Semesta Sebelum Dunia: Kesadaran Tentang Alam Rahim

Semesta Sebelum Dunia.delinabooks

Judul: Semesta Sebelum Dunia
Penulis: Fahd Djibran (Fahd Pahdepie)
Penerbit: Noura Books
Cetakan I: April 2013 
Jumlah Halaman: 233 hlm.
ISBN: 978-602-9498-94-3

Selalu ada cerita yang menyertai janin yang tumbuh di dalam rahim seorang perempuan. Rahim, dari sedikit sekali uraian ilmiah tentangnya, sesungguhnya adalah sebuah misteri yang amat besar. Semesta yang seolah-olah memiliki kehidupannya sendiri. (hlm. 5)

Namanya Dakka Madakka, seorang pria hitam yang agak pendek, mengenakan pakaian yang agak aneh dengan manik-manik berwarna menyala di dadanya, dan ada tulisan AR-itu singkatan dari Alam Rahim-di dada kirinya, dan berjalan agak tergesa-gesa dengan kaki kanan yang agak pincang. Pekerjaannya tak lazim, Si Pengabar Berita dari Alam Rahim. 

Tugas Dakka adalah menemani seorang manusia selama ia ada dalam perut ibunya. Dakka akan memberi pemahaman-pemahaman tentang sebuah kehidupan di Alam Rahim. Kelak, ia juga akan memperkenalkan teman-temannya, Mahavatara, juga Raja Semesta bahkan manusia itu sendiri.

Bila kau diberi kesempatan untuk mengikuti seluruh gerak-gerik ibumu ketika mengandungmu, seluruh sikap dan tindakannya, melihat seluruh sketsa hidup yang ia jalani bersamamu di perutnya-kuyakinkan kepadamu bahwa jangankan kau berani menyakitinya atau membuatnya menangis, mengecewakannya pun tidak! (hlm. 143)

-x-

Sebuah buku yang sangat amat saya rekomendasikan! Bertagline Sebuah Dongeng tentang Alam Rahim, buku ini sukses membuat saya begitu terpana. Bukan saja karena ditulis oleh seorang pria yang seolah sangat tahu kehidupan dalam alam rahim, namun Semesta Sebelum Dunia ini juga memberi banyak pemahaman baru.

Terlebih saat ini saya juga sedang mengandung seorang manusia. Membaca buku ini seperti mengilas balik bagaimana kehidupan saya sendiri selama dulu ada dalam rahim ibu saya. Apa yang saya rasakan saat ini, rasa bahagia hingga sakit karena bermacam-macam keluhan selama kehamilan, barangkali juga menjadi perasaan yang menghinggapi ibu saya. Ah, benar-benar membuat saya terenyuh.

“… Kau hanya perlu merasakannya. Itu cukup. Kau hanya perlu mengalaminya. Kadang, untuk beberapa hal, kita memang tak perlu mengerti terlebih dahulu.” (hlm. 83)

Menariknya, buku ini dilengkapi beberapa ilustrasi.

Ilustrasi Semesta Sebelum Dunia (2)

Ilustrasi Semesta Sebelum Dunia (1)

Sekalipun disebut dongeng, secara tidak langsung buku ini juga menyiratkan pesan-pesan tentang kehidupan:

“Jangan berfokus pada tempat kau berangkat, berfokuslah pada tempat yang akan kau tuju. Orang-orang selalu berpikir dari mana mereka berasal, tanpa pernah berpikir ke mana mereka akan pergi.” (hlm. 72)

“… cinta pada mulanya selalu tentang mendengarkan: ibu yang mendengarkan anaknya, anak yang mendengarkan orangtuanya, pasangan yang saling mendengarkan, Raja Semesta yang mendengarkan doa-doa umatnya, manusia yang mendengarkan pesan dan cinta Tuhannya. Pertama-tama, mencintai adalah tentang mendengarkan!” (hlm. 110)

“Jangan buang-buang waktu. Jangan boros terhadap waktu. Kau tahu, bahkan Raja Semesta bersumpah demi waktu. Jangan sampai kau tak menghargainya. Tak menghargai waktu sama saja dengan takmenghargai Raja Semesta!” (hlm. 129-130)

“Ingatlah pesanku, yang terpenting adalah melakukan segala hal yang baik dan berusaha menjauhi segala hal yang buruk. Itu lebih baik daripada semesta dan seisinya. Lakukanlah dengan hati dan pikiran yang terbuka, lakukanlah karena kau ingin melakukannya. (hlm. 165)

Aku percaya kita bisa mengubah dunia dengan kebaikan-kebaikan yang kita upayakan mulai dari diri kita sendiri. Dan aku percaya bahwa kebaikan-kebaikan selalu akan mengalahkan keburukan-keburukan. Sebesar apa pun itu. Meskipun nanti akan muncul keburukan yang lebih besar lagi, pasti akan ada kebaikan yang jauh lebih besar lagi untuk mengalahkannya. Dan terus begitu …. (hlm. 212-213)

Sampai saat ini, begitu banyak pasangan yang menginginkan kehadiran seorang anak, namun Tuhan belum jua memberikannya. Sementara, di luar sana, pasangan muda-mudi tidak terikat, menjalin hubungan hingga sang perempuan hamil atau ada juga pasangan yang tidak menginginkan kehadiran seorang anak,  tak jarang mereka memilih untuk menggugurkan sang jabang bayi. Kalaupun si bayi lahir, terkadang mereka yang tak menginginkan justru menyia-nyiakannya atau malah membuangnya. Naudzubillah. Semoga kita terhindar dari perilaku tak manusiawi tersebut.

Aborsi, apa pun alasannya adalah sebuah pembunuhan-penghilangan nyawa yang keji dan merenggut hak hidup yang dianugerahkan Raja Semesta. (hlm. 171)

Seorang anak, sampai kapanpun kodratnya akan terus berhutang pada orang tua. Jasa, pengorbanan, juga segala usaha untuk membahagiakan anaknya, barangkali takkan pernah terbalas bahkan hingga ajal menjemput.

“Ibuku, tentang sikapku, tentang salahku, tentang sifatku, dan segala hal dalam hidupku yang bersinggungan denganmu, terima kasih dan maaf. Kaulah kecintaanku, perempuan yang akan kusayangi sampai aku mati.” (hlm. 154)

Ayahmu barangkali bukan ayah yang terbaik di dunia, tetapi dia selalu berusaha melakukan dan memberi segala hal yang terbaik untukmu-sejauh yang dia bisa. (hlm. 191)

Ibu, barangkali saat ini masih permulaan tentang apa yang kau rasakan dulu. Ayah, pengorbananmu pada keluarga juga tak pernah putus.

Ibu, ayah, barangkali beribu-ribu kata maaf atas dosa tak pernah cukup. Bahkan membahagiakan ayah dan ibu pun rasanya belum mampu membalas semuanya hingga detik ini. 

Ibu, ayah, aku rindu. Aku hanya selalu berharap, semoga kalian selalu sehat, kuat, dan baik-baik saja serta dilindungi Allah SWT. 

Kau tahu, sebenarnya kelahiran hanyalah nama bagi peralihanmu dari Alam Rahim ke Alam Dunia. Kau tidak dilahirkan dalam pengertian yang sebenarnya. Kau hanya mengalami peralihan, dari rahim ibumu menuju rahim yang lebih besar lagi; rahim semesta.

Sesungguhnya, di Alam Dunia, kau sedang dikandung dalam sebuah rahim mahabesar yang akan membentuk dan meatangkan dirimu dan kesadaranmu … dalam rahim semesta ini, pesannya sama seperti yang kau dapatkan di Alam Rahim-ketika kau bersemayam di rahim ibumu: pelajarilah banyak hal, sebarkanlah kebaikan-kebaikan, jauhilah keburukan-keburukan, dan jangan boros dengan waktumu … sampai kelak, bila waktunya tiba, kau akan mengalami masa peralihan berikutnya …. (hlm. 231)

Iklan

2 thoughts on “Semesta Sebelum Dunia: Kesadaran Tentang Alam Rahim

  1. Fahd Jibran ini kalo ngga salah penulis buku rumah tangga juga kan ya? Wah keren ya bikin buku yang genrenya dongeng gini.. Jadi penasaran sama buku-bukunya.. Makasi reviewnya ya..

    • Betul Mbak 🙂 Iya ini dongeng fiksi tapi kejadiannya seperti nyata tentang alam rahim 😀 Saya sudah baca beberapa buku Mas Fahd, dan emang bagus-bagus.

      Smoga bermanfaat ya Mbak 🙂

Thank you for not comment out of topic

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s