Mahar untuk Maharani: Cerita Ringan Bagi yang Ingin Menikah

Mahar untuk Maharani.delinabooks

Judul: Mahar untuk Maharani
Penulis: Azhar Nurun Ala
Penerbit: lampudijalan
Cetakan Pertama: Desember 2017

Kalau ada penulis yang menerbitkan bukunya secara indie dan jadi favorit, maka Azhar Nurun Ala adalah jawabannya. Pertama kali baca blognya dulu, saya langsung jatuh hati pada setiap tulisannya. Makanya, saya nggak ragu untuk beli buku dia yang judulnya Ja(t)uh. Ya, itulah buku pertamanya yang saya punya. Tak disangka, ternyata Azhar masih produktif sampai sekarang. Bahkan masih saja setia dengan buku indienya. Entahlah, kenapa nggak di mayor aja sih, Zar? πŸ˜›

Ada 4 buku yang saya baca. Setelah menikah saya memang belum beli buku beliau lagi. Karena saya pikir, ceritanya kurang cocok bagi saya yang tidak galau lagi πŸ˜€ Tapi ketika Mas @hasyemiraws melaksanakan program Buku Bergilir yang pilihannya buku indie, maka tanpa pikir panjang saya langsung pilih buku Azhar yang judulnya Mahar untuk Maharani. Buku ini tergolong baru memang, baru tahun kemarin diterbitkan.

Sinopsis Buku

‘Orang bilang ada kekuatan-kekuatan dahsyat yang tak terduga yang bisa timbul pada samudera, pada gunung berapi, dan pada pribadi yang tahu benar akan tujuan hidupnya.’ (hlm. 48)

Jadi Mahar untuk Maharani ini berkisah Maharani tentunya sebagai salah satu tokoh. Tokoh utama, Salman, adalah mahasiswa yang sedang dilanda krisis dalam menyelesaikan skripsinya. Ketika ia memutuskan untuk pulang kampung, Salman ingin memberikan kejutan pada ibunya dengan memeluknya. Tapi alih-alih ibunya, malah Maharani yang sedang ada di rumahnya yang ia peluk.

Maharani pulang karena malu. Salman tak menyangka bahwa ia salah memeluk orang. Dan terkejut, karena orang yang dipeluknya adalah teman semasa kecilnya dulu yang sangat tomboy dan kini berubah jadi anggun dan berhijab.

Bisa ditebak arah ceritanya, Salman menjadi suka dengan Maharani. Tapi masalah justru hadir dari ayahnya Maharani. Pak Umar tegas sekali soal siapa pria yang bisa menikahi Maharani. Pak Umar tidak ingin anaknya dinikahi oleh pria yang belum jelas masa depannya. Karenanya, Salman ingin membuktikan bahwa ia bisa.

Tapi waktu terus berjalan, Pak Umar mulai tak sabar. Sementara, hasil kerja Salman pun belum terlihat jelas hasilnya.

Buku yang ringan bahasanya

Saya kira bisa selesai dalam satu hari atau malah 2 jam seperti salah satu testimoni pembaca Mahar untuk Maharani. Nggak tahunya malah selesai lebih dari dua hari. Karena entahlah saya merasa kurang klik dengan buku Azhar kali ini. Dan sangat berbeda dibanding buku-buku Azhar yang sebelumnya saya suka. Di sini gaya penulisannya terkesan lebih santai, ringan dan remaja banget bahasanya. Haha, ternyata saya masih suka yang mendayu-dayu dengan diksi yang indah πŸ˜›

‘Para pecinta sejati tidak suka berjanji. Tetapi, ketika mereka memutuskan untuk mencintai, mereka akan segera membuat rencana untuk memberi’ (hlm. 105)

Tapi beberapa dialog dalam buku ini memang ada lucunya sih. Yah, bisa sedikit menghiburlah πŸ˜› Lagian kalau mantengin akunnya Azhar, sebetulnya dia juga seringkali bikin insta story lucu. Apalagi kalau ngebahas anaknya si Salman πŸ˜€ Yap, buku ini sepertinya memang terinspirasi dari nama anaknya.

Awalnya sempat bingung, karena ada dua cerita dengan dua tokoh. Salman dan Ajran. Nggak tahunya, di pertengahan barulah dapat jawabannya.

Kekurangan buku

Kekurangannya kenapa di sini banyak sekali typo huhu. Ada dua kata yang diulang, misalnya membaca membaca (padahal cukup sekali aja), ada yang salah huruf, ada yang harusnya penulisan digabung malah dipisah (di jual seharusnya dijual), penulisan nama yang salah (harusnya Salman ditulis Ajran). Tumben banget soalnya begini. Biasanya buku-buku dia sebelumnya bersih dan rapi dari kesalahan ketik. Next dicetak ulang mudah-mudahan ada perbaikan yes.

Dan beberapa dialog banyak pakai kata anj*r nya. Menurut saya itu kasar sih 😦 Ya walaupun sama teman, cuma nggak enak aja dibaca πŸ™‚ *menurut saya lho ya πŸ˜›

Ringan dibaca bagi yang ingin menikah

Yah, pokoknya buku ini ringan banget buat dibacalah. Ceritanya khas remaja banget. Tapi remaja dewasa ya. Meskipun ringan, pelajaran yang bisa diambil dari novel ini bagus juga bagi orang yang ingin menikah. Tentang kesiapan kita sebelum menikah. Kalau belum siap, ya nggak usah maksa dengan pacaran, karena pacaran hanya menjerumuskan diri pada kemaksiatan. So, lebih baik puasa, belajar lagi, bekerja lebih baik, sembari menyiapkan diri dulu agar pantas menikah.

Jadi, buku ini juga secara nggak langsung bisa disebut juga novel islami sih.

Dan di sini khas nya Azhar masih terasa juga, karena masih banyak kutipan indah yang bertebaran πŸ™‚

Para pecinta sejati selamanya hanya bertanya ‘Apakah yang akan kuberikan?’ Tentang kepada siapa sesuatu itu diberikan, itu menjadi sekunder. (hlm. 240)

Eh ya, yang jelas, novel ini bikin saya jadi kepengen buat baca bukunya Anis Matta haha.

Iklan

Thank you for not comment out of topic

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.