Tiada Ojek di Paris: Tentang Kesadaran Baru

img_20160922_161735-01

Judul: Tiada Ojek di Paris
Penulis: Seno Gumira Ajidarma
Penerbit: Mizan
Cetakan I: April 2015
ISBN: 978-979-433-846-9

Kehidupan urban, yang pertumbuhannya memang dibentuk pergulatan berbagai kepentingan, dengan segala keamburadulan yang diakibatkannya, adalah lahan subur untuk memeriksa usaha memapankan peradaban, dan membongkar mitosnya, agar kebudayaan bisa dilanjutkan. (hlm. 14)

Awalnya agak skeptis bagi saya membaca buku Seno Gumira Ajidarma. Setelah sebelumnya membaca karyanya yang berjudul Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara, cukup membuat kening saya berkerut. Padahal tipis sekali bukunya, tapi sayangnya saya memilih untuk tidak menyelesaikannya. Entahlah. Saat itu saya memang sedang tidak mood, atau memang otak saya yang tidak sampai -_-

Tak ubahnya saat awal saya membaca buku ini. Tapi begitu saya paksakan untuk melanjutkan, ough! Ternyata saya suka! Bahasanya tidak tergolong berat seperti buku KJDSHB tadi *singkatan macam apa ini ckck. Namun tergolong sangat ringan – saya rasa untuk ukuran penulis sastra semacam beliau.

Tiada Ojek di Paris. Adalah berawal tulisan untuk Djakarta! atas permintaan Daniel Ziv pada tahun 2000, dengan “pesanan” bahwa topik-topiknya adalah “tentang Jakarta”. Yang sudah tersusun dari sejumlah kolom dalam Affair (2004), Kentut Kosmopolitan (2008), maupun sejumlah kolom yang belum dibukukan dari Djakarta! free-mag sampai tahun 2013 (hlm. 13-14). Atau kata lainnya, tulisan-tulisan dalam buku ini adalah tulisan-tulisan lama. Meski begitu, saya rasa masih tetap relevan hingga saat ini.

Dengan kata lain, buku ini berisi pemikiran-pemikiran penulis tentang segala hal tentang Jakarta. Sebuah kota besar dengan masyarakat urban nan modern. Dengan segala serba-serbinya. Mulai dari masyarakat, keadaan kotanya hingga tradisi-tradisinya. Rutinitas perkantoran, kemacetan yang terjadi hingga kesibukan dimana-mana. Yang disebutnya sebagai Homo Jakartensis.

Sebut saja beberapa judul yang saya suka. Kopi; Premanisme; Antara New York dan Jakarta; Mengenal orang Jakarta: Mungkinkah?; Motorcycle People; Jakarta Tanpa Indonesia, Mungkinkah?; Masihkah Jakarta Berarti Kemenangan; Paranoia; Sarapan Berita; Atas Nama Infotainment. *lho banyak ya :v

Membaca buku ini, barangkali khususnya orang Jakarta itu sendiri, harus berbesar hati. Sebab akan banyak sekali kalimat-kalimat sindiran *upz. Tapi tenang saja, saya rasa sindiran-sindiran itu cukup bisa membuat kita membuka mata. Kemudian berpikir dan menimbang bahwa ternyata banyak sekali yang harus diperbaiki. Bukan saja di Jakarta, tapi mungkin juga relevan untuk negara tercinta kita ini.

Contoh saja dari beberapa judul yang saya suka tadi:

Kita memang bicara tentang dunia kopi internasional, meski kebun penyuplai ‘kopi luwak’ dunia ini hanya ada di Sumatra, tetapi dimiliki Daarhnour dari Belanda, yang mendistribusikannya terutama ke Amerika Serikat, dengan M. P. Mountanos Inc., di Los Angeles, sebagai pelanggan terbesar. Tentu jadi irnois: ‘kopi luwak’ yang tulen tak bisa dibeli di Indonesia, karena memang terlalu langka. Seorang pengimpor lain, Lenny Cooper dari LJ Cooper Co., juga memburu kopi berkualitas ke Sulawesi selain Sumatra. Sekali lagi, kita seperti tak ada di sana. (Kopi – hlm. 68)

Namun tiba-tiba saya terpikir, apakah kita tidak sebaiknya menjadi lebih empet kepada para jawara berdasi yang perusahaannya resmi, tetapi sangat berdaya menilep tanah dan mengakali pajak misalnya dengan piawai sekali? Jumlah penilepan mereka inilah yang telah diketahui angkanya oleh Sri Mulyani ketika masih menjadi menteri. Mereka tidak bertato, tampangnya tidak sangar, fashion-nya pun jauh dari kampungan, tapi mereka inilah saya kira yang layak ditembak mati (Premanisme – hlm. 79)

Pertanyaan saya sebetulnya: di Jakarta ini, mungkinkah kita mengenal seseorang bukan karena profesinya, melainkan karena pribadinya? Mungkinkah kita mengenal seseorang bukan karena mempunyai kepentingan saja? Mungkinkah, my friend, mungkinkah? (Mengenal Orang Jakarta: Mungkinkah? – hlm. 87)

Mengacu kepada Marx, bahwa bukan kesadaran manusia yang menentukan ke-ada-annya, melainkan ke-ada-an sosialnyalah yang menentukan kesadarannya, tampak bagaimana kakrobatan para Motorcycle People ini terbentuk oleh posisi sosialnya tersebut. Kalau menurut Pak Polisi penunggang sepeda motor maksimal dua orang dewasa, apakah itu berarti berangkat ke rumah nenek membawa tiga cucu harus ditunda sampai punya mobil? Tidak. (Motorcycle People – hlm. 90)

Ya, dan masih banyak ‘sindiran’ lainnya. Maka untuk membaca buku ini dibutuhkan pikiran yang terbuka. Tidak perlu buru-buru menghakimi sang penulis. Karena barangkali sindiran-sindiran itu memang relevan dengan keadaan masyarakat kita saat ini.

Ada 44 tulisan seluruhnya. Kita bebas membacanya secara acak. Karena memang berbeda pembahasan dan tidak saling terkait. Selain itu, buku ini juga dilengkapi dengan berbagai kemasan produk-produk zaman dulu. Dari mulai kemasan bungkus rokok, kerupuk, jamu, bahkan poster-poster zaman dulu kala.

Buku ini memberi banyak kesadaran baru. Salah satunya yang juga terpenting adalah bahwa ternyata masih banyak yang harus diperbaiki dari tata kota juga perilaku masyarakat kita.

Iklan

5 thoughts on “Tiada Ojek di Paris: Tentang Kesadaran Baru

Thank you for not comment out of topic

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s