Pengontrol Beli Buku

giveaway-aku-dan-buku

Kalau dibilang kehidupan sebelum dan sesudah menikah ada bedanya, itu benar! Sama halnya dalam dunia perbukuan atau lebih tepatnya dunia per-beli-bukuan hahaha.

Beli buku

Jadi begini, saya zaman single dulu bisa dibilang kurang teratur dalam banyak hal. Terutama soal beli buku! Iya sih, kalau ke toko buku saya jarang beli buku. Tapi saya tidak akan menutup mata dari toko buku online -_- Semisal lagi ada keluaran buku terbaru yang bagus apalagi dari penulis favorit, biasanya saya langsung cari via online. Karena ya lebih murah, ihiy.

Tidak cuma sampai situ, kalau ada obral buku pun, bisa dipastikan saya akan hadir. Selama saya bisa, pasti akan saya datangi. Sekalipun itu berarti saya harus siapin kocek yang tidak sedikit. Ya buat ongkos, buat makan di jalan, apalagi buat beli bukunya. Alhamdulillahnya saya masih realistis. Kalau uang pas-pasan ya saya beli memang yang benar-benar bagus saja. Terlepas dari sebenarnya saya ingin, tapi saya tidak mau esoknya malah nggak punya uang -_-

Saya dulu bisa sering beli buku meskipun orang tua sudah sering geleng-geleng. Karena dulu merasanya saya beli pakai uang sendiri -_- *duh maafkan ya ibu, ayah 😦 Berbeda saat setelah menikah, saya mulai punya pengontrol, yakni suami. Memang, ini karena saya sudah tidak bekerja, jadi kalau saya mau ke toko buku atau ngebet dateng ke pameran buku, ya harus seizin suami. Mana pula saya sudah tinggal di Surabaya, yang lokasinya banyak belum saya kenal. Alhasil kemana-mana memang harus diantar suami.

Beli online? Bisa sih. Tapi begini masalahnya, timbunan saya dari zaman single dulu itu masih buanyak. Meskipun sebagian besar adalah hadiah, tapi cukup bikin suami untuk tidak mudah mengizinkan saya membeli buku. Suami bilang, “itu aja belum habis dibaca, mau beli buku lagi?” Huhu padahal motto saya itu, “punya dulu baca kemudian.” Apalagi kalau ada promo pre order, diskon, atau buy 1 get 1, or everything about promo! Ya karena promo nggak setiap hari kan 😦

Ngomongin promo, sebenernya saya juga sedih dan cukup bisa merasakan sebagai penulis bagaimana rasanya ketika bukunya dijadikan obral besar-besaran. Sebab saya tahu menulis buku itu nggak gampang! Butuh riset sekalipun itu buku fiksi, butuh pemikiran, butuh pengorbanan waktu, dan lain-lainnya. Tapi tidak munafik, sebagai pembaca, saya pun suka dengan obralan 😦 Maka itu, semoga semua penulis diberi amal jariyah yang banyak karena tulisannya. Apalagi sampai bermanfaat bagi orang banyak. Aamiin.

Suami, pengontrol beli buku

Kembali lagi, kesimpulannya sekarang saya tidak mudah membeli buku seperti dulu lagi. Bukan semata karena dikontrol suami, tapi saya pernah berpikir ada untungnya juga saya punya suami.

Pertama, saya tidak gegabah seperti dulu. Buku apapun yang saya inginkan, pasti saya lihat seberapa besar manfaat yang bisa saya dapatkan dari buku itu. Kalau cerita atau tulisannya nggak cocok sama kehidupan saya sekarang, buat apa dibeli.

Kedua, saya lebih memikirkan hal lain yang lebih penting. Bukan, bukan saya menganggap buku itu tidak penting. Tapi kembali lagi ke poin pertama, manfaat apa sih yang bisa saya dapatkan dari buku yang akan saya beli?

Ketiga, anak jadi prioritas utama saya. Saya ingin anak saya juga menyukai buku seperti orang tuanya. Yap, suami juga suka baca buku sebenarnya, hanya saja dia memang lebih selektif daripada saya -_- Jadi yang saya utamakan mencari buku yang cocok untuk anak. Biar nanti setelah anak saya siap membaca, dia sudah punya tabungan buku 🙂

Terakhir, meski pun suami mengontrol, beliau masih suka kok membelikan saya buku 😀 Meskipun lebih banyak buku-buku non fiksi yang beliau beli atau rekomendasikan. Saya tetep seneng sih, karena itu artinya suami lebih peduli dengan konten bukunya. Dan nggak tahu ya, buat saya melihat buku atau tumpukkan buku itu seneng aja sih 😀

Well, saya beruntung punya suami. Dengan adanya beliau, sekarang saya lebih bisa mengontrol diri dan tidak gegabah untuk beli buku 🙂 Selain baik untuk diri saya, juga baik untuk keuangan keluarga, muehehehe 😀

Postingan ini diikut sertakan dalam Giveaway Kisah Antara Aku dan Buku

Iklan

5 thoughts on “Pengontrol Beli Buku

  1. Kalau sekarang saya udah mulai bisa pilih2 buku yang dibeli, soalnya dulu setiap kali ada obral pasti mampir dan beli, kadang gak jelas buku apa, apalagi saat single dan di Bandung… Sekarang masih hobi jajan buku, suami gak bisa kontrol juga karena kerjaannya jualan buku, ada yang bagus, ambil :p #getok

    Pengen ikutan giveawaynya

Thank you for not comment out of topic

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s