The 7 Laws of Happiness: Memilih Pikiran

img_20161018_102158_hdr-01

Judul: The 7 Laws of Happiness
Penulis: Arvan Pradiansyah
Penerbit: Integritas Lestari Manajemen
Cetakan I: Mei 2015
ISBN: 978-602-72468-5

jika kita ingin mempertahankan atau bahkan meningkatkan kebahagiaan, maka yang harus kita kelola adalah pikiran kita. Kuncinya adalah menyaring agar hanya “makanan-makanan” yang positif yang boleh kita konsumsi. (hlm. 23)

Jika kalian memilih antara kesuksesan dan kebahagiaan, mana yang harus lebih dulu diutamakan? Mungkin dari kita masih banyak yang berpikir bahwa kesuksesanlah yang akan membuat kita bahagia. Kita harus memiliki segalanya dulu, baru kita bisa bahagia. Tapi sayangnya, penelitian-penelitian terbaru membuktikan bahwa jika kita bahagia, maka otak kita akan mengeluarkan hormon dan zat kimia yang membuat kita merasa nyaman, dan ini akan membuat kita bersemangat dan mengeluarkan yang terbaik dari diri kita sehingga kesuksesan akan lebih mudah diraih. (hlm. 19) Ya, dengan penjelasan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa kebahagiaanlah yang harus lebih dulu diutamakan.

The 7 Laws of Happiness, menjabarkan ada 7 rahasia yang dapat dilakukan untuk membuat kita bahagia. Karena sesungguhnya, apa sih yang dicari di dunia ini selain kebahagiaan tadi? Kita bekerja, berusaha, menikah, punya anak, semata karena ingin bahagia. Tinggal pertanyaannya, bagaimana jika pada kenyataannya hidup tidak pernah semulus itu? Akan selalu ada riak-riak kecil yang harus kita hadapi.

Maka Arvan Pradiansyah, membagi rahasianya ke dalam tiga bagian. Hubungan dengan diri sendiri (intrapersonal relation), orang lain (interpersonal relation) dan Tuhan (surrender)

Sukses berarti mendapatkan apa yang Anda inginkan, sementara bahagia adalah menginginkan apa yang Anda dapatkan. (hlm. 48)

Intrapersonal relation

Langkah yang pertama kali dilakukan untuk bahagia, tentu saja harus dimulai dari diri sendiri. Maka dari itu, intrapersonal relation lebih menitikberatkan hubungan kita dengan diri sendiri. Yakni Sabar (Patience), Bersyukur (Gratitude), dan Sederhana (Simplicity). Dengan kata lain, intrapersonal relation adalah bentuk penerimaan pada diri sendiri.

Dikatakan di sini, bahwa seringkali kita keliru. Banyak orang yang bersabar di kala susah dan bersyukur di kala senang. Padahal, hal ini tidak sepenuhnya tepat. Bersabar sebenarnya juga dibutuhkan manakala kita senang. Dan bersyukur juga diperlukan manakala kita sedang susah. Sedangkan kesederhanaan merupakan kunci dari segalanya. Agar kita bisa menghadapi segala permasalahan dengan cara sederhana dan tidak terfokus pada hal-hal yang teknis dan terperinci.

Rahasia kesederhanaan akan selalu mengingatkan kita akan esensi dari sebuah masalah dan tujuan besar. (hlm. 134)

Interpersonal Relation

Setelah damai dan menerima diri sendiri dengan intrapersonal relation, maka selanjutnya kita masuk tahap dua. Yakni hubungan antara kita dengan orang lain. Dengan kata lain, melepaskan.

Ada tiga poin, yakni Kasih (Love), Memberi (Giving), dan Memaafkan (Forgiveness). Urutan ini tidak dapat dibalik, sebab kasih adalah paradigmanya, cara berpikir, dan niatnya. Kasih adalah melihat orang lain sebagai yang perlu disayangi. Inilah inti dari segala bentuk hubungan antarmanusia. Kasih inilah yang menjadi dasar dari Memberi dan Memaafkan. (hlm. 135)

Spritual Relation

Kita belum mencapai kedamaian yang utuh dengan damainya kita dengan diri sendiri dan orang lain. Maka dari itu, pada bagian ke tiga ini, sangat penting untuk kita menjalin hubungan yang baik dengan pencipta kita, Tuhan Yang Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang.

Jika kita membutuhkan tiga rahasia pada hubungan dengan diri sendiri dan orang lain, maka hubungan dengan Tuhan hanya membutuhkan satu rahasia, yakni Berserah (Surrender). Berserah ini merupakan bentuk tertinggi dan perjuangan puncak dari setiap manusia. (hlm. 136)

ketergantungan kita serahkan sepenuhnya bukan kepada kondisi yang ada di sekitar kita, tetapi pada Tuhan, bukan kepada hawa nafsu dan orang-orang di sekitar kita. (hlm. 137)

Dari ketiga bagian-bagian ini, semuanya dijabarkan lagi dalam poin-poin yang lebih rinci. Yang tentu saja akan menjadi panjang sekali ulasannya jika saya jabarkan.

Pak Arvan mengakui bahwa buku ini terinspirasi dari The 7 Habits of Highly Effective People karya Stephen Covey. Bedanya ialah, jika inti dari The 7 Habits adalah memilih tindakan, maka di The 7 Laws of Happiness ini ialah tentang Memilih Pikiran. Maka itulah dua kata yang menjadi kesimpulan dari buku ini. Ya, kebahagiaan sesungguhnya adalah bagaimana cara kita mengisi pikiran kita. Kita dapat memilih pikiran apa yang ingin kita masukki. Apakah yang negatif, atau positif. Yang tekniknya bisa kita pelajari dari 7 rahasia untuk hidup bahagia tadi.

Well, empat bintang untuk buku ini. Recommended bagi siapa saja yang ingin hidupnya bahagia. Bahasanya juga sangat mudah dipahami. Tidak hanya sebatas teori, melainkan kita juga akan disuguhkan beberapa contoh nyata, bahkan dari kehidupan Pak Arvan sendiri.

Jadi, kunci kemenangan sebenarnya ada di dalam pikiran kita dan sangat bergantung pada pikiran yang kita pilih. (hlm. 31)

Iklan

Thank you for not comment out of topic

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s