Sayap-sayap Sakinah: Sayap menuju Ketenteraman

Sayap-sayap Sakinah

Judul: Sayap-sayap Sakinah
Penulis: Afifah Afra, Riawani Elyta
Penerbit: Indiva
Cetakan Pertama: Ramadhan 1435H / Juli 2014
Jumlah Halaman: 248 hlm.
ISBN: 978-602-1614-22-8

Kita adalah sepasang sayap
Sayap-sayap sakinah
Yang tak pernah lelah
Melangkah bersama menuju jannah

Afifah Afra

Selain maut dan rezeki, jodoh adalah sebuah teka-teki terbesar-Nya. Yang tak satupun manusia tahu siapa kelak pendamping hidupnya. Ya, apalagi kalau bukan menikah. Dalam rangka membangun peradaban juga sunnah nabi maka pernikahan menjadi suatu keniscayaan untuk dilakukan.

Rasulullah bersabda: “Jika seseorang menikah maka dia telah menyempurnakan separuh dien-nya. Karenanya, bertakwalah pada Allah pada separuh yang lainnya” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah no. 625). (hlm.14)

Begitu dahsyat makna dien dalam hadits tersebut, ia berarti as-Shultoh (kekuasaan), Al-khudu’lihadzihis shultoh (ketundukan kepada kekuasaan), an-nidhom almunazzalu min hadzhihis Shultoh (peraturan yang dikeluarkan oleh kekuasaan), sekaligus al-jaza’ liman tho’a waman asho’ (balasan dari kekuasaan terhadap yang taat atau yang membangkang) yang berarti meliputi kekuasaan, ketundukan, peraturan, dan balasan! (hlm. 15)

Dalam ritual pernikahan sendiri barangkali kita sering mendengar do’a “Sakinah, Mawaddah Warahmah.” Lantas apa makna ketiganya? Inilah yang coba dibahas dalam buku Sayap-sayap Sakinah. Yang membahas secara garis besar terkait sakinah, maknanya hingga cara agar kita bisa mencapainya.

Disebutkan dalam firman-Nya yang berarti: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” (QS. Ar-Rum: 21). (hlm. 17)

Cenderung dan merasa tenteram itulah hakikat sakinah yang berasal dari kata sakana-yaskunu dan juga sepaket dengan sayap lainnya, mawaddah dan rahmah. (hlm. 17)

Langkah awal untuk menjalani pernikahan tentulah menemukan jodoh. Dalam islam bukan dengan jalan pacaran yang mendekati zina, melainkan dengan cara perjodohan atau dalam islam sering disebut dengan istilah ta’aruf. Beberapa kisah legendaris perjodohan bisa kita temukan pada zaman nabi. Di antaranya, kisah Ratu Bilqis yang terpana akan istana Nabi Sulaiman yang berakhir ia jatuh cinta pada Nabi Sulaiman. Selanjutnya kisah Ali dan Fatimah yang sudah cukup sering kita dengar kisahnya, dimana keduanya memendam cinta hingga Allah mempertemukan mereka dengan jalan yang tak diduga. Masih ada satu lagi kisah mengharukan yang datang dari Salman al-Farisi dan Abu Darda. Saat Salman hendak meminang gadis pujaan hatinya dengan ditemani sahabatnya Abu Darda, gadis itu justru jatuh cinta pada Abu Darda. Apakah lantas Salman sakit hati? Sama sekali tidak. Bahkan Salman memberikan mahar yang ia bawa pada Abu Darda agar diberikannya pada wanita itu. Masya Allah! Ya, jodoh memang rahasia Allah.

Ketika rasa tenteram telah didapatkan saat menikah, maka selanjutnya ialah menjaganya. Dalam halaman 109 sampai 110 dipaparkan tiga cara. Pertama, berdoa dan berprasangka baik pada Allah bahwa Alah akan memberikan jodoh yang terbaik pada kita. Menerima segala ketentuan-Nya, menerima pasangan dengan penuh keikhlasan dan bertekad untuk bersama-sama belajar dan memperbaiki diri. Kedua, membekali diri dengan ilmu pengetahuan. Tak ada salahnya mulai sekarang membaca buku-buku tentang pernikahan dan rumah tangga juga tak perlu segan belajar pada pasangan harmonis dalam berumah tanggga. Yang terakhir meningkatkan kualitas mental spiritual. Ya, benteng terbaik terbaik adalah memiliki kualitas mental dan spiritual yang baik. Memandang segala sesuatunya dengan positif dan mengembalikan segala permasalahan pada Allah SWT.

Masih banyak pembahasan yang menarik. Namun terlalu panjang jika dijabarkan lebih lanjut. Tak usah khawatir apakah buku ini kaku, mengingat permasalahan pernikahan dan rumah tangga seringkali begitu berat untuk dibahas. Afifah Afra dan Riawani Elyta, dua penulis Sayap-sayap Sakinah ini membahasnya dengan bahasa yang ringan. Dilengkapi dengan gaya cerita yang begitu khas yang berasal dari pengalaman pribadi penulis. Dari cerita-cerita tersebut juga terdapat hikmah yang bisa kita ambil. Mulai dari menemukan jodoh hingga beberapa contoh nyata yang mampu membangun rumah tangga hingga akhir hayatnya. Selain itu, penulis juga melengkapinya dengan diksi-diksi yang indah. Serta puisi-puisi romantis dalam setiap bab dan akhir pembahasan.

Nikah adalah sunahku. Siapa pun yang tidak mengamalkan sunahku, bukanlah golonganku. Menikahlah, sebab aku akan berbangga dengan jumlah kalian di hadapan umat-umat yang lain. siapa pun yang memiliki kemampuan, menikahlah. Namun, orang yang belum memiliki kemampuan, hendaklah puasa. Sebab, puasa merupakan benteng baginya. (HR. Ibnu Majah dari Aisyah) (hlm. 87)

Sayap-sayap Sakinah, sayap menuju ketenteraman juga pernikahan dan rumah tangga yang berkah.

Kita adalah sepasang sayap
Diciptakan-Nya tuk mengangkasa
Susuri hidup penuh dinamika

Beri aku kuatmu saat ku lelah
Kuberi akasku saat kau lemah
Beri aku sinarmu saat ku redup
Kuberi hangatku saat kau kuyup

Kita adalah sepasang sayap
Sayap-sayap sakinah
Yang tak pernah lelah
Melangkah bersama menuju jannah

Afifah Afra

Iklan

7 thoughts on “Sayap-sayap Sakinah: Sayap menuju Ketenteraman

Thank you for not comment out of topic

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s