Holy Mother: Teka-teki dan Tentang Perjuangan Ibu

Holy Mother

Judul: Holy Mother
Penulis: Akiyoshi Rikako
Penerjemah: Andry Setiawan
Penerbit: Haru
Jumlah Halaman: 284 hlm.
ISBN: 978-602-7742-96-3
Cetakan Kedua: Januari 2017

Berita menggegerkan datang dari Kota Aiide tempat Honami tinggal. Pasalnya telah ditemukan sesosok mayat anak laki-laki berumur empat tahun di pinggiran sungai Aiide. Hal ini sangat membuat Honami khawatir pada anak perempuan satu-satunya.

Terang saja kasus penemuan mayat yang konon dibunuh dan diperkosa ini membuat Honami begitu khawatir.  Ia teringat kembali bagaimana perjuangannya untuk bisa hamil dan melahirkan seorang anak. Sebelumnya berbagai cara telah Honami lakukan. Menjalani berbagai macam pemeriksaan dan perawatan kemandulan. Bahkan suaminya, Yasuhiko pun juga menjalani pemeriksaan. Hingga akhirnya ia dinyatakan hamil dan bisa melahirkan seorang anak perempuan. Maka dari itu, setelah anaknya lahir, dengan segenap jiwa raga, ia selalu melindungi anaknya.

Sayangnya, Honami tidak bisa mempercayai pihak kepolisian. Sampai ada kasus pembunuhan kedua pun Honami masih tidak bisa mengandalkan kepolisian. Lantas bagaimana caranya Honami melindungi putri tunggalnya itu?

Seorang ibu yang melindungi anaknya akan mengarahkan seluruh kekuatannya. (hlm. 18)

-x-

Novel ini penuh dengan teka-teki. Bagian demi bagiannya benar-benar runut. Kalau tidak diikuti sampai akhir, saya jamin pembaca tidak akan dapat cerita besarnya. Sungguh tidak terduga pokoknya.

Detektif-detektif yang dilibatkan dalam menguak kasus pembunuhan dan pemerkosaan juga mewarnai cerita di dalamnya. Dugaan demi dugaan sampai saya sendiri rasanya tidak sabar ingin membuka halaman akhirnya >_< Tapi tetap saja kalau tidak benar-benar diikuti ceritanya malah jadi bingung sendiri -_-

Selain itu, cerita Honami yang berjuang untuk bisa hamil cukup mengharukan bagi saya. Bahkan segala pemeriksaan dan perawatan kemandulannya benar-benar dijelaskan secara ilmiah dan sudah dicek kebenarannya oleh Kepala Klinik Reproduksi Cabang Osaka, Matsubayashi Hidehiko.

Meski saya tidak merasakan perjuangan begitu kerasnya seperti Honami, tapi tetap saja, saya tahu bagaimana rasanya bisa mengandung seorang anak. Sungguh, itu adalah pengalaman paling berharga dan tidak tergantikan bagi seorang perempuan.

Maka wajar ketika Honami merasa harus keras berjuang untuk melindungi putri satu-satunya.

“… seorang anak benar-benar berharga. Sebelum dia lahir, kami benar-benar satu tubuh. Meskipun sesudah lahir kami berpisah menjadi dua tubuh, saya merasa bahwa kami terhubung lewat pusar kami. Meskipun kami berjauhan, rasanya anak itu ada di sisi saya. Antena saya selalu mengarah kepada anak saya. Ibu itu sosok yang hebat. Karena itu, menurut saya perasaan seorang ibu tidak bisa dianggap remeh.”

Setelah novel ini, rasanya saya semakin suka dengan gaya menulis Akiyoshi Rikako. Yah walaupun ini baru novel keduanya yang saya baca, tapi sepertinya Akiyoshi selalu berhasil membuat pembacanya menduga-duga semua teka-teki ceritanya.

Baca: Girls in The Dark

So, recommended!

Iklan

Thank you for not comment out of topic

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s