Ayah: Cinta dan Pengorbanan

Ayah.delinabooks

Judul: Ayah
Penulis: Andrea Hirata
Penerbit: Bentang Pustaka
Cetakan Keempat: Juni 2015
Jumlah Halaman: 412 hlm.
ISBN: 978-602-291-102-9

Sabari bin Insyafi, barangkali bukanlah pria yang terlahir sempurna. Memiliki kening maju, bergigi tupai, dan berkulit hitam. Berbeda dengan sahabat-sahabatnya, Toharun, Tamat, dan Ukun yang lebih ‘baik’ fisiknya juga dalam soal percintaan. Bagi Sabari, cinta adalah kata yang asing, cinta adalah racun manis penuh tipu muslihat. Cinta adalah burung merpati dalam topi pesulap. Cinta adalah tempat yang jauh, sangat jauh, dan urusan konyol orang dewasa. (hlm. 9-10)

Namun menginjak hari terakhir ujian kelulusan SMP pelajaran Bahasa Indonesia, semua berubah. Marlena, gadis yang datang telat saat ujian tersebut mengambil dengan paksa kertas ujian Sabari. Sejak itulah Sabari jatuh cinta dan tergila-gila pada gadis itu. Setiap hari dibuatnya puisi-puisi untuk Lena.

bagian dari istimewanya puisi, bahwa apa yang diceritakan mata lebih terang daripada apa yang diucapkan mulut. (hlm. 64)

Sesuai namanya, kesabaran Sabari membuahkan hasil. Sebuah kejadian memaksanya menikah dengan Lena. Dan mereka dikaruniai seorang anak yang dipanggil Zorro. Sabari sangat menyayangi Zorro. Setiap malam sebelum tidur, Sabari selalu membawa puisi atau cerita-cerita baru pada Zorro. Berbeda dengan Lena yang memang sedari awal tak menyukai Sabari, justru tidak peduli dengan suami dan anaknya.

Namun saat Zorro berumur tiga tahun, Lena membawa paksa Zorro untuk ikut bersamanya. Rasa sayang yang besar, membuat Sabari nyaris gila kehilangan Zorro. Untunglah Sabari mempunyai sahabat-sahabat yang peduli padanya. Petualangan mencari Zorro pun dimulai. Bahkan hingga detik itu, Sabari juga masih mencintai Lena.

-x-

Agak lamban bagi saya untuk menyelesaikan novel ini. Terlalu banyaknya tokoh di awal-awal, juga jalan cerita yang tidak bersambungan. Namun, saat saya update status mengatakan hal tersebut, teman-teman justru berkomentar, memang seperti itu, tapi di bagian-bagian selanjutnya kita akan mengerti tentang tokoh-tokoh dan jalan cerita tersebut.

Kesabaran memang selalu berbuah manis, apa yang dikatakan teman-teman saya benar. Semakin membalik lembar halaman, saya justru semakin larut dalam cerita. Rupanya Andrea Hirata sengaja menaruh tokoh-tokoh pada awal-awal untuk kemudian bisa dipahami pada bagian tengah hingga akhir.

BTW, ini adalah novel beliau yang pertama saya baca. Hiruk pikuk Laskar Pelangi, membuat penulis ini begitu terkenal dengan karya-karyanya. Maka saat novel terbaru Ayah ini keluar, saya dengan antusias ingin membacanya. Pikir saya, kalau Laskar Pelangi sudah dibuat film, jadi saya merasa tidak perlu lagi membaca bukunya.

Kembali ke cerita Ayah, saya justru sebal sekali dengan Sabari. Ia begitu lemah menghadapi wanita. Tergila-gila karena cinta hingga membuatnya nyaris sinting. Tapi sebagai seorang ayah yang begitu menyayangi anaknya, Sabari patut diacungi jempol. Banyak pengorbanan yang ia lakukan untuk Zorro.

Novel ini juga sarat dengan melayu dan bahasanya. Memang masih sama seperti novel Andrea sebelumnya yang memiliki setting di daerah Sumatra. Selain itu, banyak bertebaran puisi-puisi yang dbuat Sabari, salah satunya:

Rindu yang kutitipkan melalu kawan
Rindu yang kutinggalkan di bangku taman
Rindu yang kulayangkan ke awan-awan
Rindu yang kutambatkan di pelabuhan
Rindu yang kuletakkan di atas nampan
Rindu yang kuratapi dengan tangisan
Rindu yang kulirikkan dalam nyanyian
Rindu yang kusembunyikan dalam lukisan
Rindu yang kusiratkan dalam tulisan
Sudahkah kau temukan?

(hlm. 128)

Juga beberapa guyonan yang menjadi penghibur di tengah jalan cerita. Tak jarang membuat saya cekikikan sendiri 😀

Kutipan menarik:

“Segala hal dalam hidup ini terjadi tiga kali, Boi. Pertama lahir, kedua hidup, ketiga mati. Pertama lapar, kedua kenyang, ketiga mati Pertama jahat, kedua baik, ketiga mati. Pertama benci, kedua cinta, ketiga mati. Jangan lupa mati, Boi.” (hlm. 65)

Janganlah bersedih, waktu mengambil seorang sahabat, dan waktu akan menggantikannya dengan sahabat yang lain. Berdamailah dengan waktu, karena waktu akan menumbuhkan dan menyembuhkan. (hlm. 186)

hari paling penting dalam hidup manusia adalah hari saat manusia itu tahu untuk apa dia dilahirkan. (hlm. 227)

manusia bisa berada di tempat yang sama dalam waktu yang berbeda, tetapi tak bisa berada di tempat yang berbeda dalam waktu yang sama, semua itu karena pencipta manusia mau agar manusia setia. (hlm. 267)

Tiga bintang untuk novel ini. Terutama tentang kisah persahabatan yang tulus dan pengorbanan besar seorang ayah pada anaknya.

Iklan

Thank you for not comment out of topic

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s