Jakarta Underkompor: Memoar Garing Sang Blogger

3592823
Goodreads

Judul: Jakarta Underkompor
Penulis: Arham Kendari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan Kedua: Juli 2008
Jumlah Halaman: 256 hlm.
ISBN: 979-22-3858-1
Baca via ebook aplikasi iJak

Buku ini adalah blog. Blog ini adalah buku.

Apa bedanya? Kayaknya gak jauh-jauh amat deh.

Yang paling mendasar mungkin hanya karena setelah dibukuin, jadi lebih praktis. Bisa dibawa-bawa, bisa dikantongin, bisa dipinjemin, bisa juga dipinjem gak dibalik-balikkin, tergantung kalo elu emang malu-maluin. (hlm. Mukadimah)

See? Dari mukadimah saja buku ini sudah bisa bikin ngikik. Yap, penulis adalah seorang blogger yang tulisan-tulisannya selalu menghibur. Saya sendiri mengenalnya lewat facebook. Awalnya baca salah satu tulisan dia, kok bikin ngakak banget. Sampai akhirnya saya add dan ketagihan dengan tulisannya. Makanya, saat nemu ebook ini berasa girang banget. Soalnya, buku ini sudah jarang ditemukan lagi.

Arham Kendari, sesuai namanya, ia memang berasal dari Kendari. Di mana tuh Kendari? Bukan Sumatra, Kalimantan apalagi Papua ya. Kendari terletak di ujung tenggara Pulau Sulawesi. (hlm. 13)

Jakarta Underkompor sendiri berkisah tentang perjalanan Arham mulai dari Kendari hingga Jakarta. Punya keinginan untuk hidup layak di kota besar, Arham pun memutuskan cuti selama enam bulan dari pekerjaannya di sebuah kantor surat kabar di Kendari.

“Ngomong-ngomong, mau nitip apa lu, Mir? Ayo, gak usah sungkan, ntar kalo sempat gue kirimin dari sana.”

“Gue terserah elu aja dah, Ham. Dompet boleh, jam tangan juga bolehlah,” ujar Samir malu-malu.

“Okeh, kalo dompet ama jam tangan sih gampang dapatnya, asal jangan mesen ikat pinggang, ya? Soalnya itu rada susah ditarik dari pinggang orang di dalam metromini!”

“Lah, emangnya lu mau nyopet di sana?”

“Hihihihi…” (hlm. 165)

Di Jakarta, Arham menumpang di tempat kos kakaknya, Ical. Di sinilah letak memoar yang dimaksud. Mulai dari kenal dengan pekerjaan sebagai artis figuran, gemerlapnya dunia malam, sampai akhirnya ia mendapat pekerjaan di salah satu perusahaan swasta di Jakarta.

Semua dibalut dengan gaya tulisan khas Arham. Santai, mengalir dengan bahasa sehari-hari, tak jarang mengundang gelak tawa. Seperti salah satu cerita bersama keponakannya ini:

“Kalo Oca nitip pisang dempet aja deh, Oom!” bilang Oca lagi, keponakan gue yang laen. Gw bingung maksudnya.

“Pisang dempet? Maksudnya? Pisang dempet ama pisang?”

“Ya iya lah, Oom! Masa pisang dempet ama e’e…?”

Masih banyak cerita lainnya di buku ini. Meski tidak semua sukses bikin ketawa dan terkadang cuma garing, juga setiap ceritanya tidak saling berelasi, tapi buku ini cocok untuk bacaan santai menghibur. Selain itu, buku ini juga dilengkapi dengan beberapa komik singkat buatan Arham sendiri.

Akhir kata, saya setuju dengan kalimat berikut ini:

Pengen cari makan, ngeganjal perut, ngepulin dapur itu alasan klasik yang diucapkan rata-rata orang. Seolah-olah hidup di Jakarta diatur ama makanan, di bawah kendali kompor. Di bawah kepulan asap kompor. (hlm. 194)

Ya, nyatanya hidup di kota besar tidak selamanya enak. Apalagi Jakarta, terkenal dengan kotanya keras dan kejam. Namun, bukan berarti kita tidak bisa tertawa. Seperti membaca buku ini misalnya 😀

Iklan

Thank you for not comment out of topic

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s