Corat-coret di Toilet: Sebuah Kisah yang Dekat dengan Kita

img_20161101_171505_hdr-01

Judul: Corat-corat di Toilet
Penulis: Eka Kurniawan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan Ketiga: Juni 2016
ISBN: 978-602-03-2893-5

Ini pertama kalinya saya membaca karya Eka Kurniawan. Padahal sudah cukup sering membaca berbagai review novelnya yang bertebaran dimana-mana, seperti Cantik Itu Luka; Lelaki Harimau; ataupun Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Karya-karyanya memang cukup banyak dikenal masyarakat, terutama penyuka tulisan-tulisan sastra.

Dan apa yang dikatakan para pembacanya, tentang Eka Kurniawan yang mampu menulis sebuah karya sastra dengan gaya khasnya, saya setuju. Meski pun Corat-coret di Toilet sendiri hanyalah berupa cerpen. Tapi saya pastikan bahwa saya juga suka!

Dari 12 cerita yang ada, ada empat cerita pendek yang menjadi favorit saya.

Dongeng Sebelum Bercinta

Bercerita tentang Alamanda yang dijodohkan orang tuanya dengan sepupunya sendiri. Namun, dari sebelum hari pernikahannya, Alamanda meminta kepada calon suaminya untuk mendengarkan dongeng Alice’s Adventures in Wonderland sebelum mereka bercinta. Karena calon suaminya mencintainya, maka diterimalah syarat itu. Sayangnya, lebih dari sebulan setelah menikah, Alamanda tak jua menyelesaikan dongengnya.

Alamanda bangkit dan duduk di tepian tempat tidur, memandang si suami yang ngorok tanpa malu. Kasihan juga sebenarnya. Tapi bagaimana lagi, dongengnya sebelum bercinta ia anggap sebagai perlawanan terhadap kekolotan tradisi keluarganya. (hlm. 15)

Cerita ini memiliki alur yang menarik bahkan ending yang tidak terduga.

Corat-coret di Toilet

Seorang bocah yang berumur dua puluh tahun, berpakaian gaya anak punk, dan terkagum-kagum dengan dinding toilet yang polos. Dicarilah spidolnya, dan dia mengeluarkan aspirasinya dengan tulisan, “Reformasi gagal total, Kawan! Mari tuntaskan revolusi demokratik!” (hlm. 22) Demikian seterusnya, setiap kali orang-orang yang masuk toilet tersebut selalu mencari alat untuk membalas tulisan si bocah tadi. Hingga akhirnya, penuhlah toilet dengan berbagai coretan yang mengkritisi negara dan pemerintahan.

“Semua orang tahu belaka, toilet itu dicat agar tampak bersih dan terasa nyaman. Sebelumnya, ia menampilkan wajahnya yang paling nyata: ruangan kecil yang marjinal, tempat banyak orang berceloteh. Dindingnya penuh dengan tulisan-tulisan konyol yang saling membalas, tentang gagasan-gagasan radikal progresif, tentang ajakan kencan mesum, dan ada pula penyair-penyair yang puisinya ditolak penerbit menuliskan seluruh master piece-nya di dinding toilet. Dan para kartunis amatir, ikut menyemarakan dengan gagasan-gagasan ‘the toilet comedy’. Hasilnya, dinding toilet penuh dengan corat-coret nakal, cerdas maupun goblok, sebagaimana toilet-toilet umum di mana pun: di terminal, di stasiun, di sekolah-sekolah, di stadion, dan bahkan di gedung-gedung departemen.” (hlm. 27-28)

Menariknya, Eka pintar meramu cerita yang amat dekat dengan kita. Sebagaimana kita tahu bahwa dalam toilet-toilet umum kadang juga penuh dengan coretan-coretan. Barangkali sama halnya dengan kasus cerita di atas, dimana ada yang memulai, disitu ada yang melanjutkan. Terlepas dari apapun tulisannya.

Si Cantik yang Tak Boleh Keluar Malam

Di hari ulang tahunnya, seorang perempuan yang cantik meminta hadiah pada orang tuanya untuk diizinkan keluar malam. Sayangnya orang tuanya tidak mengizinkan. Bahkan sekalipun itu dengan sahabatnya. Maka berlalu begitu saja malam-malamnya, tanpa ia bisa menghadiri pesta, berkemah di pinggir pantai, atau nonton, atau apapun menghabiskan malam di luar rumah.

Si Cantik terbangun di pagi hari oleh mimpi buruk olok-olok temannya. Karena semua orang tua tahu belaka kalau ia tak boleh keluar malam. Kalaupun bisa keluar, Si Cantik akan dikawal oleh pasangan penjaga yang aneh: si ayah yang galak dan si ibu yang tak berdaya.(hlm. 61)

Mungkin cerita ini juga amat dekat dengan kita. Beberapa orang tua terlalu khawatir dengan anak perempuannya untuk keluar malam. Yang meskipun sang anak tidak menyetujui, pada kenyataannya karena orang tua merasa bahwa keluar malam sangat tidak baik bagi keamanan anak perempuannya.

Kandang Babi

Edi Idiot, begitulah dia biasa dipanggil. Ia tinggal di fakultas yang nyaman – senyaman kandang babi. Hingga suatu hari, ia diusir dari kandang babinya dan pindah ke pos satpam kosong, yang disebutnya sebagai kandang monyet. Sayang, hantu-hantu malam yang berkeliaran dan anjing yang mengendus-endus kakinya setiap pagi, membuatnya tidak betah. Sampai dia berpikir untuk mencari uang demi pindah ke pondokkan yang nyaman.

Empat tahun telah berlalu, dan itu membuatnya betah tetap tinggal di kandang babinya; istananya yang paling hebat. Tak ada Induk Semang yang Bengis yang siap monyong dan melotot jika ia membawa gadis cantik ke dalam kamarnya )kemudian pintunya dikunci dan mereka berdua menabung bekal untuk di neraka). Juga tak ada Induk Semang yang Serakah yang akan menagih uang pondokan (hlm. 105)

Apa yang membuat saya suka sebenarnya ada di ending ceritanya. Bagaimana ia bisa berpikir saat situasi kepepet, tapi justru keputusan yang tidak terdugalah yang diambilnya.

Yap, keempat cerita itulah yang menarik minat saya. Saya paham mengapa Corat-coret di Toilet yang dijadikan judul kumpulan cerpen ini. Karena memang sudah seperti yang saya katakan di atas, cerita ini benar-benar dekat dengan kita. Dengan cerita yang diramu sederhana, nyatanya memang mampu menggambarkan situasi di negeri ini.

Well, kalau teman-teman sedang mencari cerpen berbau sastra namun tidak berat, saya rasa buku ini bisa dijadikan referensi 🙂

Selamat membaca!

Iklan

2 thoughts on “Corat-coret di Toilet: Sebuah Kisah yang Dekat dengan Kita

  1. Kayaknya bagus ya, pengalamanmu baca buku Eka baru yang Cantik Itu Luka, antara suka dan ngeri. Suka karena latar sejarahnya, tapi ngeri karena vulgarnya… tapi aku jadi penasaran juga sama kumcer yang ini 🙂

Thank you for not comment out of topic

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s