The Visual Art of Love: Tentang Seni dan Keluarga

Processed with VSCO with  preset

Judul: The Visual Art of Love
Penulis: Ary Nilandari
Penerbit: Pastel Books (Imprint Penerbit Kaifa)
Cetakan 1: Agustus 2018
Jumlah Halaman: 312 hlm.
ISBN: 978-602-6716-37-8

Akhirnya saya berkesempatan untuk baca novel dari Mbak Ary Nilandari. Dan ah, saya suka sekali dengan novel pertama yang saya baca ini. Dari mulai gaya tulisan, alur cerita, sampai nama-nama tokohnya yang tidak biasa 😍

Sinopsis Buku

Saya adalah penyuka buku, tapi tidak suka baca buku di toko buku haha. Lebih baik saya baca blurbnya sedikit, kalau tertarik ya ambil. Kalau tidak, skip haha. Tapi berbeda dengan Gemina. Mahasiswi yang kuliah dengan jurusan Desain Komunikasi Visual ini suka sekali duduk lama untuk membaca serial populer Algis yang jadi favoritnya.

Dari situ ia bertemu dengan IgGy (yap, huruf G kedua kapital), seorang penulis Trilogi Runako yang protes pada pegawai toko buku karena bukunya tidak laku. Gemina masuk dalam dunia IgGy setelah ia diminta mereview Trilogi Runako dan membuat ilustrasi novelnya itu.

Tak disangka, pekerjaan tersebut justru membuat Gemina terjebak dalam kehidupan pribadi IgGy dan segala persoalan peliknya. Yang ternyata diwujudkan di Trilogi Runako.

Nama-nama tokoh yang unik

Pertama, saya ingin mengatakan seperti yang saya tulis di awal, bahwa Mbak Ary begitu pandai memilih nama tokoh. Gemina (yang nama panjangnya Gemina Inesita), IgGy (Ignazio Garin Yudistra), Loka (Dyah Pitaloka, walaupun nama ini mainstream, tapi panggilan Loka sama sekali anti maintsream kan? 😀), Elyaan, Runako, Algis dan Radmila. Ah, saya suka semua nama ini. Begitu unik dan masih mudah untuk dilafalkan dan enak didengar 😀

Bahkan nama lengkap IgGy, Runako, dan Algis dijelaskan maknanya. Apa artinya? Silakan baca sendiri hehe 😛

Cerita yang runut

Dari segi cerita, saya sangat bisa menikmati novel ini dalam waktu yang terbilang cukup cepat. Rasanya saya larut dalam kehidupan Gemina dan IgGy. Juga segala bentuk konflik dan emosinya. Gemina yang berusia 20 tahun, tapi ia mampu mendewasa dengan cara berpikirnya. Dan matang saat dihadapkan pada situasi sulit. Juga IgGy yang berusia 25 tahun dengan persoalan pribadinya yang pelik dan penuh dengan teka-teki.

Ceritanya begitu runut sejak awal. Diselingi dengan catatan Random IgGy yang ternyata merupakan potongan-potongan cerita secara keseluruhan yang menambah warna berbeda pada novel ini.

Saya terksesan bagaimana cara IgGy menulis random. Dan malah terpikirkan, rindu juga ya menulis diary haha.

Membahas seni sampai buku

Yang paling unik dari novel ini, sesuai judulnya, The Visual Art of Love, membahas tentang desain grafis, dan serba-serbi karya seni. Serta bagaimana penulis menyelipkan sebuah pesan yang berhubungan dengan seni.

Kehidupan adalah seni. Seni itu keseimbangan. Jadi, kehidupan itu keseimbangan. Dalam seni, ada tiga macam keseimbangan: simetris, asimetris, dan radial. (hlm. 86)

Saya juga suka dari cara Mbak Ary membahas tentang buku, penerbitan, toko buku, dan karya seni visual. Mbak Ary seperti ingin menyampaikan sisi lain sebuah buku dalam bentuk cerita di novel ini. Contohnya saja kutipan berikut:

IgGy sangat beralasan untuk memaksanya membaca Runako. Sangat beralasan untuk marah karena mendapat perlakuan buruk di toko. Tidak terlihat berarti tidak dibeli. Tidak dibeli berarti tidak dibaca, berarti tidak ada review, tidak ada rekomendasi dari mulut ke mulut, dan berarti tidak ada orang yang sengaja datang ke toko buku untuk mencarinya. Pada akhirnya buku diretur ke penerbit. Masuk gudang. Untuk suatu saat diobral dengan harga yang pasti menyakitkan hati penulis. (hlm. 41)

Ah, ternyata begitu proses sebuah buku. Mungkin itu sebabnya menjadi penulis buku memang bukan hal mudah. Sudah riset, mengorbankan waktu untuk menulis, lantas kalau bukunya tidak laku, ah 😔

Pesan yang tersirat tentang seni dan keluarga

Novel ini sangat mudah dicerna. Walaupun saya tidak bisa gambar, fotografi, tapi saya suka dengan segala hal yang berbau seni. Lukisan, desain, ilustrasi, komik, juga fotografi. Makanya, tokoh favorit saya di sini tentu saja Gemina. Dia digambarkan begitu pandai dalam mendesain dan selalu totalitas dalam pekerjaannya.

Jadi kesimpulannya, novel ini membahas seni dan buku dengan cara yang tidak biasa. Menyelipkannya dalam sebuah konflik pribadi bernama keluarga. Pertama, kita harus bisa menghargai karya seni. Karena ia dibuat dengan proses yang panjang juga butuh pengorbanan.

Menjaga jarak termasuk bentuk apresiasi terhadap artwork. (hlm. 112)

“Perusakan karya seni selalu terasa sebagai serangan pribadi terhadap penciptanya.” (hlm. 113)

Kedua, yang mungkin bisa saya tangkap adalah sebagaimana pun peliknya masalah keluarga, akan selalu ada jalan untuk kembali. Karena biar bagaimana pun, keluarga tidak pernah mengenal kata putus. Ia selalu melekat dalam diri dan hati.

“Selalu ada beragam versi pada satu permasalahan tergantung dari mana kamu memandangnya.” (hlm. 135)

Iklan

Thank you for not comment out of topic

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s