Perempuan yang Melukis Wajah: Cerpen yang Layak Dikoleksi

Processed with VSCO with  preset

Judul: Perempuan yang Melukis Wajah
Penulis: 8 Penutur Hujan (Ainun Chomsun, Fajar Nugros, Hanny Kusumawati, Karmin Winarta, M. Aan Mansyur, Mumu Aloha, Ndoro Kakung, Wisnu Nugroho)
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman: 176 hlm.
ISBN: 978-979-22-8551-2

Membaca kumpulan cerita pendek menurut saya punya keasyikkan sendiri. Kita disajikan berbagai macam cerita, bahkan dari beberapa sudut pandang dalam artian dari penulis berbeda, dan itu seru! Eh tentu saja sih kalau ceritanya tidak dengan bahasa yang tingkat tinggi haha. Karena jujur, sampai sekarang saya masih sulit mencerna cerpen-cerpen dari sastrawan kelas atas sekaliber Budi Darma atau Sapardi Djoko Pramono. Yah, dengan kata lain saya masih lebih mudah untuk baca cerita dengan bahasa yang ringan dan sederhana.

11 cerita di dalam buku Perempuan yang Melukis Wajah ini contohnya. Semua ceritanya sama sekali tidak ada yang bikin kening saya berkerut.

Sinopsis Cerita

Menariknya, semakin lama kita menghabiskan waktu bersama orang yang kita cintai, semakin sedikit kita merasa mengenalnya.  (hlm. 24)

Cerita-cerita pendek dalam buku ini tidak jauh bicara tentang cinta. Tapi bukan semata jatuh cinta, tapi juga tentang perpisahan, kerinduan, dan kenangan.

Cerita yang paling saya suka adalah cerita dari Aan Mansyur yang berbicara kisah cinta dalam hujan deras. Saat sang kekasih berbagi cinta dan berharap bahwa selalu ada hujan deras. Cerita ini punya plot yang mudah ditebak padahal. Tapi Mas Aan bisa mengemasnya dengan cara yang lucu.

Juga kisah yang menjadi tajuk buku ini, Perempuan yang Melukis Wajah. Seorang perempuan yang begitu mencintai kekasihnya meskipun ia telah pergi. Caranya mengenang membuat hati teriris. Dan ehm, memiliki ending yang tidak terduga.

Cerita yang bisa dibaca secara acak

Karena ini cerpen, maka kita boleh membacanya secara acak. Bahkan saya sendiri tidak perlu waktu lama untuk menghabiskannya. Karena memang ceritanya yang mudah untuk diikuti dan terus ketagihan dengan lanjutan cerita yang lainnya.

Buku ini juga memiliki layout yang berbeda. Jika biasanya buku memakai justify (rata kanan kiri), maka buku ini hanya ada rata kiri saja. Tapi entah kenapa tidak mengganggu. Malah dibuat asyik dengan font yang besar di setiap awal ceritanya.

Setiap cerita berbeda-beda. Ada yang hanya 2,5 lembar, tapi ada juga yang sampai 12 lembar.

Cerpen yang layak dikoleksi

“Setiap jalan punya tikungannya sendiri. Pada masanya nanti, kau akan sampai juga di ujung jalan itu: kearifan.” (hlm. 43)

Setiap pilihan punya konsekuensi yang harus ditanggung. Dan kita, kita sudah bukan anak-anak lagi. (hlm. 75)

Buku ini layak dikoleksi, setidaknya untuk menjadi hiburan. Ditulis oleh 8 orang yang berbeda, membuat buku ini lebih berwarna. Dan walaupun latar belakang mereka suka sastra, tapi cerpen-cerpen di dalamnya sangat bisa kita nikmati dengan cara yang sederhana 🙂

Iklan

Thank you for not comment out of topic

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s