televisi yang baru ia capai harus ia pupuskan demi bisa menemani suaminya sekolah di Austria. Di sanalah awal mereka berusaha untuk melakukan inseminasi. Sampai kemudian kembali lagi ke Indonesia dan melakukan serangkaian usaha yang lainnya. Tapi Allah berkata lain, usaha mereka selalu gagal.

Tapi yang saya salut, di tengah-tengah usaha mereka adalah mereka bisa menulis buku yang menjadi best seller dan dijadikan film terbaik di Indonesia. 99 Cahaya di Eropa, dan Bulan Terbelah di Amerika.

Hanum dan Rangga yang luar biasa

Masya Allah, semoga keluarga Mbak Hanum dan Mas Rangga diberkahi Allah. Begitu luar biasa perjuangan mereka demi bisa memiliki seorang anak. Hanum yang harus menerima operasi, suntikan, obat-obatan berkali-kali. Dan suaminya Rangga yang setia di samping istrinya, tidak menekan tapi justru menemaninya dengan segenap kesabaran. Meski sedih, tapi ia mampu berdiri kokoh.

Buku ini ditulis dengan tiga sudut pandang. Sarahza, Hanum, dan Rangga. Dengan memakai sudut pandang orang pertama.

Sarahza ada di Lauhul Mahfudz. Dia seolah sedang menceritakan perjuangan ibu dan ayahnya dalam berusaha agar ia bisa lahir ke dunia. Dengan usaha yang keras, dan doa yang tak putus, serta depresi yang sempat melanda Hanum, 11 tahun penantian itu akhirnya terjawab sudah. Sarahza lahir ke dunia.

keberuntungan akan selalu berpihak pada mereka yang memelihara kesabaran. Kebahagiaan akan selalu tergoda mendatangi mereka yang bersyukur. (hlm. 348)

Processed with VSCO with  preset

Penjelasan proses inseminasi dan bayi tabung yang panjang pun dijelaskan. Sangat ngilu untuk dibayangkan. Masya Allah Hanum wanita yang kuat ya 😦

Belajar mensyukuri amanah-Nya

Saya sulit untuk berkata-kata panjang tentang buku ini. Yang jelas buku ini cocok sekali untuk dijadikan bahan bersyukur kita. Bahwa anak-anak yang mungkin pernah membuat kita sebagai orang tua lelah, kesal, marah, justru di belahan dunia lain sedang dinantikan oleh pasangan yang lain.

Maka secara tidak langsung buku ini memberi kita pelajaran berharga, bahwa sejatinya anak memang amanah Allah yang tak terkira. Tak sembarang orang Ia percaya untuk dititipkan amanah itu. Menjaganya dengan baik sudah suatu keniscayaan yang harus kita usahakan. Serta mendidik mereka juga menjadi orang-orang yang bersyukur.

Suatu saat kau juga akan belajar, Nak, bahwa pencapaian di dunia selalu lebih bermakna jika kau bisa mencapainya dengan segala perjuangan. (hlm. 357)

Processed with VSCO with  preset

Iklan