Reclaim Your Heart: Kembali pada Hakikat, Allah SWT

img_20161002_153200_hdr

Judul: Reclaim Your Heart
Penulis: Yasmin Mogahed
Penerjemah: Nadya Andiwiani
Penerbit: Zaman
Cetakan I: 2014
ISBN: 978-602-1687-38-3

hanya ada satu buhul tali yang amat kuat dan tidak akan putus. Hanya ada satu tempat kita bisa bergantung. Hanya ada satu hubungan yang menentukan nilai-diri kita dan hanya ada satu sumber bagi kita untuk mencapai kebahagiaan, kepuasan, dan keselamatan tertinggi. Satu tempat itu adalah Allah. (hlm. 21)

Sama sekali tidak menyesal saya membeli buku ini. Buku ini benar-benar memberi perspektif berbeda tentang kehidupan. Seperti yang tertera dalam blurbnya, buku ini tentang panduan hati mengarungi lautan kehidupan; tentang apa yang harus kita lakukan ketika terjebak dalam badai kehidupan; tentang menjaga hati kita agar tak tenggelam dalam samudra dunia. Buku ini juga tentang harapan, tentang penguatan, dan tentang pembaruan diri.

Seperti bejana apa pun, hati harus dikosongkan sebelum bisa diisi. Kita tak pernah bisa berharap untuk mengisi hati dengan Tuhan selama hati tersebut dipenuhi banyak hal selain-Nya. (hlm. 51)

Ya, semua bermula dari hati. Bahkan ada hadits “Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)”. Hati dalam diri manusia ibarat bejana. Begitulah yang digambarkan Yasmin Mogahed. Saat kita ingin mengisi bejana, maka sebelumnya bejana harus dikosongkan terlebih dahulu. Sama halnya jika hati kita masih dipenuhi oleh banyak hal selain-Nya, hati kita tidak akan sulit untuk diisi Tuhan kita, Allah SWT.

Bukan. Bukan berarti kita tidak boleh mencintai, bukan berarti kita tidak boleh melakukan hal bersifat duniawi. Hanya saja kita harus menempatkan dunia sebagai sarana, bukan tujuan akhir. Sayangnya, sering kali kita berlaku sebaliknya. Kita menempatkan Allah sebagai sarana. Kita baru mengingat-Nya di sela-sela dan saat kita sedang terhimpit. Padahal, sesungguhnya hanya Allah-lah tempat kita kembali. Dunia hanyalah sarana agar kita bisa menemui-Nya.

Dalam agama islam sendiri, kita mempunyai 5 rukun yang harus dilaksanakan.

1.Syahadat

Dalam syahadat, terdapat kalimat la ilaha (tak ada ilah). Ilah maksudnya adalah objek penyembahan. Tapi, sangat penting untuk dipahami bahwa ilah bukan sekedar sesuatu yang menjadi tujuan doa kita. Ilah adalah tempat hidup kita berputar, apa yang kita patuhi, dan apa yang paling penting bagi kita – di atas segalanya. ((hlm. 47) dan ilah kita tentulah Allah Azza wa Jala.

2. Sholat

Yang kedua sholat. Sebanyak lima kali sehari, disebar dalam waktu yang berbeda. Dengan tujuan agar kita mengalihkan fokus dari urusan dunia.

Bicara tentang sholat, ada satu kutipan yang menarik:

Mereka yang telah terjatuh dari jalan lurus hanya perlu melihat kembali ke tempat ia bermula; dan mereka akan mendapati bahwa itu dimulai dengan sholat. Hal yang sama persis berlaku sebaliknya. Bagi mereka yang ingin mengubah kehidupan, mulailah dengan berfokus pada sholat dan menyempurnakannya. (hlm. 181)

Sampai sini, saya pribadi menyadari, bahwa barangkali inilah mengapa sholat disebut tiang agama. Kita yang sedang terhimpit, terjatuh, kecewa, maka bukan pelarian lain yang kita cari. Tapi Allah dalam sholat kita lah yang harus dibenahi. Apakah sholat kita selama ini hanya gerakan dan guguran kewajiban. Atau kita benar-benar mengahayati makna setiap bacaan dalam sholat. Bab sholat ini memang cukup membuat saya jleb 😦

3. Puasa

Puasa berarti menahan diri. Dengan menahan lapar dan dahaga, tidak berhubungan seksual, tidak mengucapkan yang buruk. Dengan menahan atau mengendalikan diri ini sebabnya puasa dimaksudkan untuk melepaskan diri dari kebutuhan fisik, keinginan dan kesenangan kita (hlm. 49)

4. Zakat

Setiap bulan Ramadhan kita diharuskan untuk mengeluarkan sejumlah harta kita. Dengan ini kita dipaksa melepaskan diri dari ikatan kekayaan yang mungkin melenakan kita.

5. Haji

Berziarah ke Baitullah ini adalah ibadah yang tindakan pemisahan dirinya paling komprehensif dan mendalam. Seorang peziarah meninggalkan segala dalam hidupnya. Keluarga, rumah, gaji, ranjangnya, yang hangat, sepatunya yang nyaman dan pakaiannya yang bermerek, semuanya ditukar dengan tidur beralas tanah atau di dalam tenda yang penuh sesak dan hanya mengenakan dua helai kain sederhana. (hlm. 49-50)

Maka pada intinya, rukun Islam yang diciptakan bertujuan untuk memisahkan diri dari urusan dunia dan mengembalikan manusia pada hakikatnya, Allah SWT. Bahkan Allah juga berfirman dalam Al-Qur’an:

“Aku (Allah) tidak menciptakan Jin dan Manusia kecuali Aku ciptakan agar mereka menyembah kepada Ku ” QS. Adz-Zariyat: 56

Banyak sekali judul yang saya suka dalam buku ini. Salah satunya pada bab Hubungan dengan Sang Pencipta. Judulnya Facebook: Bahaya Tersembunyi. Kita tahu dalam dunia media sosial sekarang, kita cenderung ingin memamerkan segala sesuatunya. Tapi semua itu justru bisa mengganggu hidup kita. Kita menunggu berapa jumlah yang menyukai kita, berapa jumlah orang yang berkomentar di status atau postingan kita. Yang padahal itu bisa membuat kita menjadi terikat pada manusia. Semakin kita terikat, semakin kita mencintai manusia, semakin kita takut kehilangan muka, kehilangan status, pujian, dan persetujuan.

“Lepaskanlah diri terhadap dunia maka Allah akan mencintaimu, lepaskanlah diri terhadap apa yang ada di tangan manusia maka manusia akan mencintaimu. (HR. Ibnu Majah) (hlm. 207)

Satu lagi yang saya suka berjudul Tanggalkan Labelnya. Banyak muslim saat ini mencap dirinya muslim progresif, islamis, tradisionalis, salafi, pribumi atau imigran. Padahal label-label ini hanya akan memecah umat muslim. Saat muslim terpecah-pecah, maka bukan tidak mungkin tidak ada lagi persatuan, karena semuanya merasa diri paling benar. Padahal hakikat muslim hanya satu, sama-sama menyembah Allah.

Perbedaan tidak hanya ditoleransi, tetapi juga didorong sebagai rahmat dari Allah. (hlm. 247)

Pada bagian akhir buku ini, diisi dengan puisi-puisi renungan yang cukup menggugah.

Jangan menangis karena tertikam.
Itu untuk membebaskanmu dari rantai yang mengikatmu ke dunia,
yang membelenggu dirimu pada bayang-bayang jiwa.
Fatamorgana yang tak bisa memuaskan dahaga,
tapi tampak sangat indah bagi mereka yang kehausan  (hlm. 292)

Akhirnya, saya berani memberi 5 bintang untuk buku ini. Buku ini sangat bagus untuk menjadi bahan renungan kita. Mengajak kita untuk kembali menuju Allah dan memahami bahwa tujuan hidup ini adalah untuk beribadah kepada Allah. Begitu halnya dengan segala permasalahan dalam hidup ini, semua dikembalikan lagi pada Allah SWT.

 

Iklan

2 thoughts on “Reclaim Your Heart: Kembali pada Hakikat, Allah SWT

Thank you for not comment out of topic

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s