Pulang: Kembali kepada Hakikat

Pulang.delinabooks

Judul: Pulang
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Republika
Jumlah Halaman: iv+400 hlm.
Cetakan XIII: Februari 2016
ISBN: 978-602-0822-129

Pada usia lima belas tahun, Bujang dikenalkan dengan seseorang yang dipanggil Tauke Muda oleh ayahnya, Samad. Saat itu Tauke Muda beserta beberapa orang datang untuk berburu babi hutan, dan Bujang mendapat kesempatan untuk ikut.

Sejak berburu itulah Bujang tidak lagi mengenal rasa takut. Di hutan, ia harus menghadapi babi hutan besar sendirian saat Tauke Muda dan pemburu lain terluka karena babi-babi yang lain menyerang.

Jika setiap manusia memiliki lima emosi, yaitu bahagia, sedih, takut, jijik, dan kemarahan, aku hanya memiliki empat emosi. Aku tidak punya rasa takut. (hlm. 1)

Setelah malam perburuan itu, Tauke Muda mengajak Bujang untuk pergi ke Provinsi. Meski awalnya Midah, ibu Bujang berat hati, Bujang lebih memilih meninggalkan tempat kelahirannya di lereng Bukit Barisan. Tauke Muda juga berjanji pada Samad dan Midah, bahwa Bujang akan diurus layaknya anak sendiri.

“Mamak tahu kau akan jadi apa di kota sana… Mamak tahu… Tapi, tapi apa pun yang akan kau lakukan di sana, berjanjilah Bujang, kau tidak akan makan daging babi atau daging anjing. Kau akan menjaga perutmu dari makanan haram dan kotor. Kau juga tidak akan menyentuh tuak dan segala minuman haram.” (hlm. 24)

“Berjanjilah kau akan menjaga perutmu dari semua itu, Bujang. Agar… Agar besok lusa, jika hitam seluruh hidupmu, hitam seluruh hatimu, kau tetap punya satu titik putih, dan semoga itu berguna. Memanggilmu pulang.” (hlm. 24)

Si Babi Hutan, itulah julukan baru yang diberikan pada Bujang. Namun alih-alih menjadi tukang pukul seperti ayahnya, Tauke Muda justru menyekolahkan Bujang. Jelas itu bukan hal yang sama sekali diharapkan Bujang. Meski begitu, di sela-sela sekolahnya, ia mendapat kesempatan untuk belajar menjadi tukang pukul pada Kopong, kepala tukang pukul di Keluarga Tong. Selain itu, Bujang juga bertemu Basyir yang menjadi sahabatnya.

Kini usia Bujang sudah 35 tahun. Keluarga Tong juga telah berhasil menjadi penguasa Shadow Economy. Ekonomi yang berjalan di ruang hitam, di bawah meja. Orang-orang juga menyebutnya black market, underground economy. (hlm. 30) Bujang tidak hanya tumbuh sebagai orang yang pintar, tapi juga menjadi tukang pukul terbaik dalam Keluarga Tong. Karenanya, ia menjadi kepercayaan Tauke Muda untuk menyelesaikan berbagai permasalahan.

Perjalanan tidak selalu mulus, barangkali itulah yang dialami Bujang. Keluarga Tong kian hari kian terancam. Hingga puncaknya, rasa yang selama ini telah hilang dalam diri Bujang muncul lagi. Takut, yang kembali merasuki dirinya.

Hanya kesetiaan pada prinsiplah yang akan memanggil kesetiaan-kesetiaan terbaik lainnya. (hlm. 207)

-x-

Awalnya saya tidak begitu tertarik dengan novel ini. Tapi kesempatan membeli buku yang saya inginkan sebagai hadiah Reading Challenge, membuat saya meliriknya. Terlepas dari Tere Liye adalah salah satu penulis favorit saya, anggap saja ketidaktertarikan saya karena timbunan yang masih menumpuk >_<

Oke, kembali ke Pulang. Kabarnya novel ini hampir mirip dengan dua sekuel novel Tere Liye sebelumnya, yakni Negeri Para Bedebah dan Negeri di Ujung Tanduk. Berhubung saya tidak membaca keduanya, maka bagi saya Pulang adalah hal baru. Dalam artian, ini pertama kalinya saya membaca novel Tere Liye yang berbicara tentang politik.

Cukup menarik memang. Apalagi di satu sisi membahas hal gelap shadow economy dengan segala dunia hitamnya seperti penyelundupan, pencucian uang, dan lain-lain yang berhubungan dengan pasar gelap juga dengan adegan-adegan action setiap tokohnya yang tak jarang membuat ketegangan tersendiri. Namun di sisi lain juga mengajarkan makna kehidupan. Dan seperti biasa, penulis memang selalu memiliki ciri khas satu ini. Tidak jauh beda dengan novel Rindu dan Rembulan Tenggelam di Wajahmu, Pulang pun mengandung pertanyaan dari tokoh utama. Dan sang tokoh utama memiliki seorang guru untuk menjawab setiap pertanyaannya.

“… Sejatinya, dalam hidup ini kita tidak pernah berusaha mengalahkan orang lain, dan itu sama sekali tidak perlu. Kita cukup mengalahkan diri sendiri. Egoisme. Ketidakpedulian. Ambisi. Rasa takut. Pertanyaan. Keraguan. Sekali kau bisa menang dalam pertempuran itu, maka pertempuran lainnya akan mudah saja.” (hlm. 219)

Hidup ini adalah perjalanan panjang dan tidak selalu mulus. Pada hari ke berapa dan pada jam ke berapa, kita tidak pernah tahu, rasa sakit apa yang kita lalui. Kita tidak tahu kapan hidup akan membanting kita dalam sekali, membuat terduduk, untuk kemudian memaksa kita mengambil keputusan. Satu-dua keputusan itu membuat kita bangga, sedangkan sisanya lebih banyak menghasilkan penyesalan. (hlm. 262)

“Tapi sungguh, jangan dilawan semua hari-hari menyakitkan itu, Nak. Jangan pernah kau lawan. Karena kau pasti kalah. Mau semuak apa pun kau dengan hari-hari itu, matahari akan tetap terbit indah seperti yang kita lihat sekarang. Mau sejijik apa pun kau dengan hari-hari itu, matahari akan tetap memenuhi janjinya, terbit dan terbit lagi tanpa peduli apa perasaanmu.  Kau keliru sekali jika berusaha melawannya, membencinya, itu tidak pernah menyelesaikan masalah.” (hlm. 339)

“… Peluk erat-erat. Dekap seluruh kebencian itu. Hanya itu cara agar hatimu damai, Nak. Semua pertanyaan, semua keraguan, semua kecemasan, semua kenangan masa lalu, peluklah mereka erat-erat. Tidak perlu disesali, tidak perlu membenci, buat apa? Bukankah kita selalu bisa melihat hari yang indah meski di hari terburuk sekalipun?” (hlm. 339)

“… Sepanjang kita mau melihatnya, msks kita selalu bisa menyaksikan masih ada hal indah di hari paling buruk sekalipun.” (hlm. 340)

“Ketahauilah, Nak, hidup ini tidak pernah tentang mengalahkan siapa pun. Hidup ini hanya tentang kedamaian di hatimu. Saat kau mampu berdamai, maka saat itulah kau telah memenangkan seluruh pertempuran.” (hlm. 340)

“… tidak mengapa jika rasa takut itu hadir, sepanjang itu baik, dan menyadari masih ada yang memegang takdir. (hlm. 343)

Akan selalu ada hari-hari menyakitkan dan kita tidak tahu kapan hari itu menghantam kita. Tapi akan selalu ada hari-hari berikutnya, memulai bab yang baru bersama matahari terbit. (hlm. 345)

Satu yang mengganjal adalah di halaman 351. Novel Pulang menggunakan sudut pandang orang pertama, dimana Bujang sebagai tokoh utamanya. Namun pada halaman 351 saat Bujang menelepon temannya, terdapat kalimat, “Eh, tentu saja aku akan membantu, Ayah.” White menggaruk kepala, sedikit kikuk. Dan juga kalimat White meletakkan gagang telepon, dia berteriak memanggil koki dan pelayan restorannya, bilang dia harus segera pergi. Padahal pandangan sudut orang pertama sangat terbatas. Dari mana Bujang tahu White menggaruk kepala dan meletakkan gagang telepon? Sementara jarak mereka berjauhan.

Secara keseluruhan, meski Best Seller, saya hanya tidak bisa bilang bahwa sangat menyukai novel ini. Pulang mengusung alur maju mundur. Dimana diceritakan saat awal Bujang berusia 15 tahun, lalu maju ke 35 tahun, mundur 10 tahun, dan seterusnya. Tentu saja ini menjadi bagian agar cerita menjadi lebih detail. Namun pada bagian tertentu, sering saya harus membolak balik halaman hanya untuk mengingat alur cerita sebelumnya ke alur cerita selanjutnya. Ya, atau mungkin sayanya saja yang telat mikir -_-

Tapi Pulang tetap memberi saya kesan. Apalagi jika bukan nilai-nilai kehidupan yang diberikan. Pulang, dalam novel ini bermakna, bahwa setiap manusia akan pulang pada hakikatnya.

“… Di titik ketika kau seolah bisa keluar dari tubuh sendiri, berdiri, menatap refleksi dirimu seperti sedang menatap cermin. Kau seperti bisa menyentuhnya, tersenyum takzim, menyaksikan betapa jernihnya kehidupan. Saat itu terjadi, kau telah pulang, Bujang. Pulang pada hakikat kehidupan. Pulang, memeluk erat semua kesedihan dan kegembiraan.” (hlm. 388)

Iklan

One thought on “Pulang: Kembali kepada Hakikat

  1. […] Hidup ini adalah perjalanan panjang dan tidak selalu mulus. Pada hari ke berapa dan pada jam ke berapa, kita tidak pernah tahu, rasa sakit apa yang kita lalui. Kita tidak tahu kapan hidup akan membanting kita dalam sekali, membuat terduduk, untuk kemudian memaksa kita mengambil keputusan. Satu-dua keputusan itu membuat kita bangga, sedangkan sisanya lebih banyak menghasilkan penyesalan. (hlm. 262) – Pulang […]

Thank you for not comment out of topic

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s