Merindu Baginda Nabi: Cocok untuk Remaja Masa Kini

Merindu Baginda Nabi.delinabooks

Judul: Merindu Baginda Nabi
Penulis: Habiburrahman El Shirazy
Penerbit: Republika
Cetakan Pertama: April 2018
Jumlah Halaman: iv+176 hlm.
ISBN: 978-602-5734-199

Alhamdulillah bulan Juni bisa menyelesaikan 5 buku ๐Ÿ˜€ Setelah kemarin tertolong dengan 3 ebook sih hehe. Nah kali ini saya mau review buku fisik lagi. Kali ini buku fiksi. Dan sepertinya akan jadi satu-satunya buku fiksi yang saya baca di bulan ini. Karena emang kemarin lagi sibuk ngejar non fiksi untuk sebuah project *uhuk. Doakan semoga lancar ya projectnya hehe.

Merindu Baginda Nabi. Buku Habiburrahman El Shirazy inilah yang akan saya review. Buku ini semacam mengobati rasa kangen saya akan karya Kang Abik setelah dulu berhenti di buku Pudarnya Pesona Cleopatra. Yes, saya memang nggak pernah beli buku Kang Abik dari dulu ๐Ÿ™ˆ Buku Ayat-ayat Cinta dan Pudarnya Pesona Cleopatra saya baca karena dua buku itu saya pinjam dari kakak. Buku Merindu ini pun saya dapat dari hadiah giveaway di Instagram ๐Ÿ™ˆ Terima kasih untuk @afzhi_muslimah hehe.

Sejujurnya saya agak kecewa di buku Kang Abik kali ini. Rasanya tidak ada klik sama sekali seperti dua buku yang saya baca sebelumnya. Padahal saya tergiur dengan judulnya yang bagus, Merindu Baginda Nabi yang seperti biasa berlabel novel Pembangun Jiwa. Tapi entahlah buku ini lebih terasa seperti novel remaja. Beda dengan Ayat-ayat Cinta dan Pudarnya Pesona Cleopatra yang menonjolkan diksi yang agak tinggi dan ceritanya pun lebih berisi. Jadi ya, kalau mau bilang, buku ini sangat biasa sekali. Tidak ada yang “WAH”.

Sinopsis Buku

“bertakwalah kepada Allah, di mana saja kamu berada.” (hlm. 11)

Ceritanya berkisah tentang seorang gadis bernama Dipah yang dibuang ibu kandungnya sendiri dan diambil oleh seorang nenek bernama Mbah Tentrem yang kemudian merawatnya. Setelah Mbak Tentrem meninggal, Dipah lalu berubah nama menjadi Rifa dan dirawat oleh sepasang suami istri bernama Pak Nur dan Bu Salamah.

Saat itu Rifa sudah kembali ke Indonesia setelah sebelumnya mendapat kesempatan untuk mengikuti pertukaran pelajar di Amerika. Rifa pun kembali ke kehidupan sehari-harinya menjadi bagian dari santri Pondok Darus Sakinah dan siswi di SMA Nasional 33 Malang. Ya, setting novel ini adalah Malang, Jawa Timur.

Digambarkan Rifa anak yang biasa, tapi memiliki sifat yang ramah dan cerdas. Itu sebabnya banyak orang yang menyayanginya. Ini juga berkat didikan Abah dan Uminya, Pak Nur dan Bu Sal yang memang menjunjung kesederhanaan. Hingga remaja, Rifa mampu mencetak banyak prestasi di sekolahnya.

Lubang-lubang di novel ini

Saya akui saya agak bingung menjelaskan sinopsisnya. Ceritanya lebih banyak berpaku pada Rifa. Sementara judul dan blurb tentang kerinduan Abahnya pada sang Nabi sangat minim diceritakan. Bahkan kalau saya bilang hanya terasa paksa disisipkan, itu pun di bagian menjelang akhir ๐Ÿ˜ฆ Untuk sholawat nabi yang menggambarkan kerinduan itu pun hanya disebut beberapa kali.

Terus ada kesan menggurui lewat tokoh-tokohnya. But, ini masih bisa dimaklumi sih. Sepertinya memang sudah jadi ciri khas Kang Abik ya berdakwah lewat tokoh-tokoh di dalam novelnya.

“Teman terbaik kalian dalam menghadapi tantangan hidup adalah iman dan ilmu. Ilmu adalah investasi terbaik yang akan terus mendatangkan keuntungan setiap saat.” (hlm. 89)

Kekurangannya di dalam novel ini beberapa kali masih terjadi salah ketik. Dan kata tidak baku dicetak miring. Padahal kalau itu terjadi di dalam percakapan sih sepertinya tidak masalah ya tidak dicetak miring. Memang percakapannya menggunakan bahasa baku. Dan menurut saya ini cenderung kaku jadinya untuk percakapan sehari-hari.

Lalu kata syahadat, pertanyaan saya kenapa huruf A nya harus besar? Awalnya saya kira typo, tapi ternyata beberapa kali disebutkan bentuk penulisannya sama. Kenapa harus ditulis syAhadat? Saat saya googling soal ini sepertinya tidak ada penjelasan. Ya penulisan bakunya tetap saja syahadat.

Di halaman 115 teman Rifa bertanya tentang makna sholawat nabi. Sampai akhir novel, penjelasan itu tidak pernah ada. Jadi terasa menggantung begitu saja. Padahal bagus juga kalau penjelasannya bisa disisipkan di cerita ๐Ÿ˜ฆ

Ada lagi di halaman 164 tentang adik kelas Rifa yang sudah boleh bawa motor. Duh, padahal masih di bawah umur kan ya ๐Ÿ˜ญ Sebetulnya boleh nggak sih? Soalnya dibilang adik kelasnya Rifa, dan kayaknya anaknya belum 17 tahun berarti kan? Huhu.

Yang jelas saya merasa banyak lubang di novel ini. Dan sama sekali tidak puas setelah membacanya ๐Ÿ˜ฆ Ditambah terasa lamban sekali. Jadi baru selesai hampir 1 bulan karena bacanya tersendat-sendat hiks.

Sangat cocok untuk remaja masa kini

Tapi saya bisa bilang kalau novel ini sangat cocok untuk remaja masa kini. Daripada baca novel fiksi cinta mulu ye kan? ๐Ÿ˜› Bahasanya ringan sekali. Dari segi cerita juga lekat dengan kehidupan remaja. Dan insya Allah banyak hikmah yang bisa diambil dari novel ini. Terutama tentang kecintaan pada Allah dan kerinduan pada Baginda Nabi ๐Ÿ™‚

“kalau bepergian biar selamat, banyak-banyak baca shalawat, dijaga Allah. Kata ibu saya Allah akan kirim malaikat jaga kita.” (hlm. 138)

Iklan

Thank you for not comment out of topic

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s