Kado Pernikahan untuk Istriku: Sebuah Kado yang Indah

Kado Pernikahan untuk Istriku.delinabook

Judul: Kado Pernikahan untuk Istriku
Penulis: Mohammad Fauzil Adhim
Penerbit: Mitra Pustaka
Cetakan XXX: Juli 2014

“Tiga kunci kebahagiaan seorang laki-laki adalah istri shalihah yang jika dipandang membuatmu semakin sayang dan jika kamu pergi membuatmu merasa aman, dia bisa menjaga kehormatanmu, dirinya dan hartamu; kendaraan yang baik yang bisa mengantarnya kemana kamu pergi; dan rumah yang damai yang penuh kasih sayang. …” (hlm. 29)

Pernikahan, barangkali adalah salah satu fase hidup manusia di puncak tertinggi. Bukan saja perkara menghasilkan keturunan, namun sesuai QS. Ar-Rum ayat 21, Allah berfirman yang artinya, “Dan di antara ayat-ayat-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa nyaman kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu mawadah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” Ya, karena Allah sengaja mengirimkan seorang wanita agar lelaki lebih tenteram pun dengan wanita yang diberikan ketenteraman dengan kehadiran seorang laki-laki.

“Sesungguhnya ketika seorang suami memperhatikan istrinya dan istrinya memperhatikan suaminya,” kata Nabi SAW menjelaskan, “maka Allah memperhatikan mereka berdua dengan perhatian penuh rahmat. Manakala suaminya merengkuh telapak tangannya (diremas-remas), maka berguguranlah dosa-dosa suami-istri itu dari sela-sela jari-jemarinya.” (Diriwayatkan Maisarah bin Ali dari Ar-Rafi’ dari Abu Sa’id Al-Khudri r.a.). (hlm. 32)

Sebab fase tertinggi inilah, pernikahan bukan hal yang menjadi permainan belaka atau hubungan sesaat. Oleh karenanya buku Kado Pernikahan untuk Istriku ini hadir untuk sedikit memberikan panduan sebelum melangkah ke jenjangnya. Ya, meskipun buku ini memiliki tebal 743 halaman, panduan dalam pernikahan tidaklah cukup. Sebab terlalu-amat banyak yang masih harus digali dari banyak sumber lainnya.

Dibagi menjadi tiga jendela bagian. Yakni jendela pertama berisi hal-hal yang hendaknya dijalani sebelum menuju akad nikah. Di antaranya mulai dari peminangan atau lamaran, mempertimbangkan pinangan, mengenai sumber informasi dan perantara, hingga perbedaan antara menyegerakan nikah dan tergesa-gesa.

Selain itu buku ini juga menggambarkan seperti apa wanita-wanita yang barakah itu yang salah satunya adalah tidak memberatkan mahar saat akan menikah pada calon suaminya, juga membuat undangan-undangan yang sejatinya memberi manfaat agar tidak mubadzir hingga niat awal menikah itu sendiri yang akan berpengaruh pada kehidupan pernikahan selanjutnya.

Mahar menunjukkan kebenaran dan kesungguhan cinta kasih laki-laki yang meminangnya. Ia merupakan bukti kebenaran ucapan laki-laki atas keinginannya untuk menjadi suami bagi orang yang dicintainya. (hlm. 198)

Niat adalah kebangkitan jiwa dan kecenderungannya pada apa yang muncul padanya berupa tujuan yang dituntut yang penting baginya, baik secara segera maupun ditangguhkan. (hlm. 264)

Pada jendela kedua, setelah akad nikah dilaksanakan, di sinilah fase kehidupan rumah tangga dimulai. Memasuki malam zafaf/malam pertama, masa-masa pengantin baru, memutuskan tempat tinggal bersama suami. Juga cara-cara untuk memanfaatkan keindahan setelah pernikahan yang di antaranya berhias untuk suami untuk menciptakan kemesraan dalam rumah tangga.

“Harta yang utama adalah lisan yang senantiasa berdzikir, hati yang senantiasa bersyukur, dan istri beriman yang membantu suami dalam menegakkan bangunan imannya.” (HR. Ibnu Majah & Tirmidzi, hasan). (hlm. 251)

Masuk pada jendela terakhir, maka fase inilah saat-saat suami istri benar-benar memasuki rumah tangga. Menjaga rumah tangga, rencana-rencana untuk masa depan keluarga hingga masuk dalam persoalan-persoalan rumah tangga.

Menariknya, pada jendela ketiga ini kita akan menemukan salah satu keasyikan yang bisa menjadi penyebab kehancuran rumah tangga. Hal itu adalah menggunjingkan orang lain. Jika bisa saya simpulkan, barangkali karena menggunjing atau dengan kata lain kita membuka aib orang lain yang sebenarnya sudah Allah tutupi, namun justru kita buka dan ceritakan pada pasangan kita sendiri, maka bisa jadi Allah murka. Allah justru yang gantian akan membuka aib kita di hadapan orang lain. Naudzubillah. Semoga kita terhindar dari perbuatan ini. Dan Allah senantiasa melindungi kita dari aib-aib kita sendiri. Mudah-mudahan Allah kelak mematikan kita, orang-orang tua kita, teman hidup kita, saudara-saudara kita, sahabat-sahabat kita serta orang-orang yang dekat kita dalam keadaan memperoleh ampunan dan ridha Allah. (hlm. 135)

Rasulullah SAW mengajarkan, “Ada tiga perkara yang tidak seorang pun terlepas darinya, yaitu prasangka, rasa sial, dan dengki. Dan aku akan memberikan jalan keluar bagimu dari semua itu, yaitu apabila timbul pada dirimu prasangka, janganlah dinyatakan; dan bila timbul di hatimu rasa kecewa, jangan cepat dienyahkan; dan bila timbul di hatimu dengki, janganlah diperturutkan.” (hlm. 69)

Pada persoalan rumah tangga ada dua bahasan, di antaranya masalah perceraian juga poligamis. Tentu saja kedua masalah ini memang menjadi masalah terbesar dalam sebuah pernikahan. Bukan berarti pula keduanya tak boleh dilakukan, sebab perceraian sekalipun dibenci Allah, namun jika pernikahan sudah tidak menghasilkan maslahat atau kebaikan, maka perceraian boleh dilakukan. Pun dengan poligami yang tidak sekalipun Allah melarangnya jika laki-laki/suami mampu berlaku adil terhadap istri-istrinya.

Sebagai bagian dari syari’at Islam, maka persoalannya bukanlah dalam hal setuju atau tidak setuju dengan pelaksanaan pernikahan poligamis. Persoalannya lebih berkait dengan apakah kita punya kesiapan atau tidak, bisa berbuat adil atau tidak, memenuhi persyaratan atau tidak, dan termasuk soal ia tergerak untuk melakukan pernikahan poligamis saat ia dalam keadaan menikah poligamis atau monogamis baginya sama saja. (hlm. 718-719)

Kutipan-kutipan yang saya suka:

“Fa idza ‘azzamta, fa tawakkal ‘alaLlah.” Maka, jika kamu telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. (hlm. 153)

“Janganlah salah satu di antara kamu sekalian ber-imma’ah, yang jika orang lain baik maka engkau baik, dan jika mereka jele maka engkau ikut jelek pula. Akan tetapi hendaklah engkau tetap konsisten terhadap (keputusan) dirimu. Jika orang-orang baik, maka engkau juga baik, dan jika mereka jelek, hendaklah engkau menjauhinya keburukan-keburukan mereka.” (HR. Tirmidzi) (hlm. 170)

Rasulullah menasehatkan: “Mintalah fatwa dari hatimu. Kebaikan adalah apa-apa yang tenteram jiwa padanya dan tenteram pula di hati. Dan dosa itu adalah apa-apa yang syak dalam jiwa dan ragu-ragu dalam hati, walaupun orang-orang memberikan fatwa kepadamu dan mereka membenarkannya.” (hlm. 173)

Jiwalah yang menyimpan kekuatan dan kekayaan. Jiwa yang besar dan kokoh mampu mencairkan gunung-gunung batu yang keras. Tetapi, jiwa yang kerdil justru menyembunyikan kelemahan di balik apa-apa yang tampak sebagai kekuatan. (hlm. 363)

“Wahai Anakku, sesungguhnya aku akan mengajarkanmu beberapa kata ini sebagai nasehat buatmu. Jagalah hak-hak Allah, niscaya Allah pasti akan menjagamu. Jagalah dirimu dari berbuat dosa terhadap Allah, niscaya Allah akan selalu berada di hadapanmu.

Apabila engkau menginginkan sesuatu, mintalah pada Allah. Dan apabila engkau menginginkan pertolongan, mintalah pertolongan pada Allah. Ketahuilah, bahwa apabila seluruh umat manusia berkumpul untuk memberi manfaat padamu, mereka tidak akan mampu melakukannya kecuali apa yang telah dituliskan oleh Allah di dalam takdirmu itu. Juga sebaliknya, apabila mereka berkumpul untuk mencelakai dirimu, niscaya mereka tidak akan mampu mencelakaimu sedikit pun kecuali atas kehendak Allah. (hlm. 609-610)

Kesabaran meliputi kerelaan menerima, ketahanan menghadapi dan kemampuan menahan diri dari melakukan sesuatu yang mampu ia lakukan, tetapi jika dikerjakan tidak banyak mendatangkan kemaslahatan. (hlm. 697-698)

Sabar juga memuat ketahanan untuk menunggu saat yang baik karena bersama kesulitan ada kemudahan, serta menjaga harapan kepada Allah karena sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat. (hlm. 699)

Mohon maaf jika saya tidak bisa menjabarkan secara detail setiap pembahasannya. Sebab terlalu panjang jika dijelaskan satu per satu. Ada baiknya memang jika dibaca sendiri. Selain untuk menghindari kesalahan saya dalam penulisan, juga agar hikmah yang disampaikan dalam buku ini benar-benar tersampaikan pada pembaca langsung.

Akhir kata, saya sangat merekomendasikan buku ini pada siapapun. Entah yang akan menikah, sudah menikah bahkan sudah berumah tangga sekalipun. Dan saya setuju dengan judul buku ini, Kado Pernikahan untuk Istriku. Tidak hanya terbalut judul yang indah, namun sangat sesuai dengan isi dan banyak manfaat yang kita dapatkan di dalamnya.

Psst, saran saya, jika kau akan menikah, mintalah buku ini untuk dijadikan kado atau bahkan mahar 😛

Iklan

Thank you for not comment out of topic

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s