Swarna Alor: Impian di Surga Dunia

PicsArt_09-21-11.59.48_1442811633965

Judul: Swarna Alor
Penulis: Dyah Prameswarie
Penerbit: Metamind (Creative Imprint of Tiga Serangkai)
Cetakan Pertama: Mei 2015
Jumlah Halaman: vi, 282 hlm.

What important is not the destination, but what and whom we find along the way. Perjalanan bukan lagi tentang tempat yang kita tuju, tapi apa dan siapa yang kita temukan sepanjang perjalanan. (hlm. 276-277)

Impian kian dekat untuk terwujud. Setidaknya itulah yang dirasakan Lilo dan Mbarep. Terpilih dari sekian 600-an kandidat untuk magang di sebuah majalah remaja populer bernama Cantik (hlm. 13). Lilo, gadis tomboy yang memiliki impian untuk menjadi seorang desainer serta Mbarep yang bermimpi menjadi fotomodel terkenal. Dipandu kru Majalah Cantik, Mas Sardi, keduanya berangkat menuju Alor.

Alor yang sekalipun menjadi surga dunia, nyatanya tak seindah harapan Lilo dan Mbarep. Program magang yang mereka lakukan jauh dari bayangan mereka. Lilo harus berburu teripang dan buah tongke bersama Mama Sariat, dan Mbarep yang harus menemani dua fotomodel terkenal berfoto. Keduanya sama sekali tak menginginkan itu. Mereka merasa apa yang dikerjakan itu hanyalah hal-hal sepele. Mereka ingin sesuatu yang lebih menantang.

Karena pertentangan batin itu, Lilo menganggap berburu teripang sama saja merusak ekosistem laut. Dia yang juga tergabung dalam organisasi Green World merasa harus melaporkan hal tersebut pada Samara, ketua Green World, agar ia datang dan menghentikan perburuan teripang-teripang tersebut. Di sisi lain, Mbarep merasa tidak puas. Ia juga ingin seperti kedua fotomodel yang ditemaninya untuk berfoto di dalam laut.

Tanpa mereka sadari, pertentangan-pertentangan itu menjadi bumerang bagi mereka sendiri. Lilo nyaris menghilangkan kehidupan masyarakat Alor dan tradisi menenun Alor dari warna alami yang dihasilkan teripang. Juga Mbarep yang nyaris kehilangan impiannya karena hampir tenggelam di laut dan merasa dirinya menjadi pecundang.

“Perasaan menyesal itu tidak akan pernah usai kalau kamu tidak menyudahinya sendiri. …” (hlm. 255)

-x-

Dalam kehidupan remaja, perjalanan menggapai impian memang menjadi hal yang paling menarik diperbincangkan. Layaknya Lilo dan Mbarep yang memiliki keoptimisan yang tinggi di usia belia mereka yakni 17 tahun. Namun gejolak remaja pula yang terkadang membuat sang remaja merasa harus ‘terburu-buru’ agar impian mereka bisa terwujud. Namun hal ini pula yang nantinya akan memberi pelajaran pada remaja itu sendiri.

Yang membedakan adalah apakah kita mau bekerja keras mewujudkannya atau sekadar bermimpi tentang kesuksesan, atau apakah kita mau memahami mimpi orang lain sebelum menuntut mereka memahami impian kita. (hlm. 276)

Bagi saya yang pecinta pantai, novel ini juga sangat menarik. Deskripsi tempat dan pantai yang sukses membawa rasa penasaran saya akan Alor dan sekitarnya. Keindahan dan kemenarikkannya sukses tergambarkan dengan baik. Ah, Indonesia memang selalu indah bukan? 😀

Novel ini diambil dari dua sudut pandang. Ya, siapa lagi kalau bukan Lilo dan Mbarep. Hanya saja yang menjadi ganjalan saya, terutama di bagian sudut pandang Mbarep, seringkali kata ganti tidak konsisten. Mbarep yang terbiasa berbicara dirinya ‘gue’ lalu di bagian lain menjadi ‘aku’. Akan lebih baik jika Mbarep konsisten saja dengan gue dan lo tanpa harus bercampur dengan aku kamu agar terdengar lebih nyaman 😀

Kutipan favorit:

Jika kau peka, akan sering kau sadari bahwa kasih dan kuasa Allah selalu ada di saat manusia merasa dirinya tak mampu. (hlm. 132)

Perjalanan tak hanya soal jarak dan waktu, tapi soal diri sendiri (hlm. 165)

“… kita nggak perlu memaksa orang lain untuk percaya sama mimpi kita. Yang perlu kita lakukan adalah membuktikan dengan kerja keras. …” (hlm. 267)

Something happens because of the reason (hlm. 273)

Well, novel ini sarat makna perjuangan. Terutama tentang perjalanan menggapai impian yang nyatanya tak semudah membalikkan telapak tangan. Biar bagaimana ‘ada harga’ yang harus kita bayar untuk mewujudkannya. Dan Lilo juga Mbarep, akan menunjukkan kalian perjalanan panjang mereka. Selamat menggapai impian 😀

Hanya butuh waktu untuk berhenti sejenak dari segala keriaan di dalam maupun di luar diri, bahwa ada yang menempatkan kita dalam setiap perjalanan, agar kita menuju ke perjalanan berikutnya. Ada takdir yang harus digenapi, ada asa yang harus diraih. (hlm. 133)

Iklan

2 thoughts on “Swarna Alor: Impian di Surga Dunia

Thank you for not comment out of topic

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s