Buku Saku Psikologi Akhlak: Tentang Moralitas Kehidupan

img_20160829_122642

Judul: Buku Saku Psikologi Akhlak 
Penuli: Ibn Hazm al-Andalusi
Penerjemah: Zaimul Am
Penerbit: Zaman
Cetakan I: 2014
ISBN: 978-602-1687-23-9

Demi Allah, aku bersumpah bahwa dunia ini tidak layak diratapi, sebab kesenangan di dalamnya tidaklah lebih dari lima hal: makanan, minuman, hubungan intim, pakaian dan wewangian. (hlm. 11)

Akhlak, betapa menjadi sesuatu yang sangat krusial dalam kehidupan. Ia menyangkut moralitas yang akan diwujudkan dalam bermasyarakat. Yang letaknya dari hati, kemudian menjadi perilaku.

Bukan hal baru jika hati terdapat penyakit, maka perilaku pun bisa menjadi kacau. Lebih parah, jika kita membiarkan penyakit itu terus tumbuh tanpa tahu bagaimana cara menyembuhkannya. Hmm, mungkin lebih tepatnya mau atau tidak untuk menyembuhkan penyakit itu.

Itu sebabnya di bagian belakang buku ini pun tertulis bahwa buku ini dipersembahkan Ibn Hazm untuk membantu sesama manusia mendeteksi gejala penyakit ruhani (mental – spiritual) secara jernih serta menawarkan metode penyembuhannya melalui psikologi akhlak.

sesungguhnya kebenaran itu hanya terdapat pada upaya mempersiapkan diri menyongsong kehidupan akhirat. (hlm. 20)

Kebahagiaan langsung adalah karena Anda berhenti mencemaskan segala sesuatu yang biasanya membuat manusia cemas; ini membuat Anda semakin berwibawa di mata teman maupun lawan. Kebahagiaan abadi adalah kebahagiaan surgawi. (hlm. 20)

jika jiwa tetap berada di bawah pengendalian akal maka kekesalannya pun akan menjadi kebaikan dan dianggap sebagai sifat yang terpuji (hlm. 61)

Kebaikan mempunyai empat akar yang membentuk semua kebaikan, yakni kejujuran atau keadilan, kecerdasan, keberania, dan kedermawanan. (hlm. 111)

Ada beberapa kalimat yang saya agak gagal paham. Mungkin pembaca bisa membantu saya menerjemahkan kalimat ini 🙂

Percayakan amanat Anda kepada orang yang saleh, meski agamanya berbeda dengan agama Anda. Jangan percaya kepada orang yang memandang rendah hal-hal yang sakral, meski diaa mengaku menganut agama yang Anda anut. Janganlah menyerahkan amanat penting kepada orang yang melalaikan perintah Allah. (hlm. 51-52)

Di awal dikatakan “percayakan amanat Anda kepada orang yang saleh, meski agamanya berbeda dengan agama Anda.” Tetapi pada kalimat terakhir justru ada kalimat “janganlah menyerahkan amanat penting kepada orang yang melalaikan perintah Allah.” Lantas maksud penulis, kita harus percaya yang mana? Orang yang berbeda agama, atau orang yang tidak melalaikan perintah Allah?

Ada lagi di halaman 72.

Teman yang menutupi rahasia Anda tak berarti ia lebih setia daripada orang yang menceritakan rahasia Anda. Sebab, orang yang menceritakan rahasia Anda hanya mengkhianati Anda. Namun, orang yang menutupi rahasia Anda, selain mengkhianati Anda, ia juga tak memercayai Anda.

Paragraf ini kontradiktif dengan halaman 74.

Anda harus menjaga rahasia yang dipercayai kepada Anda, tak membukanya kepada teman – meski ia teman dekat Anda, apalagi kepada orang asing.

Saya agak bingung, di halaman 72 dikatakan “orang yang menutupi rahasia Anda, selain mengkhianati Anda, ia juga tak memercayai Anda.” Namun di halaman 74 kita justru dianjurkan untuk menutupi rahasia teman. Hmm… Semoga cukup saya saja yang keliru memahaminya.

Memang cukup lama bagi saya untuk memahami isi buku ini. Entah karena memang bahasanya yang tergolong berat, atau terjemahannya yang kurang bisa dipahami, atau justru otak saya yang lemah, entahlah. Tapi yang jelas, beberapa bagian tetap mencerahkan.

Orang bijak adalah orang yang melihat kesalahannya sendiri dan berupaya mengatasinya. (hlm. 124)

Aku tak tahu adakah faedah yang dapat diambil dari mendengar tentang kesalahan orang lain kecuali bahwa si pendengar dapat menjadikannya sebagai pelajaran, menjauhi kesalahan itu, dan berupaya memperbaiki diri. (hlm. 125)

Kalau boleh memberi saran, barangkali untuk cetakan selanjutnya terjemahan bisa lebih disederhanakan lagi bahasanya. Agar buku ini bisa masuk di segala usia. Mulai dari remaja hingga dewasa. Karena saya yakin sebenarnya isi buku ini memang sangat bagus. Apalagi berisi tentang pesan moralitas yang pasti berguna bagi kehidupan di masyarakat.

Pikirkan orang-orang yang lebih tinggi ilmunya daripada Anda – niscaya Anda akan menyadari banyak sekali orang seperti itu – maka jiwa Anda akan menjadi rendah menurut pandangan Anda sendiri. (hlm. 131)

tak ada kebaikan kecuali kebaikan karena kecerdasan dan pemahaman yang mendorong orang untuk meyakini bahwa dia adalah pemilik yang fana atas hal itu. (hlm. 149)

Iklan

Thank you for not comment out of topic

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s