Sabtu Bersama Bapak: Tentang Menjadi yang Baik

Sabtu Bersama Bapak.delinabook

Judul: Sabtu Bersama Bapak
Penulis: Adhitya Mulya
Penerbit: Gagas Media
Cetakan Kesembilan: 2015
Jumlah Halaman: x+278 hlm. 
ISBN: 979-780-721-5

Gunawan Garnida, pria berusia 38 tahun itu tahu bahwa hidupnya tidak akan lama lagi. Ia divonis kanker yang menyebabkan waktu hidupnya hanya tinggal satu tahun lagi. Dalam kurun waktu itu, ia tidak ingin menyia-nyiakannya. Bersama sang istri, Itje Garnida ia merekam video-video yang ia tahu akan berguna bagi anak-anaknya yakni Satya dan Cakra kelak. Pesan-pesan yang ia tinggalkan untuk menjadi panduan anak-anaknya hingga dewasa.

Satya dan Cakra, setiap hari Sabtu mereka tidak lagi bermain. Mereka lebih memilih memutar video-video bapak. Bagi mereka, itulah Sabtu mereka. Dengan semua video itu, mereka tidak pernah merasa kehilangan Bapak. Dan memang itu niat Bapak merekam semua video, agar anak-anaknya tidak pernah merasa kehilangan sekalipun mereka sudah di dunia yang berbeda.

Bapak sudah siapkan.
Ketika kalian punya pertanyaan, kalian tidak pernah perlu bingung ke mana harus mencari jawaban.
I don’t let death take these, away from us.
I don’t give death, a chance.”

Beranjak dewasa, Satya tumbuh menjadi pria 33 tahun yang gagah dan berprofesi sebagai seorang geophysicist untuk NOG (Norse Oil og Gas) di Denmark. Sayang, kegagahannya berbanding terbalik dengan jauhnya ia menjadi bapak dan suami yang baik bagi istri dan anak-anaknya. Setiap pulang, selalu saja ada bahan-bahan yang membuat ia marah. Meski sang istri sudah berusaha menjadi istri dan ibu yang baik bagi anak-anaknya.

Lain hal dengan Satya. Soal tampang, Cakra jauh di bawah Satya. Hingga usia 30 tahun dan berprofesi sebagai Deputy Director dalam sebuah bank ia belum juga mendapatkan jodoh. Meski semua kemapanan sudah ia miliki, tapi urusan wanita ia tidak memiliki keterampilan seperti kakaknya.

Menikah itu banyak tanggung jawabnya. Rencanakan. Rencanakan untuk kalian. Rencanakan untu anak-anak kalian. (hlm. 21)

Ibu Itje sendiri, semenjak ditinggal suaminya, membangun 8 warung makan. Kekhawatirannya pada Cakra yang belum mendapatkan jodoh, membuat ia merasa harus kuat meski dokter memvonisnya terkena kanker payudara.

Dalam perjalanan Satya yang belum menjadi bapak dan suami yang baik, Cakra yang belum mendapatkan jodoh inilah pesan-pesan Bapak kembali diputar dalam ingatan mereka.

-x-

Lima bintang! Ya, dengan semangat saya berkata seperti itu setelah menuntaskan Sabtu Bersama Bapak ini. Tak salah jika sudah cukup lama masuk dalam wishlist karena bertebaran review yang membaguskan novel ini. Meski saya tidak sampai menangis seperti kebanyakan, tapi rasa haru dalam novel ini memang sangat terasa.

Menarik tentang cerita seorang bapak yang ia tahu hidupnya tak lama lagi justru memikirkan anak-anaknya. Ia meninggalkan video-video yang berisi pesan yang ia tahu akan berguna bagi anak-anaknya juga agar mereka tidak pernah merasa kehilangan sang bapak. Bahkan ia sudah mempersiapkan bekal-bekal agar istrinya tidak perlu menyusahkan anaknya kelak.

“Akan datang juga Kang, masanya… semua orang tidak akan membiarkan kalian menang. Jadi, kalian harus pintar. Kalian harus kuat. Kalian harus bisa berdiri dan menang dengan kaki-kaki sendiri.” (hlm. 130-131)

Karena video yang mengandung pesan inilah, barangkali novel ini juga cocok digolongkan sebagai buku parenting. Jika selama ini buku parenting dikemas dalam bentuk non fiksi dan mungkin terasa membosankan, maka saya rekomendasikan buku ini. Bukan hanya cerita fiksi yang kita dapatkan, tapi Sabtu Bersama Bapak juga mengajarkan kita bagaimana menjadi orangtua, suami, istri dan ibu yang baik. Ya, semua terangkum di dalamnya.

Berikut tebaran-tebaran yang secara tidak langsung berbicara tentang ilmu parenting:

“Seorang anak, tidak wajib menjadi baik atau pintar hanya karena dia sulung. Nanti yang sulung benci sama takdirnya dan si bungsu tidak belajar tanggung jawab dengan cara yang sama. Semua anak wajib menjadi baik dan pintar karena memang itu yang sebaiknya semua manusia lakukan.” (hlm. 104-105)

“Menjadi panutan bukan tugas anak sulung-kepada adik-adiknya. Menjadi panutan adalah tugas orangtua-untuk semua anak.” (hlm. 106)

setiap anak membangun rasa percaya diri yang efektif ketika mereka menyelesaikan konflik mereka sendiri. (hlm. 144)

penting bagi anak untuk diberi ruang, waktu, dan support untuk mendorong keterbatasan diri. (hlm. 148)

Ketika orangtua memberikan waktu dan ruang untuk bersimpati dan berempati pada si Sulung, anak sulung itu akan memiliki waktu dan ruang untuk bersimpati dan berempati pada adik-adiknya. (hlm. 208)

Ada satu pelajaran menarik lainnya, salah satunya adalah tentang pentingnya menyenangkan suami. Satu wanita mengajarkan bahwa setiap sang suami pulang, ia berusaha untuk menyenangkan pandangan suami dengan dandanan yang suami suka. Sementara yang lain, selalu berusaha menjadi istri yang agar suaminya betah di rumah. Sebagai seorang istri, tentu saja ini bisa menjadi pembelajaran bagi saya juga mungkin bagi wanita-wanita lain yang sudah punya suami.

Kutipan-kutipan yang saya suka:

“… suami yang baik tidak akan tega mengajak istrinya untuk melarat. …” (hlm. 17)

Jika ingin menilai seseorang, jangan nilai dia dari bagaimana dia berinteraksi dengan kita, karena itu bisa saja tertutup topeng. Tapi nilai dia dari bagaimana orang itu berinteraksi dengan orang-orang yang dia sayang. (hlm. 35-36)

meminta maaf ketika salah adalah wujud dari banyak hal. Wujud dari sadar bahwa seseorang cukup mawas diri bahwa dia salah. Wujud dari kemenangan dia melawan arogansi. Wujud dari penghargaan dia kepada orang yang dimintakan maaf. Tidak meminta maaf membuat seseorang terlihat bodoh dan arogan. (hlm. 80)

“Harga diri kamu datang dari dalam hati kamu dan berdampak ke orang luar. Bukan dari barang/orang luar, berdampak ke dalam hati.” (hlm. 120)

“… Berapa kali kamu jatuh itu gak penting. Yang penting berapa kali kamu bangkit lagi.” (hlm. 130)

Mimpi hanya baik jika kita melakukan planning untuk merealisasikan mimpi itu. Jika tidak, kalian hanya akan buang waktu. (hlm. 150)

Tapi mimpi tanpa rencana dan action, hanya akan membuat anak istri kalian lapar. (hlm. 151)

“Kalo bukan kamu yang ngehargain diri kamu, gak akan ada yang ngehargain kamu.” (hlm. 178)

“Carilah pasangan yang dapat menjadi perhiasan dunia dan akhirat.” (hlm. 180)

“Karena Tuhan pun melihat manusia dari yang benar dan salah. Dan yang benar itu yang baik. Bukan dari mana dia berasal.” (hlm. 207)

“Membangun sebuah hubungan itu butuh dua orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Bukan yang saling ngisi kelemahan,…” (hlm. 217)

“Karena untuk menjadi kuat, adalah tanggung jawab masing-masing orang. Bukan tanggung jawab orang lain.” (hlm. 217)

Find someone complimentary, not supplementary. (hlm. 217)

“Laki atau perempuan yang baik itu, gak bikin pasangannya cemburu.

Laki, atau perempuan yang baik itu… bikin orang lain cemburu sama pasangannya.” (hlm. 227-228)

Beberapa cerita menggunakan catatan kaki, yang mungkin menurut saya kurang begitu penting untuk dijadikan keterangan. Meski begitu, dengan adanya catatan kaki tersebut, tak jarang mengundang gelak tawa dan sejenak menjadi hiburan.

Overall, novel yang sangat bagus dan cocok untuk dibaca orangtua. Baik bapak, ibu maupun suami dan istri 🙂

Ah ya, kabarnya novel ini akan dijadikan film. Entah kapan akan tayang, tapi yang pasti saya adalah salah satu yang tidak sabar menunggu filmnya. Semoga saja tidak meleset jauh dari isi novelnya.

Iklan

2 thoughts on “Sabtu Bersama Bapak: Tentang Menjadi yang Baik

Thank you for not comment out of topic

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s