Perjalanan Rasa: Perenungan Dalam Diri

PicsArt_1435810801968

Judul: Perjalanan Rasa
Penulis: Fahd Djibran
Penerbit: Kurniaesa Publishing
Cetakan Pertama: November 2012
ISBN: 978-602-7618-10-7

Kita bukan apa-apa, dan bukan siapa-siapa, sampai kita mewakili pikiran dan perasaan kita sendiri. (hlm. 87)

Perjalanan Rasa, jika boleh kusebut buku ini adalah kumpulan kata-kata bermakna. Entah fiksi, pengalaman penulis atau sekedar kalimat singkat yang masing-masingnya menyentuh hati. Banyak sekali perenungan hidup di dalamnya.

Mama, Mama –

Sementara usiaku ditumbuhkan kasih sayangmu, nyawaku di sambung tangis dan keringatmu, hidupku diselamatkan doa-doa sucimu, tak akan pernah cukup meski kugadaikan seluruh hidupku untuk membalas cintamu. (hlm. 16)

Dengan gaya penulisan yang unik. Yakni paralel, yang setiap judulnya diambil dari kata pada akhir kalimat di cerita sebelumnya. Semisal kata pada akhir cerita sebelumnya adalah “Sembuh” maka judul selanjutnya adalah “Sembuh”. Lalu di cerita “Sembuh” akhir kalimatnya memiliki kata “Harapan” maka judul selanjutnya adalah “Harapan, dan seterusnya. Lebih uniknya lagi, masing-masing cerita tidak saling berkaitan. Dengan kata lain semua cerita adalah baru dan berbeda.

Ah, kadang-kadang kita hanya perlu jeda, menunda semua asumsi dan prasangka… lihatlah ke kedalaman masing-masing dan percayalah: everything is going to be amazing! (hlm. 41)

Kita selalu menemukan keberanian di atas ketakutan dan kegelisahan orang-orang yang kita sayangi, Adikku. Kita akan menemukan keberanian dari rasa percaya orang-orang yang kita sayangi bahwa kita akan selalu setia melindungi mereka. (hlm. 45)

“… Cara Tuhan tidak mengabulkan sebagian doa kita adalah untuk mengabulkan doa-doa kita yang lainnya. Tuhan Maha Tahu mana yang paling baik bagi kita, sementara kita hanya bisa mengira-ngira.” (hlm. 50)

Dengan ambisi, kita mungkin akan sampai ke tempat yang tinggi, atau lebih tinggi, atau lebih tinggi. Tetapi “puncak” bukan soal “ketinggian”. Ia adalah sebuah titik di mana kita bisa berdiri dengan perasaan tenang, bebas, dan bahagia; Titik yang membuat kita bisa melihat segala hal dari dimensi yang lebih tinggi secara lebih luas, lebih dewasa dan bijaksana. (hlm. 67)

Jika keyakinan mengajarkan kebencian, terberkatilah orang-orang yang meragu. (hlm. 80)

Berhentilah gelisah. Tak usah terlalu percaya pada hitung-hitungan. Hiduplah dalam keberkahan.” (hlm. 94)

Dari sekian banyak buku fiksi bertebaran, barangkali sesekali kita butuh buku seperti ini. Yang tidak hanya menawarkan cerita-cerita khayalan tinggi, namun terkadang kita perlu menyelami diri sendiri dan melakukan sebuah perenungan hidup yang bermakna.

Jadilah orang sombong yang baik: Tersebab sejatinya kesombongan sepenuhnya merupakan hak Tuhan, maka pinjamlah sebentar, lalu bekerjalah sungguh-sungguh untuk sampai pada pengertian bahwa kesombongan yang tak dibuktikan jauh lebih hina dan lebih kerdil daripada kekalahan manapun. (hlm. 121)

Dan inilah saatnya untuk membuat dosa berhenti berkuasa dalam hidup kita yang tak pernah jelas masa kadaluarsanya. (hlm. 160)

Iklan

4 thoughts on “Perjalanan Rasa: Perenungan Dalam Diri

Thank you for not comment out of topic

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s