Cinderella Syndrome: Bukan Pernikahan ala Cinderella

img_20160918_081841-01

Judul: Cinderella Syndrome
Penulis: Leyla Hana
Penerbit: Salsabila
Cetakan Pertama: Mei 2012
ISBN: 978-602-98544-2-8
Jumlah Halaman: 240 hlm. 

Sebagian besar perempuan terjebak pada perangkap psikologis bahwa mereka akan selamat dalam menjalani kehidupan ini jika memiliki pelindung sejati bernama: laki-laki (hlm. 7)

Usianya sudah 30 tahun, namun tidak pernah terpikir oleh Erika untuk menikah. Pengalaman pahit ibu dan ayahnya pada masa lalu telah membuatnya beranggapan, bahwa pernikahan adalah sesuatu yang rumit. Sudah banyak orang di sekitarnya yang bercerita pengalaman pahitnya saat menikah. Dan Erika tidak ingin mengalami semua masa-masa pahit itu. Hingga akhirnya ia bertemu situasi yang mengharuskannya untuk menikah. Akankah Erika mengambil jalan itu?

Cerita kedua datang dari seorang penulis bernama Violet. Hingga usianya yang ke – 25, Vio – begitu panggilannya tidak pernah bisa mandiri. Untuk pergi kemana pun, ia harus diantar. Bila tidak, maka sudah pasti dirinya selalu kesasar atau salah jalan. Gara-gara hal inilah orang-orang di sekitarnya menyuruh ia untuk menikah. Lantas, apakah dengan menikah nanti sang suami bisa selalu mengantar Vio pergi kemanapun?

Berbeda lagi dengan Annisa. Usianya 28 tahun. Seorang guru TK yang masih gadis dan selalu memimpikan sebuah pernikahan yang indah dengan seorang lelaki yang mapan. Hal ini bukan tanpa sebab. Ia tahu, dengan menikahlah maka ia bisa keluar dari segala kesulitan hidupnya. Belum lagi dengan pembicaraan orang-orang di sekitarnya yang begitu menyiksa dirinya. Hingga ia bertemu dengan seorang duda kaya beranak satu, mungkinkah pernikahan impiannya tercapai?

-x-

Ya, Cinderella Syndrome berisi tiga cerita berbeda namun dengan tema serupa. Tentang tiga perempuan yang usianya sudah cukup matang, namun belum jua menikah.

Di era modern sekarang ini, pernikahan terasa semakin digaungkan. Mereka yang belum menikah di atas usia 25, tidak jarang menerima cibiran macam-macam dari lingkungan sekitar, terlebih bagi seorang perempuan. Padahal, sudah jelas pernikahan bukan ajang balapan. Pernikahan adalah tentang kesiapan. Kesiapan mental terutama. Untuk menghadapi segala permasalahan yang akan terjadi dalam rumah tangga.

Ketika kita menikah dengan orang yang kita cintai, tanpa sadar kita mau berubah demi menyenangkan hatinya. Pernikahan itu melibatkan dua orang, bukan sendirian. Jadi, kamu harus menyingkirkan egoismemu setelah menikah.” (hlm. 149)

Inilah barangkali yang menjadi garis besar novel ini. Seringnya kita hanya melihat dari sisi luar. Tapi nyatanya kita tidak pernah tahu alasan atau penyebab apa seseorang belum mau menikah atau memang belum menemukan sang calon pasangan.

Seringkali kita memang mencemaskan hal-hal yang belum tentu terjadi. (hlm. 211)

Pernikahan tidak pula layaknya kehidupan Cinderella. Happily ever after. Jadi anak yang disiksa ibu tirinya, lalu bertemu ibu peri yang mengubahnya menjadi cantik dan bertemu pangeran lalu menikah dan bahagia selamanya. Sayangnya, dalam pernikahan akan ditemui masalah yang cukup kompleks dan dibutuhkan kedewasaan menghadapinya. Maka itu sebabnya Erika, Violet, dan Annisa dalam novel ini belum jua menikah. Sesungguhnya bukan karena mereka tak ingin, tapi karena mereka tahu bahwa untuk menikah, mereka harus menemukan calon pasangan yang tepat.

Karena tulang rusuk dekat denngan hati. Karena wanita diciptakan untuk dicintai. Bukan untuk diinjak atau menginjak. Wanita adalah partner lelaki,” (hlm. 180)

Ketika Cinderella telah menjadi seorang putri dengan kualitas yang ditempanya sendiri, takdir pun mempertemukannya dengan pangeran, belahan jiwanya. Cinderella telah siap dipinang oleh sang pangeran. Mereka pun menikah dan hidup bahagia selamanya. (hlm 222)

Saya suka dengan cara Mbak Leyla mengambil tiga tokoh berbeda dengan jalan cerita yang berbeda. Karena saya tahu, bukan hal mudah untuk membuat tiga cerita sekaligus dalam satu novel. Karena itu artinya sang penulis harus memikirkan tiga cerita yang berbeda. Dan bagusnya, dalam novel ini semua tetap fokus pada masing-masing karakternya.

Well, novel ini sangat ringan dibaca. Terlebih kita juga bisa mengambil garis besar, bahwa pernikahan bukanlah tentang usia. Melainkan tentang kesiapan. Maka sudah seyogyanya kita tidak perlu mencampuri urusan orang lain.

Pernikahan juga bukan layaknya kehidupan Cinderella. Tapi bukan berarti sebuah pernikahan menjadi kehidupan yang menakutkan. Karena sesungguhnya, ada kebahagiaan lain yang bisa dirasakan dalam pernikahan. Yakni dengan hidup bersama seorang pasangan yang kita rasa tepat 🙂

“Karena menikah membuat rencana-rencana kita berjalan dengan rapi dan pasti. Rejeki juga cepat mengalir.” (hlm. 233)

Iklan

Thank you for not comment out of topic

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s