Wonderful Family: Membangun Keluarga yang Kokoh

Wonderful Family.delinabooks

Judul: Wonderful Family
Penulis: Cahyadi Takariawan
Penerbit: Era Adicitra Intermedia
Jumlah Halaman: xxii+250 hlm.
Cetakan Keempat: Rabiul Akhir 143 H/Februari 2014

ISBN: 978-602-8237-82-6

Wonderful Family adalah keluarga yang dipenuhi keindahan, kebahagiaan, keharmonisan, serta kemuliaan. (hlm. 12)

Siapa yang tidak mengidamkan keluarga yang harmonis, utuh, bahagia, bahkan langgeng hingga di jannah-Nya? Saya yakin setiap insan manusia pasti memiliki keinginan tersebut. Terlebih tidak hanya empat kriteria tadi, namun juga bisa membangun keluarga yang indah lagi hebat. Maka mengawalinya, adalah dengan memperhatikan hubungan antar suami istri lebih dulu.

Ialah Cahyadi Takariawan yang sudah memasuki usia dua puluh tahun pernikahan bersama sang istri tercinta, mencoba memaparkannya dalam sepuluh catatan dalam membangun wonderful family.

Diawali dengan analogi memakai sepatu. Ketika seseorang tidak suka sepatu, maka ia lebih memilih berjalan tanpa alas kaki. Atau jika hobi mengoleksi sepatu, maka ia akan memiliki banyak simpanan dan jenis sepatu. Dalam setiap kesempatan, berbeda jenis sepatu yang dipilihnya. Bila bosan, ia buang dan menggantinya dengan yang baru. Maka ketika pernikahan disamakan dengan dua hal ini, yang terjadi adalah pernikahan menjadi sebatas permainan. Jika tidak suka menikah, maka ia tidak akan menikah. Atau jika bosan dengan pernikahan sebelumnya, maka tinggal cari yang lain. Naudzubillah.

Dari sinilah pentingnya memiliki motivasi dalam pernikahan. Motivasi ibarat fondasi, dan rumah tangga ialah sebuah bangunan. Maka untuk menjadikan bangunan yang kokoh, harus memiliki fondasi yang kuat. Dalam hal pernikahan, motivasi atau harapanlah yang menjadi fondasi dalam membangun bangunan kokoh tersebut. Selain itu, fondasi ini pula yang akan menghindarkan keluarga dari berbagai penyimpangan.

Menghadapi kehidupan keluarga harus bersiap diri dengan kemelut yang berulang, bersiap dengan kemacetan yang sering terjadi beberapa kali. (hlm. 5)

… pernikahan bukanlah semata peristiwa menyalurkan “hasrat kebebasan” secara bertanggung jawab, melainkan, pernikahan adalah sebuah upaya meretas peradaban kemanusiaan yang bermartabat. (hlm. 17)

Selain motivasi, sebuah keluarga juga harus memiliki visi. Menetapkan tujuan apa yang ingin dicapai dalam membangun keluarga. Ingin menjadi keluarga yang berkumpul kembali di surga Allah misalnya, maka pasangan suami istri bisa mendiskusikan misi-misi apa yang bisa dilaksanakan untuk mencapai visi tersebut. Yang juga bisa diterapkan pada anak-anak kelak.

Ketika seseorang memutuskan menikah, sepenuhnya ia menyadari tengah melaksanakan misi ketuhanan, tengah menunaikan risalah kenabian, tengah menjalankan tugas kemanusiaan dan tengah merintis pembangunan peradaban. (hlm. 20)

Wonderful Family bukanlah keluarga yang berdiri di atas ruang hampa. Justru ia menempatkan fondasi sebagai tempat berpijak yang kokoh, karena hendak membangun sebuah peradaban yang kokoh pula. Tidak ada bangunan kokoh jika fondasinya lemah. Semua bangunan tinggi menjulang ke langit harus disertai fondasi yang kuat menghunjam bumi. (hlm. 22)

Suami dan istri harus memiliki kesamaan visi. Dalam kehidupan keluarga, harus ada visi yang jelas dan terang benderang, yang harus ditempuh bersama-sama. (hlm. 32)

Jika motivasi dan visi telah terbentuk, langkah selanjutnya adalah mengenali pasangan. Proses mengenal ini tentu saja tak bisa dibilang singkat. Butuh waktu seumur hidup. Selain karena suami dan istri adalah dua manusia yang berbeda, keduanya pun dibentuk dari keluarga yang berbeda yang tentu saja memiliki latar belakang dan budaya yang juga berbeda.

Karena proses mengenal tidak singkat, maka konflik pun tidak akan bisa dihindarkan. Namun tidak perlu dikhawatirkan, sebab perbedaan-perbedaan yang seringkali menjadi masalah, adalah suatu kewajaran. Yang terpenting adalah bagaimana pasangan suami istri mampu mengelola konflik tersebut menjadi hal yang tidak dipendam atau diungkit berlarut-larut.

Fokuslah mengingat dan mencatat semua kebaikan serta sisi positif pasangan. (hlm. 70)

Orang yang belajar untuk tidak memusingkan masalah-masalah kecil yang terjadi dalam kehidupan keluarga dan rumah akan memiliki ambang toleransi yang sangat lebar dalam hidupnya. Mereka tidak mau membuang-buang energinya hanya untuk merasa terganggu dan frustasi, dan lebih banyak mencurahkan energinya untuk bersenang-senang, untuk kegiatan produktif, dan untuk melimpahkan kasih sayang. (hlm. 203)

Jika antara suami istri telah memiliki motivasi dan visi yang kuat serta usaha mengenal pasangan yang tak pernah putus, maka penerapan pada anak insya Allah tidaklah sulit. Mulai dari memberikan kasih sayang, teladan, hingga pendidikan yang layak yang akan mengantarkan sang anak turut serta dalam membangun wonderful family.

Orang tua dalam Wonderful Family tidak akan membiarkan anak-anaknya telantar tanpa mendapat perhatian. Orang tua wajib memerhatikan pendidikan anak sejak dalam kandungan, hingga ketika anaknya mulai menginjak dewasa. Ia bersedia memberikan curahan cinta kasih kepada anak-anaknya dengan membimbing mereka mengenal ajaran Tuhan, membimbing mereka mengenal Islam, serta mengajari mereka membaca, menulis, berhitung, dan sejumlah ilmu pengetahuan yang diperlukan bagi anak-anak. (hlm. 227)

Kira-kira seperti itulah langkah dalam membangun wonderful family.  Yang tentu saja lebih lengkapnya bisa Anda baca sendiri. Yang saya suka, buku ini cukup runut dalam memaparkan. Meski dengan bahasa baku, namun masih terasa ringan dan tidak membosankan. Apalagi juga dilatarbelakangi oleh penulis yang sudah memakan asam garam dalam kehidupan rumah tangga juga telah ‘melahirkan’ lebih dari 40 judul buku yang juga tidak jauh dari tema rumah tangga. Selain itu dari segi cover, cetakan terbaru ini lebih fresh dengan warna ungu yang terlihat lebih manis 😀

Akhir kata, ada salah satu kutipan yang saya suka:

Tidak ada yang bisa menggantikan pelukan langsung antara suami dan istri. Teknologi tidak akan mampu menggantikan perasaan nyaman yang muncul akibat pelukan mesra. Tidak bisa dan tidak akan bisa. Pelukan suami kepada istri, dan sebaliknya, tidak bisa digantikan oleh apa pun dan oleh siapa pun. Benar-benar spesial, dan tak tergantikan oleh kecanggihan teknologi. (hlm. 167)

Ya, sehebat apapun teknologi, pada akhirnya tidak bisa menggantikan pertemuan secara langsung antara suami istri. Kualitas memang penting, namun kuantitas pertemuan juga tidak bisa diabaikan begitu saja. Apalagi dengan sebuah pelukan yang mampu membangun kehangatan lebih erat antara suami istri 🙂

Dalam kehidupan Wonderful Family yang harus amat diperhatikan adalah kemampuan menciptakan keserasian dan keharmonisan, bukan mempertentangkan besar atau kecilnya ukuran permasalahan. (hlm. 245)

Iklan

Thank you for not comment out of topic

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s