5 Guru Kecilku: Kisah Parenting Sederhana

5 Guru Kecilku (1)

Judul: 5 Guru Kecilku (Bagian 1)
Penulis: Kiki Barkiah, S.T.
Penerbit: Mastakka Publishing
ISBN: 978-602-73274-0-5
Cetakan ke: 2, Oktober 2015

Tidak ada yang lebih sempurna dari Rasulullah SAW dalam pengasuhan anak. Maka berilah ruang dalam hati kita untuk menerima bahwa kita bisa salah. Maka tidak perlu kita mengatakan “kami merasa gagal menjadi orangtua” namun katakanlah “bersama Allah kami bisa lebih baik lagi.” – Kiki Barkiah

Memang tak mudah menjadi orang tua, apalagi di zaman yang “super canggih” ini. Dimana teknologi kian pesat, anak-anak juga lebih kritis. Orang tua semakin dituntut untuk pintar-pintar mengikuti perkembangan zaman, namun juga harus pandai dalam pengasuhan agar anak terus merasa nyaman dengan orang tuanya.

Salah satunya Kiki Barkiah, seorang ibu yang mempunyai lima anak. Barangkali beliau bukanlah seorang psikolog, tapi kisah-kisah yang beliau bagikan dalam buku berjudul 5 Guru Kecilku ini mampu memberi hikmah yang bisa dijadikan pelajaran bagi setiap orang tua.

Teh Kiki, begitu beliau akrab dipanggil, bercerita bahwa pernikahannya dengan Aditya Irawan bermula karena pertemuaannya saat i’tikaf dari mesjid Habiburrahman Bandung. Saat itu ia meminta izin pada sang ayah untuk menikah. Lantas saat ditanya niat, Teh Kiki hanya berkata bahwa ia berniat ibadah. Ia juga menjadi ibu bagi anak Aditya, Ali Abdurrahman dari istri sebelumnya yang telah meninggal akibat mengidap penyakit kanker,. Dari pernikahan mereka sendiri lahirlah empat anak: Syahidatush Shafiyah, Syahidan Ash-Shiddiq, Syahidan Al-Faruq, Muhammad Fatih Ar-Rasyid demikianlah nama anak-anak mereka, yang juga tercantum dalam sampul buku ini.

Terdapat 35 kisah yang dibagikan Teh Kiki dari kesehariannya bersama anak-anaknya. Teh Kiki mengajarkan anak-anaknya tentang saling menyayangi dan membantu sesama anggota keluarga, menerapkan homeshooling dengan menonton berbagai video edukasi, membuat art and craft, dan belajar segala sesuatunya dari lingkungan sekitar. Tak hanya itu, Teh Kiki juga menerapkan pelajaran seks dengan mengajarkan batasan aurat dan hubungan dengan lawan jenis sejak dini. Sampai yang tak luput ialah pembagian tugas dalam mendidik anak antara suami dan istri.

… senantiasa menjadikan ayah sebagai pengambil keputusan utama untuk setiap keputusan besar berkaitan dengan anak. (hlm. 146)

Sejak awal menikah Teh Kiki rela meninggalkan segala kesibukannya selama kuliah untuk menjadi ibu rumah tangga penuh bagi anak-anaknya. Seperti yang tercantum dalam halaman 228, “hidup bukan hanya harus memilih apa yang terbaik namun juga harus memilih apa yang harus dikorbankan, serta memilih apa yang harus kita tunda saat ini. Dan setiap saat kita harus kembali menengok apakah pilihan kita mampu melahirkan kebahagiaan yang haqiqi.”

Semuanya tidak mudah, apalagi menghadapi perbedaan-perbedaan perilaku masing-masing anak. Ditambah Teh Kiki dan suami sempat tinggal di perantauan USA dimana tidak ada sanak saudara satupun. Sebagai manusia biasa, ia pun tak ayal sama seperti orang tua pada umumnya. Rasa ingin marah saat anak ‘berulah’, rumah yang berantakan dan anak yang karena kecemburuannya terkadang minta diperhatikan, semua dibalutnya dalam istighfar agar kesabaran terus meliputinya. Ia juga selalu meyakini bahwa jika Allah ada di setiap hati anak, maka ia tinggal berdo’a pada-Nya agar selalu dimudahkan dalam mendidik anak-anaknya.

… dimana pun Allah menempatkan kita, disitulah Allah menginginkan kebaikan bagi kita. (hlm. 42-43)

Terkadang kita hanya perlu mencari sebuah akar permasalahan yang dialami seorang anak, sehingga dengan solusi yang tepat akan mampu menyesuaikan masalah-masalah lainnya. (hlm. 65)

Kecemburuan memang perasaan alamiah yang keberadaannya terkadang penting sebagai wujud dari cinta. Namun cinta yang tulus akan melahirkan kebijaksanaan dalam mengelola rasa cemburu. (hlm. 236-237)

Tak seperti buku parenting pada umumnya, buku ini lebih mengalir. Tentu saja karena cerita-cerita yang ditulis sejatinya kisah dalam keseharian. Namun, ada ganjalan pada penulisan. Beberapa masih terdapat kesalahan pengetikan dan ejaan kata awalan yang tidak tepat. Seperti kata di- yang seharusnya dipisah jika disertai nama tempat. Juga huruf setelah titik yang seharusnya huruf kapital. Semoga untuk cetakkan atau bagian selanjutnya, hal ini lebih diperhatikan, mengingat buku ini sudah masuk kategori Best Seller saat pertama kali diluncurkan dan langsung habis dalam waktu satu hari.

Berdamailah dengan perbedaan, dan bersatulah dalam persamaan. Meski terkadang kita menemui kondisi dimana kita harus tegas berkata “hidupku adalah hidupku dan hidupmu adalah hidupmu” dan kelak kita akan sama-sama mempertanggungjawabkannya. (hlm. 81)

Bagi para orang tua, buku ini cukup direkomenda5 Guru Kecilku (2)sikan. Kisah-kisah Teh Kiki barangkali bisa dijadikan pelajaran dalam mendidik anak. Dimana mendidik anak dengan cara-cara yang kreatif dan tidak kasar, menumbuhkan penuhnya kesabaran sebagai ibu, sampai pembagian tugas dalam mendidik  anak yang sejatinya bukan hanya menjadi tugas ibu, namun juga tugas seorang ayah.

Ya Allah satukan keluarga kami di bawah naungan cinta-Mu. Ikatlah hati kami dengan kasih-Mu. Kumpulkan kami sekeluarga dalam jannah-Mu. (hlm. 24)

Oh ya, buku 5 Guru Kecilku ini juga bisa dibeli lewat Toko Buku Cordoba. Diskon yang diberikan sangat lumayan. Pengiriman juga lancar dan cepat. Untuk lebih jelasnya bisa lihat di sini:

FP: Toko Buku Online Cordoba
IG: @tokobukucordoba
Web : www.tokobukucordoba.com

Resensi dimuat di Koran Jakarta 22 Desember 2015: http://www.koran-jakarta.com/pernak-pernik-pengalaman-menjadi-ibu-rumah-tangga/

Islamic Reading Challenge 2015

Iklan

6 thoughts on “5 Guru Kecilku: Kisah Parenting Sederhana

Thank you for not comment out of topic

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s