Kejujuran Membawa Sengsara: Memahami Sederhananya Kejujuran

PicsArt_11-21-06.27.01

Judul: Kejujuran Membawa Sengsara
Penulis: Tasirun Sulaiman
Penerbit: Erlangga
Tahun Terbit: 2005
ISBN: 65-01-066-7

“Barang siapa dianugerahi hikmah, maka dia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak.” (Al-Qur’an, Al-Baqarah: 269) (hlm. ix)

Kejujuran. Benarlah jika dikatakan jujur itu mahal harganya. Tak ada satu orang pun di dunia ini yang suka dibohongi. Tapi sayangnya, berapa banyak yang justru berbuat tidak jujur? Bahkan pada dirinya sendiri. Seringkali mengutamakan ego pribadi, atas nama kekuasaan kita menginginkan orang lain mengikuti kemauan kita.

Merupakan seri pertama dari Humor Sufistik. Selama ini mungkin kata Sufi terdengar ‘berat’ apapun tulisan yang berkaitan dengannya masih hanya segelintir orang yang bisa memahami. Untuk itulah buku ini hadir dengan bahasa yang lebih sederhana.

Kata “sufi” tidak selalu dikaitkan dengan pertapa muslim atau darwis – suf artinya kain wool (bulu domba yang kasar) karena kebanyakan sufi zaman dahulu mengenakan kain wool. Tapi, sufi juga mengandung pengertian mereka yang memiliki kebersihan (soofin-suci) jiwa, kearifan, kepedulian, dan welas asih kepada sesama. (hlm. xvi)

Terdapat 10 kisah di dalamnya yang sarat makna kejujuran. Di antaranya, seorang imam sufi yang terlalu cepat memberi kesimpulan atas apa yang dilihatnya padahal ia belum memastikan kebenaran pikirannya.

Ada juga kisah seorang raja yang marah karena singgasananya diduduki oleh seorang sufi yang merupakan gurunya. Lantas sang guru berkata, “Apakah baginda tidak pernah merenung barang sejenak, betapa sakit hukuman di akhirat kelak, karena baginda telah duduk di kursi itu untuk bertahun-tahun.!” (hlm. 29)

Selain itu masih ada kisah bahwa apapun bentuk kematian, maka rasanya sama saja. Yang membedakan adalah bagaimana keadaan kita saat maut itu datang menjemput. Apakah kita dalam keadaan berbuat baik atau buruk? Naudzubillah.

“Cerita akan melahirkan banyak tafsiram dan pemahaman. Dia tidak lain hanyalah wahana, sarana, kemasan, bungkus, dan apalagi…”

“Sebagai wahana, kita harus bisa memberdayakan agar orang mendengar dan membacanya mampu memahami dan memberikan pemaknaan.” (hlm. xi)

Tiga kisah di atas hanyalah segelintir kisah, masih ada tujuh kisah yang juga sarat makna. Kelebihan buku ini bukan saja ditulis dalam bahasa yang sederhana, namun dilengkapi juga dengan komik singkat, selain itu di setiap ceritanya kita akan disuguhkan kolom renungan juga inti atau kesimpulan dari setiap cerita yang ditulis. Hal ini tentu akan lebih membuat kita lebih paham.

Kemasyhuran dan kearifan Hatim menyebar hingga Imam Hasan al Basri ingin bertanya kepadanya tentang bagaimana caranya mengendalikan diri dari godaan dunia.

Hatim kemudian menjelaskan bahwa ada empat cara, yakni: Pertama, engkau harus berlapang dada menghadapi kejahilan orang lain. Kedua, engkau tidak boleh memberi kelonggaran pada kejahilanmu sendiri. Ketiga, berikan kepada mereka kepunyaanmu. Dan keempat, janganlah engkau berharap dari kepunyaan mereka. (hlm. 71)

Buku ini memang cetakkan lama, tapi tak usah khawatir sebab buku ini berseri, maka masih ada seri-seri selanjutnya. Buku Seri Teladan Humor Sufistik ini juga tergolong sangat tipis, sehingga hanya butuh waktu sebentar untuk kita menghabiskannya.

Kehidupan sesungguhnya adalah pemberian kesempatam agar digunakan sebagai sarana peningkatan kualitas ruh kita. (hlm. 53)

Ya terakhir, semoga kita senantiasa istiqomah dalam kejujuran. Pada orang lain pun pada diri sendiri 🙂

Apabila kebenaran disampaikan dengan cara-cara yang merusak semangat kebenaran itu sendiri, maka akan dapat merusak kebenaran. (hlm. 67)

Islamic Reading Challenge 2015

Iklan

4 thoughts on “Kejujuran Membawa Sengsara: Memahami Sederhananya Kejujuran

Thank you for not comment out of topic

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s