Seribu Kerinduan: Kerinduan yang Lemah

picsart_11-21-09-37-32

Judul: Seribu Kerinduan
Penulis: Herlina P. Dewi
Penerbit: Stiletto Book
Cetakan I: November 2013
ISBN: 978-602-7572-19-5

Aku ingin melupakan semua kesunyian malam ini,
itulah sebabnya aku menulis,
agar aku bisa mengubah senyap menjadi rindu,
gelap menjadi kenangan,
dan beku menjadi cinta.
(Renata Kumala – fashion editor novelist) (hlm. 9)

Perjodohan Panji yang dilakukan orang tuanya, membuat Renata harus mengakhiri hubungannya dengan Panji yang sudah dijalani selama empat tahun. Panji tidak mampu mempertahankan hubungannya dengan Renata dan harus mengalah pada orang tuanya untuk menikahi perempuan lain. Hidup Renata jadi berantakan, karirnya sebagai fashion editor pun harus kandas karena sering terbengkalai akibat rasa patah hatinya.

Kepingan-kepingan kenangannya bersama Panji, membuat Renata kian terpuruk. Hari-harinya ia habiskan hanya untuk mengenang Panji. Satu per satu tempat ia datangi demi bisa mengenang Panji.

Hingga suatu malam, Renata bertemu Dion. Yang mengantarkannya pada kehidupan baru. Pekerjaan baru yakni sebagai pelacur. Dengan pekerjaan baru inilah, Renata merasa dicintai, dihargai, dibutuhkan, dan disanjung.

“… banyak juga kok wanita penghibur yang lahir dari mereka yang kecewa terhadap hidup. Nggak semata-mata karena butuh uang, tapi sekadar untuk balas dendam. Mereka menganggap kehidupan telah menjadikannya sebagai objek penderita, makanya mereka bertindak sekaligus sebagai pelaku dalam kehidupan.” (hlm. 22)

-x-

Ceritanya cukup membuat saya geregatan. Ingin sekali berteriak seandainya saya ada di dekat Renata, “come on, laki-laki dewasa yang tidak mampu mempertahankanmu, ia sudah menjadi pecundang. Tidak pantas kau tangisi, apalagi membuat hidupmu hancur dan karirmu berantakan.” Tapi ah, orang bilang komentar itu memang mudah. Siapa yang tidak sedih ketika hubungan pacaran sudah berjalan empat tahun, lantas harus kandas begitu saja karena ditinggal menikah. Terlebih kenangan demi kenangan yang tentu sulit dilupakan.

ketika perempuan sedang sedih dan patah hati, dia hanya perlu seorang teman untuk berbicara. (hlm. 152)

Maka begitulah kenapa novel ini diberi judul Seribu Kerinduan. Kerinduan Renata dengan Panji, kenangan-kenangannya selama bersama Panji, hingga membawanya pada kehidupan dan pekerjaan baru sebagai pelacur. Semua atas nama Panji. Semua karena Panji.

“Ren, sometimes, we need to stop blaming the past and start creating the future. Kalau kita terus-terusan menyalahkan masa lalu, kita justru akan terus hidup bersamanya, dan semakin sulit membebaskan diri.” (hlm. 175)

Diceritakan dengan alur maju mundur. Mundur untuk menceritakan hubungan Renata bersama Panji, hingga awal dari perjodohan Panji dengan perempuan lain. Dan maju untuk menceritakan kondisi Renata saat ini.

Dari segi penulisan, saya suka cara bertutur Mbak Herlina. Membuat saya sulit berpaling dari novel ini.

So, dua bintang untuk buku ini. Saya tidak bisa bilang suka juga. Karena saya tidak suka dengan tokoh utamanya, Renata. Ya, buat saya Renata terlalu lemah. Mengapa ia harus membiarkan hidup dan karirnya hancur karena seorang laki-laki? Kalau laki-laki saja bisa dengan ringan meninggalkan dirinya, ia pun punya kesempatan yang sama kan. Untuk mencari laki-laki yang lebih baik. Lebih dari segala-galanya *eh baper -_-

Iklan

Thank you for not comment out of topic

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s