Koala Kumal: Komedi Patah Hati

Koala Kumal.delinabooks

Judul: Koala Kumal
Penulis: Raditya Dika
Penerbit: Gagas Media
Cetakan Kedua: 2014
Jumlah Halaman: x+250 hlm.
ISBN: 978-979-780-769-6

Karena insiden layangan putus, Dika bertemu dengan dua orang yang menjadi sahabatnya. Dodo dan Bahri. Ketiganya sering bermain bersama. Saat bulan Ramadhan, Bahri yang mempunyai musuh mengajak Dika dan Dodo untuk saling berperang petasan. Tak diduga, justru dari sinilah insiden persahabatan ketiganya menjadi renggang.

Cerita kedua, ketika Dika menulis sebuah skenario film Cinta Brontosaurus. Dia belum menemukan adegan keluarga yang lucu. Namun dialog yang tidak disengaja saat makan malam bersama pacar dan keluarganya, Dika justru menemukan kalimat yang tidak disengaja diucapkan papanya.

Ada lagi cerita tentang Perempuan Tanpa Nama. Tanpa Nama yang dimaksud adalah karena perempuan-perempuan yang ditaksir Dika namun hanya bisa dilihatnya dari kejauhan tanpa berani bertanya siapa namanya.

Cerita tentang behind the scene pembuatan film singkat Malam Minggu Miko juga dimuat di sini. Jatuh bangun Dika mulai dari tidak mengerti apa-apa tentang penyutradaraan hingga akhirnya dilirik salah satu stasiun TV swasta dan dibantu oleh production house yang profesional.

-x-

Buku ini menjadi buku Raditya Dika pertama yang saya baca. Apalagi banyak bertebaran review yang mengatakan bahwa buku ini jauh dari ekspektasi mereka. Seperti yang banyak diketahui, Raditya Dika selalu menulis buku-buku komedi yang cukup menghibur. Saya setuju jika banyak yang mengatakan demikian. Alih-alih komedi, buku ini justru membawa banyak perenungan. Meski tak bisa saya sangkali juga kalau beberapa bagian, Raditya Dika masih membawa ke-khas-annya dalam melucu. Namun justru karena hal inilah saya penasaran dengan Koala Kumal. Dan akhirnya, saya cukup puas.

‘Kalau lo gak mau dikerjain jangan pernah ngerjain orang. Kalau gak pengin dimarahin jangan pernah marahin orang…’ (hlm. 184)

‘Tidak semua yang tidak bisa dilihat bisa membuat kita celaka,’ (hlm. 224)

Terdapat 13 cerita yang diambil dari kehidupan Raditya Dika sendiri. Tiga di antaranya seperti yang sudah diceritakan di awal. Cerita-cerita lainnya juga tak kalah menarik. Meskipun sebagian besar berisi tentang patah hati.

Saya menemukan satu kesalahan pada halaman 66. Saat itu Dika sedang berbicara pada Deska yang masih menjadi pacarnya, namun pada dialog selanjutnya justru ditemukan kalimat, Astra menghela napas panjang. Seharusnya bukan Astra, tapi Deska. Karena tidak ada Astra di kejadian tersebut.

Tiga bintang untuk buku ini. Sekalipun tidak murni komedi, namun Dika memberi banyak perenungan-perenungan di dalamnya.

Patah hati seharusnya seperti itu, dari setiap kekecewaan, kita akan makin kuat dalam menghadapi problem percintaan berikutnya. (hlm. 236)

—–xxxxxx—–

Saya mau cerita sedikit.

Sepertinya buku yang saya punya ini buku bajakan hiks. Pertama, terlihat dari sampul. Yang saya tahu biasanya sampul buku asli tulisannya selalu timbul, tapi ini tidak. Lalu sampul asli sepertinya warna hijaunya lebih tua. Punya saya, lebih muda (bisa dilihat di foto paling atas). Kedua, cetakan tulisan di dalam juga buruk. Buram, bahkan beberapa nyaris tidak terbaca. Yang ketiga dan membuat saya semakin yakin ini sepertinya bajakan, karena kertas nyaris terlepas dari sampul. Tentu saja penerbit asli tidak mungkin menerbitkan dengan asal-asalan seperti ini.

IMG_20160318_140847
Kertas nyaris terlepas dari sampul

Yayaya, maafkan saya. Saya memang membelinya online di sebuah e-commerce dengan harga yang sangat murah. Waktu itu pikir saya harga murah itu hanya karena penjual baik hati atau karena waktunya sudah jauh dari waktu pertama kali buku ini keluar. Tapi setelah teronggok lama di lemari buku dan baru disentuh dua hari lalu, saya baru menyadarinya dari sampul. Kok jelek banget sih kualitas sampulnya. Pas dibuka, bener deh 😦

Jadi bukan maksud saya berniat membeli bajakan, tapi murni karena saya juga tidak tahu. Dan ini jadi pertama kalinya saya terjebak dengan buku murah yang ternyata bajakan 😦 hiks.

Baca: Buku Bajakan? Big NO!

Buat teman-teman, hati-hati ya. Ternyata buku murah itu juga tidak selamanya aman. Apalagi dibeli dari penjual yang belum jelas. Tetap waspada. Dan jangan sampai beli buku bajakan. Yuk, kita hargai penulis-penulis Indonesia 🙂

Iklan

Thank you for not comment out of topic

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s