Existere: Kupu-kupu Malam, Psikologi, dan Poligami Jadi Satu Cerita

Processed with VSCO with  preset

Judul: Existere
Penulis: Sinta Yudisia
Penerbit: Lingkar Pena Kreativa
Cetakan Pertama: Juni 2010
Jumlah Halaman: 382 hlm.
ISBN: 978-602-8436-97-7

Sinta Yudisia. Bukan kali pertama saya dengar namanya. Hanya baru pertama baca bukunya aja hehe. Sebetulnya sudah lama tertarik, Alhamdulillah pas kemarin salah satu teman blogger mendonasikan buku ini untuk Palu, saya langsung semangat belinya. Sudah sering saya baca tulisan-tulisan Mbak Sinta, dan saya selalu suka semua tulisannya!

Buku ini pun seperti itu. Bahkan dari halaman-halaman awal saya sudah jatuh cinta dengan gayanya bercerita 😍

Sinopsis buku

Dulu, para santri diajarkan oleh kiai cara sederhana saat punya masalah. Semua jawaban ada dalam Al-Qur’an. Ambil wudhu, niatkan minta bantuan pada Allah, lalu buka Quran. Apa pun yang terbaca saat tangan tergerak membuka, itulah jawabannya.” (hlm. 223)

Kemiskinan membawa Jamilah harus merantau ke Surabaya dari tempat aslinya di Tegal. Orang tua Jamilah bukan tak berusaha, toh ibunya sudah pontang-panting. Ayahnya hanya memikirkan kehidupan akhirat saja tanpa terlalu ngoyo mencari nafkah seperti istrinya. Jamilah diajak temannya bekerja di Surabaya, yang ternyata menjadi kupu-kupu malam. Hati berontak, tapi jika kemiskinan terus menjerat, Jamilah merasa tak punya pilihan lain.

Hepi Waluyo terus menekan anaknya, Almaida. Ia merasa Almaida tak seperti Andre, kakaknya yang pintar. Almaida terlalu lambat berpikir hingga membuat Hepi sering emosi dan memilih memasukkan Almaida ke pesantren. Ia merasa dengan memasukkan ke pesantren, setidaknya reputasi dirinya sebagai wanita sukses di masyarakat tidak jatuh.

Lain halnya dengan Ochi, gadis keras kepala yang tidak mau terus-menerus ketergantungan pada orang tuanya yang kaya membuat Ochi memiilih jalan hidupnya sendiri. Ia kuliah di jurusan psikologi. Dan bertekad untuk membangun The Dream Land atau DeL untuk menampung orang-orang yang terbuang. Seperti anak yang dibuang orang tuanya, pelacur yang tidak diterima di masyarakat, bahkan para pesakitan AIDS, dan lain-lain. Yang pada akhirnya DeLnya bisa terwujud bersama suaminya, Yassir.

Sayang, jalan tidak selalu mulus. Yassir terbayang masa lalunya dengan Vanya, teman yang mengenalkan Yassir pada Ochi. Dan Mila, akankah ia harus bertahan menjadi kupu-kupu malam? Bagaimana dengan Almaida yang harus menahan tekanan ibunya dan trauma nyaris diperkosa kakaknya seorang diri?

Terbit sejak 2010

Existere sudah terbit sejak tahun 2010. Dengan tebal lebih dari 350 halaman memang butuh kesabaran bacanya. Apalagi narasinya cukup banyak dibanding dialog. Sempat terasa membosankan, tapi semakin diikuti justru semakin terasa sayang jika tidak diselesaikan.

Existere, orang yang sengaja menyuguhkan diri bagi sebuah penghidupan dan sebuah keberwujudan. (hlm. 357)

Buku ini memang banyak tokoh utama. Milla, Almaida, dan Ochi. Awalnya saya mengira ketiganya berdiri dalam cerita terpisah. Ternyata seiring cerita berjalan, semua saling berkaitan.

Isu kupu-kupu malam yang tidak vulgar

Luar biasa. Saya cuma bisa bilang itu pada Mbak Sinta. Beliau mau mengangkat isu kupu-kupu malam menjadi sebuah tulisan yang mengharukan. Buku ini sama sekali tidak vulgar. Meskipun mengangkat isu kupu-kupu malam. Tapi justru Mbak Sinta mengemasnya dengan cara yang elegan dengan narasi yang kaya dengan diksi-diksi yang bisa dipahami dan menyentuh hati kita.

Dengan setting tempat prostitusi terbesar yang pernah berdiri, Dolly, di Surabaya, menggambarkan bahwa dunia malam itu benar-benar ada. Suami-suami yang tak puas dengan istrinya di rumah, mahasiswa, pengusaha, hingga konglomerat-konglomerat tokoh politik pernah ada bersama mereka. Naudzubillah.

Wanita di sana hanya ingin melayani. Mereka butuh makan. Mereka sudah tak peduli pada harga diri. Yang penting perut mereka terisi. Anak-anak mereka tetap bisa terurus meskipun malam harus bekerja. Bahkan hamil 5 bulan pun masih bisa bekerja. Subhanallah 😭

“Kau pikir orang-orang di luar sana tak melakukan dosa? Kau pikir, pelacur berada di dasar neraka; bukannya para pemimpun agama yang bersembunyi di balik tembok pesantren dan selalu melafazkan zikir tanpa mau beranjak keluar mengulurkan tangan untuk kita?” (hlm. 255)

Syukurlah tempat itu sekarang sudah dibubarkan. Semoga mereka yang dulu bekerja, telah menjadi manusia yang lebih baik dan mencari nafkah dengan halal.

Bahasan psikologis tidak membosankan

Selain itu, buku ini juga membahas psikologis yang tidak membosankan. Dan memang background Mbak Sinta adalah lulusan psikologi. Wajar jika banyak istilah psikologi yang dijelaskan dalam catatan di belakang. Secara nggak langsung ini nambah pengetahuan yang bagus untuk saya pribadi yang memang tertarik dengan dunia psikologi.

Poligami yang sering diserang

Isu poligami tak ketinggalan. Ochi yang harus menelan kenyataan pahit bahwa suaminya berniat menolong temannya, Vanya, harus membuat Ochi mengikhlaskan bahwa Yassir berniat menikahi Vanya.

Tapi Ochi wanita biasa. Ia terlihat kuat, tapi hatinya rapuh. Satu yang bikin salut adalah ia selalu menggantungkan semua hal pada Allah SWT. Masya Allah. Itulah yang membuat dia bisa menjadi istri yang tetap setia dengan suaminya.

Padahal isu poligami selama ini menjadi momok yang menakutkan. Karena siapa pula yang mau berbagi? Terlebih wanita yang menganggap bahwa hubungan dengan suami selalu terkait erat dengan perasaan yang dalam. Tapi kita bisa belajar dari Ochi. Bagaimana dia bisa tetap tenang. Hingga Allah berikan jalan yang indah pada akhirnya untuk dirinya.

Kekurangan buku

Sayangnya, banyak sekali kesalahan ketik bertebaran. Kebanyakan kurang huruf dan salah huruf.

Dan penjelasan-penjelasan istilah seperti bahasa Jawa dan istilah psikologi harusnya diletakkan di bawah saja seperti catatan kaki. Agar tidak harus membolak-balik buku terus ke belakang.

Semoga kalau dicetak ulang ada perbaikan 🙂

Mengaduk emosi dan terkandung pesan agama dan sosial

Poinnya buku ini cukup mengaduk-ngaduk emosi. Bahasan wanita malam menjadi titik utama cerita. Hingga tentang poligami pun ada.

Membawa pesan yang dalam. Bahwa wanita malam itu juga manusia biasa. Mereka ingin hidup dengan tenang. Tanpa harus terkotori dengan cara menjual diri. Mereka ingin dicintai oleh laki-laki yang tulus tanpa melihat mereka hanya dari ranjang saja.

Banyak juga nilai-nilai agama yang diselipkan. Selalu berulang-ulang ditekankan, ingat dosa dan mati. Bagian ini sangat bikin jleb.

Yang jelas, baca buku ini bikin saya berkesimpulan, setiap manusia punya ujiannya masing-masing. Tidak ada orang yang ingin terhina. Semua ingin hidup bahagia dan tenang.

Maka menghakimi hanyalah membuat mereka-mereka yang merasa terbuang menjadi semakin terbuang. Mereka butuh dirangkul. Butuh tempat untuk dipahami tanpa harus merasa sedang diceramahi. Karena ceramah agama belum tentu menyejukkan. Tapi lisan yang dijaga, akan selalu lebih baik 🙂

Selama ini kematian selalu mengakhiri segalanya, atau justru awal dari sebuah kehidupan? Ke mana jiwa itu pergi ketika tubuh sudah menjadi mangsa kegelapan, dingin yang panjang dan cacing yang tiba-tiba berkuasa? (hlm. 296)

Iklan

Thank you for not comment out of topic

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s