Malam-malam Terang: Malam Penuh Hikmah

Malam-malam Terang

Judul: Malam-malam Terang
Penulis: Tasniem Fauzia Rais & Ridho Rahmadi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan Kedua: Desember 2015
ISBN: 978-602-032-454-8

“Jadilah bintang yang paling terang kelak, jangan menyerah.” (hlm. 9)

Gagal dalam nilai ujian akhir, barangkali menjadi momok yang cukup membuat seorang siswa terpuruk. Apalagi jika terjadi pada seorang siswa yang biasanya dikenal berprestasi di sekolahnya. Hal itulah yang terjadi pada Tasniem, gadis berusia 15 tahun saat itu. Hasil EBTANASnya jauh dari yang ia harapkan. Padahal Ninim, begitu ia biasa dipanggil, sudah berharap bisa masuk SMA 3, salah satu sekolah favorit di kotanya, Yogyakarta.

Dalam keterpurukan itu, Ninim memutuskan untuk pergi ke rumah neneknya di Solo. Di tengah perjalanan, ia menemui berbagai kejadian. Mulai dari dipertemukannya sepasang suami istri dan satu anak remaja yang memakai kaos seragam bertuliskan “Singapore”, seorang ibu yang nyaris kecopetan dan meninggalkan majalah “Study in Singapore”, hingga sampai di Solo pun, neneknya bercerita tentang seorang sahabatnya yang tinggal di Singapura bersama suaminya.

Merasa diberi petunjuk, Ninim pulang ke Yogya dengan hati bergejolak semangat. Ia minta izin pada ibunya untuk merantau ke Singapura. Meski awalnya tidak diizinkan karena terkendala biaya, pada akhirnya orang tua Ninim menyetujui dengan pengorbanan menjual sepetak tanah yang sudah disiapkan orang tuanya sejak Ninim lahir.

jangan berkawan dengan prasangka burukmu! (hlm. 30)

“Setinggi apapun engkau terbang, dan ke belahan bumi mana pun kelak engkau bertualang, suatu saat kembalilah, negeri ini membutuhkanmu.” (hlm. 33)

Globe College of Singapore, atau lebih sering disebut GC, adalah pilihan sekolah Ninim di Singapura. Di GC, ia bertemu dengan tiga orang gadis yang menjadi awal mula persahabatan mereka. Angeline Soemantri yang berasal dari Indonesia, Aarin Mohanty dari India, dan Cecilia Ng dari Shanghai, Cina. Toleransi di antara ketiganya pun begitu kental. Cecilia beragama Buddha, Angelina beragama Kristen, dan Aarin beragama Hindu. Meja-meja kami jadi simbol kehidupan beragama yang rukun. Ada Al-Qur’an di atas mejaku, ada patung Buddha dan kitab Tripitaka pada meja Cecilia, ada Injil dan kalung saib pada meja Angelina, dan ada patung Brahma serta kitab Weda pada meja Aarin. (hlm. 45)

Tinggal dalam satu asrama, membuat keempatnya menjadi sahabat yang cukup erat. Kejutan dari sahabat-sahabatnya saat ulang tahun Ninim yang ke-16 meski ternyata kecepatan satu bulan dari tanggal yang seharusnya. Hingga gejolak hati Ninim saat ia hendak pulang ke Yogya ingin bertemu keluarganya namun di sisi lain, saat itu Angelina butuh bantuan Ninim untuk menjadi penerjemah bahasa Jawa untuk menjenguk ayahnya yang sedang sakit, karena ayah Angelina hanya ingat satu bahasa, yakni bahasa Jawa. Di saat itulah Ninim memutuskan untuk membatalkan rencananya ke Yogya dan ikut bersama Angeline dan sahabatnya yang lain ke Malaysia.

Sahabat yang baik, selalu membawa keceriaan, sekalipun ia punya kesedihan. (hlm. 81)

Sahabat sejati berbagi senyum dan sembunyikan pilu. (hlm. 81)

Di GC, Ninim selalu belajar dengan serius. Selain itu, ia selalu memanfaatkan sepertiga malam untuk sholat Tahajud yang kemudian dilanjutkan dengan kegiatan belajar. Hal inilah yang ia lakukan setiap hari. Tak hanya itu, ia juga mempraktekkan apa yang biasa ayahnya lakukan, yakni puasa Daud – sehari puasa, sehari tidak. Hingga akhirnya ia menuai apa yang dilakukannya selama ini. Hasil yang memuaskan. Dan rasa bangkitnya untuk menuju impian besar selanjutnya.

perang melawan hawa nafsu kita sendiri adalah perang yang paling besar. (hlm. 34)

-x-

Jika novel biasanya berbentuk fiksi, maka lain halnya dengan Malam-malam Terang. Tasniem dan segala ceritanya di Singapura adalah kejadian yang sebenarnya. Kegagalannya dalam nilai ujian akhir, nyaris membuatnya terpuruk. Namun siapa sangka, kejadian yang awalnya dianggap ‘bencana’ justru menjadi langkah awal perjalanannya menuju impiannya.

Yang menarik adalah setiap petunjuk-petunjuk yang diberikan pada Tasniem berasal dari do’a-do’a yang ia panjatkan di setiap sepertiga malam. Ya, Tasniem selalu rajin sholat Tahajud. Saat terpuruk pun, ia mengadukan semuanya pada Allah SWT. Barangkali inilah yang disebut keajaiban do’a. Manusia memang terbatas, namun mengingat Tuhan Maha Tak Berbatas, memohon hanya pada-Nya adalah suatu keniscayaan yang dilakukan.

Tak hanya itu, figur sang ayah, Amien Rais, yang dikenal sebagai pejabat dan politikus pun turut membuat saya terharu. Digambarkan, Amien Rais adalah sosok seorang ayah yang sekalipun diliputi banyak kesibukan, namun beliau selalu ingat keluarga dan rajin beribadah. Yang di antaranya, pintar mengaji, menjadi imam dengan bacaan surat dari Al-Qur’an yang cukup panjang, bahkan rutin melakukan puasa Daud. Hal ini pula yang menurun pada Tasniem dan turut ditirunya.

Beberapa kutipan lain yang saya suka:

“… Angkat dagumu, katakan pada dunia bahwa kamu benar, kalau tidak orang jahat akan senang menunjukkan bahwa kamu salah.” (hlm. 51)

“… hidup itu terbatas waktunya, sementara hidup setelah kematian itu abadi. Orang yang cerdas adalah orang yang mempersiapkan segala sesuatu untuknya di dunia yang juga sekaligus dapat membawa kebaikan baginya di akhirat kelak. Jadi, kamu melakukan satu, untuk keduanya.” (hlm. 52-53)

sebuah pertandingan adalah replika kerja keras pantang menyerah demi tercapai puncak idaman. Ia adalah sebuah proses, memenangkan proses itu sendiri lebih dahsyat daripada memenangkan skor pertandingan. (hlm. 98)

Hari ini adalah untuk memenangkan pertempuran, memberikan yang paling baik dari yang kita punya. Karena barangkali hari ini jadi yang terakhir. (hlm. 99)

Hari esok hanya untuk para pejuang yang pantang berhenti ‘tuk serahkan diri. (hlm. 100)

carilah suami yang pandai membaca Al-Qur’an. Kalau dia pandai membaca ayat-ayat Tuhan, membacamu sebagai istri adalah perkara mudah. (hlm. 179)

Merantau adalah melepas sauh, mengembangkan layar. Berteman dengan bintang, berkawan dengan camar, dan bersahabat dengan angin. Matahari terbit dan tenggelam jadi pengingat, waktu yang terus berjalan tak pernah peduli, maka kejarlah atau kau akan jauh tertinggal. (hlm. 190)

terlalu banyak berharap dalam sebuah persahabatan adalah sebuah bom waktu, yang cepat lambat akan menghancurkan semuanya. Maka sesuatu yang tidak berlebihan akan jadi sesuatu yang tak lekang oleh waktu. (hlm. 198)

Hidup adalah proses, bukan sepintas kejadian! (hlm. 207)

Kita adalah bintang yang bersinar paling terang di antara ribuan lainnya yang ada dalam konstelasi. Kita adalah pemenang dari seluruh penduduk rasi. (hlm. 210)

Yang mengganjal dalam buku ini adalah kisah asmara Tasniem dan Ridho sang suami yang tiba-tiba terasa paksa disisipkan. Mengingat keseluruhan isi dari awal adalah kisah tentang Tasniem dan studinya di Singapura. Meskipun memang di tengah-tengah ada cerita yang bersambungan saat Tasniem lulus sekolah dan meneruskan kuliah. Hal ini pula yang membuat saya cukup bingung tentang dua orang penulis yang dicantumkan. Mengingat setiap cerita rasanya hanya cerita tentang Tasniem yang ditulis dengan gaya yang sama pula. Lebih-lebih memakai kata ganti orang pertama. Yang dalam POV ini memang hanya satu orang yang bercerita.

Terlepas dari dua hal tadi, saya tetap memberi empat bintang untuk buku Malam-malam Terang. Segala cerita Tasniem dalam perjalanan studinya, banyak memberikan hikmah yang barangkali patut jadi perenungan. Bahwa lagi-lagi manusia adalah makhluk yang serba terbatas, namun dengan selalu mengingat dan meminta petunjuk dan pertolongan-Nya, membuat kita akan lebih kuat dan jalan akan terasa lebih mudah.

Hal yang sama pula saya rasakan. Salah satunya adalah saat saya terpuruk lepas dari pacaran. Saat itu tidak ada yang tahu dan hanya Allah lah tempat saya memohon ampun dan petunjuk. Alhamdulillah, sebagai balasannya, Allah memberi saya suami yang luar biasa dan kehamilan yang begitu cepat dari yang saya kira. Masya Allah.. Allah memang Maha Perencana terbaik.

Hai para perempuan, kedua kakimu cukuplah kuat untuk menopang seberat apa pun mimpi-mimpi yang ingin kaugapai. Sekalipun semuanya setinggi langit. Kedua bahumu, cukup tangguh untuk menampung segala macam tempaan ujian yang datang dari Tuhan. Untuk itu, mulai esok hari, di hadapan cermin, lihatlah seorang pemenang, lihatlah seorang yang kuat dan mampu, dan lihatlah seorang perempuan yang mau bekerja keras. Perempuan bukanlah makhluk lemah, sebaliknya, ia kuat dan mampu bertahan bagai karang di tengah ombak kehidupan. Benar, kan? Jawab dan buktikan kepada para peragu yang menyangsikan itu semua. Tunjukkan bahwa kita bisa. (hlm. 243)

Iklan

Thank you for not comment out of topic

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s