Cinta adalah Perlawanan: Kemantapan, Kemampuan, dan Pembuktian

cinta adalah perlawanan.delinabooks

Judul: Cinta adalah Perlawanan
Penulis: Azhar Nurun Ala
Penerbit: Azharologia
Cetakan Pertama: September 2015

Aku mencintaimu karena aku memilih untuk mencintaimu – itu saja. Bukankah cinta lebih butuh pembuktian daripada alasan. (hlm. 5)

Ini tentang seorang pria yang jatuh cinta pada seorang wanita. Bukan jalan umum atau yang seringkali dipilih orang lain yang mudah mengungkapkan cinta. Pria ini sadar bahwa cinta tidak semudah itu. Butuh pertanggungjawaban atas kata cinta itu sendiri.

Menyatakan cinta, dan upaya untuk membuktikannya selalu membutuhkan dua syarat penting: kemantapan hati dan kemampuan. (hlm. 7)

Adalah Azhar Nurun Ala alias cerita si penulis itu sendiri. Sejak perjumpaan pertama, atau lebih tepatnya saat ia mulai jatuh cinta pada seorang gadis hingga perlawanan untuk saling menyempurnakan. Seluruhnya ia rangkum dalam satu buku yang berjudul Cinta adalah Perlawanan. Jadi dapatlah dikatakan buku ini adalah sebuah memoar. (hlm. 8)

Bila cinta disimpan baik-baik sebelum waktunya, memang tidak akan mudah perjalanannya. Berliku, penuh prasangka dan tanda tanya. Perjumpaan yang terlihat biasa saja meski sebenarnya hati bergejolak, keterpisahan yang menimbulkan kekhawatiran hingga perlawanan untuk menepis segala perasaan ketakutan. Barangkali itulah titik besar yang dirasakan penulis.

Perasaan yang entah bagaimana caranya selalu bisa membuat manusia tiba-tiba merasa begitu beruntung pernah dilahirkan ke dunia. Dan, untuk sejenak, berhenti mengutuki hidup yang sejak lahir hampir tak pernah disyukuri. Perasaan yang melipatgandakan energi, sehingga hari seolah selalu fajar dan matahari selalu bersinar dengan cahayanya yang menenangkan. Bilapun diizinkan datang, malam akan hadir bermandikan cahaya rembulan. (hlm. 17)

Wanita itu lebih tua darinya tiga tahun. Mereka dipertemukan dalam satu lembaga eksekutif di sebuah universitas. Hari-hari Azhar jalani seperti biasa. Pun setiap pertemuan dengan sang wanita selalu biasa saja, lagi-lagi mesti sebenarnya hatinya bergejolak. Ia tak pernah berani menyatakan cinta sebelum ia yakin bahwa dirinya mantap dan mampu. Terang sudah si wanita tidak pernah tahu bagaimana perasaannya yang sesungguhnya. Sampai keterpisahan membuat Azhar mulai berani menyusun rencana-rencana besar. Sekaligus untuk melawan perasaan-perasaan yang tidak pasti, yang dirasakannya selama ini.

Beberapa tulisan prosa/puisi yang ditulis ulang sudah pernah diterbitkan dalam buku pertamanya Ja(t)uh. Juga novel Tuhan Maha Romantis yang menjadi buku keduanya juga terinspirasi dari kisah Azhar sendiri bersama sang wanita. Dan ini juga menjawab kebenaran dari dugaan saya sebelumnya. Entah mengapa saya sudah merasakan bahwa dua buku itu ia tulis berdasar kisahnya sendiri.

Maka mari kita saling menunggu, tanpa perlu berketuk pintu.

Aku menunggu. Kamu menunggu. Meski terkadang menunggu tak seinci pun menyeret kita untuk bertemu di titik rindu. 

Tapi, adakah yang lebih indah dan syahdu dari dua jiwa yang saling menunggu? Yang tak saling menyapa, tapi diam-diam mengucap nama dalam doa. (hlm. 43)

Jujur saja, saya selalu menyukai gaya tulisan Azhar. Terlampau banyak diksi-diksi yang seringkali membuat saya jatuh cinta dan sulit berpaling dari tulisan-tulisannya.

Kutipan yang saya suka:

‘Jarak dicipta agar rindu tetap hidup tanpa pernah redup’. (hlm. 39)

Mempertanyakan ‘mengapa harus ada perjumpaan bila berujung perpisahan’ adalah sebuah kepengecutan. Dan cinta, juga kebahagiaan yang menyertainya, bukan milik para pengecut. Ia adalah hadiah untuk orang-orang yang berani. Berani berjuang. Berani berdoa. Dan tentu berani menanti tanpa harus merasa tersakiti. Karena senyawa cinta selalu butuh waktu untuk bisa bereaksi. (hlm. 44)

Di antara sekian banyak masalah yang ada di muka bumi ini, ada masalah yang selesai bersama waktu. Seringkali satu-satunya solusi yang kita butuhkan adalah kesabaran untuk membiarkannya berlalu begitu saja. (hlm. 104)

Maka memang tak semua cerita perlu kita percaya. Tak semua nasihat perlu kita dengarkan. Dan tak semua petunjuk perlu kita ikuti. Kadang-kadang kita hanya perlu merenung sambil mengira-ngira, meminta keyakinan dari-Nya, lalu melangkah saja tanpa perlu banyak bicara. (hlm. 106)

kadang-kadang kita memang membutuhkan pertengkaran-peretengkaran itu untuk selalu sadar bahwa kita memang manusia biasa. Kita membutuhkan pertengkaran-pertengkaran itu untuk bisa merasa betapa menyedihkannya hidup dengan perasaan saling membenci. Betapa kita tak bisa hidup sendiri. Betapa kita memang saling membutuhkan satu sama lain. (hlm. 132)

Hanya satu ganjalan saya, mengapa covernya gambar bunga mawar? Adakah filosofis dari mawar ini? Entahlah, saya juga belum paham. Namun di luar itu, cerita-cerita di dalamnya tidak sesederhana bunga mawar tersebut. Azhar banyak mengajarkan tentang cinta yang sebenar-benar cinta. Cinta yang bukan saja harus dikatakan, tapi dibuktikan dan disertai dengan ridho-Nya.

Lupakanlah cinta yang kita tak punya kemampuan untuk mengatakan dan membuktikannya. Lupakanlah cinta yang keindahannya hanya fatamorgana di padang pasir. Lupakanlah cinta yang bahkan kita masih ragu untuk menyebutnya cinta. Cintailah saja hal-hal yang kita memang sanggup mencintainya.

Sebab cinta adalah kesiapan.

Kita baru bisa dikatakan siap mencintai bila hati kita mantap dan kita mampu menunaikan pekerjaan-pekerjaan para pecinta: menjaga, merawat, dan menumbuhkan. (hlm. 136)

Iklan

Thank you for not comment out of topic

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s