Single Mother Double Fighter

Single Mother Double Fighter (1)

Judul:Single Mother Double Fighter
Penulis: Skylashtar Maryam
Penerbit: Gradien Meditama
Jumlah Halaman: 208 hlm.
Cetakan 6: 2014
ISBN: 978-602-208-048-0

Yang terjadi setelah gue mengajarkan nama-nama malaikat…

Salwa: Malaikat itu bentuknya kayak gimana sih?
Gue: Enggak tahu. Enggak pernah lihat *emang bener, kok. Gue nggak pernah lihat malaikat.
Salwa: Ada sayapnya, kan?
Gue: Setahu Bunda sih ada.
Salwa: Katanya, enggak pernah lihat, kok tahu?
Gue: …*I don’t know how to answer. (hlm. 135)

Salwa namanya. Buku ini memang berisi kumpulan cerita sehari-hari tentang sang penulis yang merupakan single parent dan Salwa, anaknya. Mungkin ini cerita sehari-hari yang biasa dialami oleh emak-emak lainnya, tapi yang menjadikan ini istimewa adalah respon gue dan Salwa terhadap interaksi kami sering kali tidak biasa. Salwa yang memiliki respon layaknya orang (sok) dewasa dan gue… dengan respon seperti anak-anak. (hlm. 7) 

Masing-masing cerita diberi tema-tema tersendiri. Seperti cerita di atas dalam tema A Religious Story. 15 tema tersebut memiliki beberapa cerita yang berbeda-beda yang ditulis dalam bentuk dialog dan tak jarang mengundang gelak tawa melihat pembicaraan penulis juga respon dan pola tingkah Salwa 😀

Bagian paling sulit punya anak tuh bukan bagaimana cara memberi dia makan, membayar uang sekolah, atau bersihin ompolnya *enggak sulit cuma bau, hehe… Yah, hanya memenuhi kebutuhan materinya saja. Bagian yang paling sulit adalah mendidiknya supaya menjadi anak yang berbakti kepada orangtua, berguna bagi agama, nusa dan bangsa, hafal Pancasila juga Dasa Dharma Pramuka 🙂 (hlm. 156)

Buku ini juga dilengkapi ilustrasi-ilustrasi lucu yang mendukung beberapa ceritanya.

Single Mother Double Fighter (3)

Tugas orangtua memang bukan sebagai hakim atau polisi yang memberi vonis. Tugas kita sebagai orangtua di zaman Blackberry ini adalah berusaha supaya batas-batas yang kian baur itu bisa dipertegas. Minimal, apa yang benar tetap benar, da yang salah tetep salah. (hlm. 157)

Setiap anak memang memiliki kecerdasan masing-masing. Pola tingkah mereka, sekalipun seringkali menguji kesabaran, namun anak tetaplah anak. Darah daging yang Tuhan titipkan pada orang tua. Sebagaimana yang tertulis dalam puisi di akhir buku ini yang cukup menyentuh.

Dan, jika suatu saat wajahku benar-benar
sebuah gambar buram dalam foto lama yang senantiasa kau
simpan
di bawah bantal, lalu jemarimu mengusap
senyumku yang berjulujur,
barangkali kau akan ingat bahwa rahimku
telah menuntaskan tugasku atasmu. (hlm. 207)

Iklan

One thought on “Single Mother Double Fighter

Thank you for not comment out of topic

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s