Home: Orang Tua yang Selalu Diingat

 IMG_20150619_171419

Judul: Home
Penulis: Iva Afianti (Ifa Avianty)
Penerbit: Diva Press
Cetakan Pertama: September 2013
ISBN: 978-602-255-300-7

Menjual rumah ini bukan hanya menjual sebuah bangunan fisik. Bagi saya, rumah ini adalah kenangan, sejarah, cinta, dan… kehidupan itu sendiri. (hlm. 9)

Kurt berniat menjual rumahnya. Alasannya karena rumah yang ia tempati terlalu besar jika hanya diisi oleh ia dan istrinya, Beatrice. Padahal mereka punya tujuh anak laki-laki. Hanya saja, karena semua sudah berkeluarga, mereka jarang menyambangi rumah Kurt dan Bea di usia mereka yang sudah senja. Bukan saja karena kesepian atau rumah yang terlalu besar dan pajak yang harus dibayar tinggi, apalagi soal materi. Tapi karena Kurt ingin menghapus semua kenangan menyedihkan itu.

Pada setiap dinding, ruang, dan lekuknya, ada cerita tersendiri. Pahit, manis, asam, getir, semua lengkap. Sejak dulu, saya selalu berusaha bersetia pada setiap kenangan itu. lalu ketika sekarang suami saya begitu ingin menjualnya, di mana lagi saya akan meletakkan semua kenangan itu. (hlm. 9)

Truly, tak begitu saja bisa terima. Sebagai istri Wisnu, ia juga menjadi satu-satunya menantu yang paling sering menyambangi rumah mertuanya. Maka ia kerahkan segala cara dengan meminta bantuan pada adik-adik ipar dan sepupunya yang lain agar mertuanya tidak jadi menjual rumah yang berletak di Menteng, Jakarta. Apalagi, rumah itu selalu menjadi tempat berkumpulnya keluarga besar mereka jika Hari Raya Idul Fitri.

Di sisi lain, Wisnupun tak setuju. Sekalipun ia masih menyimpan dendam pada papanya, ia merasa rumah itu juga penuh dengan kenangan bersama keluarganya.

“Pernikahan berarti membangun sebuah rumah bagi Kalian dan bagi anak-anak Kalian kelak.” (hlm. 35)

-x-

Agak lambat bagi saya untuk menyelesaikan novel ini. Hal yang paling mengganjal sekali adalah terlalu banyaknya tokoh. Sampai-sampai tukang kebun, tukang sayurpun(?) disebutkan namanya. Saya rasa jika dihilangkanpun sebenarnya tak mempengaruhi jalan cerita. Mengenai nama-nama keluarga besar mereka yang disebutkan juga membuat saya agak pusing membacanya. Bahkan saya hanya hafal empat tokoh saja. Kurt, Beatrice, Truly dan Wisnu. Ya karena memang mereka sih tokoh utamanya.

Diceritakan dengan alur maju mundur dan sudut empat tokoh. Kurt berusia 84 tahun digambarkan sebagai tokoh yang keras, kaku dan tertutup. Serta istrinya, Beatrice yang berbeda usia 12 tahun di bawahnya, masih menganut paham wanita tempo dulu, yang menurut semua apa kata suaminya. Truly menantu yang sangat ceroboh, pelupa dan Wisnu anak Kurt dan Bea yang menurunkan sifat papanya yang tertutup. Ini yang membuat saya kagum dengan penulis. Karena sudut pandang yang beda sudah pasti penulis akan menyelami gaya masing-masing tokoh. Dan itu tidak mudah.

Tokoh lainnya, hanya geng Bektik (begitulah sebutan geng adik-adik ipar dan sepupu-sepupu Wisnu) yang paling saya ingat, wanita-wanita yang selalu ramai jika berkumpul. Kehadiran merekalah yang memberi warna pada keluarga besar Kurt yang cukup kaku.

Masih ada beberapa typo, tapi yang cukup fatal menurut saya adalah kesalahan penulisan nama di cover. Seharusnya Ifa Avianty tapi ditulis Iva Afianti. Semoga saja jika cetak ulang, kesalahan ini bisa diperbaiki.

Sebenarnya novel ini cukup menyentuh. Bercerita tentang keluarga besar Kurt dan tujuh anaknya yang sudah jarang menyambangi orang tuanya yang berusia senja. Ah, jadi merasa berdosa sekali, seandainya kita sebagai anak justru melupakan orang tua di saat mereka justru butuh perhatian lebih. Selain itu, novel ini juga mengajarkan betapa pentingnya komunikasi dalam sebuah keluarga. Bila tidak, maka akan banyak kesalah pahaman yang terjadi. Salah satu contoh dalam ceritanya, Kurt selalu menyimpan semuanya sendirian. Ini membuat istri dan anak-anaknya tidak pernah tahu perasaan Kurt yang sesungguhnya. Ah ya, pengetahuan penulis tentang lagu-lagu lama seperti Andy Williams juga turut mewarnai novel ini. Maklum, karena keluarga besar mereka juga hobi sekali dengan musik dan acara pesta dansa.

Kutipan menarik:

Rumah ini bukan hanya sarang, dia juga pengikatmu dengan segenap dara daging dan sejarahmu. (hlm. 38)

“Pernikahan itu ‘kan menyatukan dua orang yang sebenarnya berbeda tapi saling melengkapi kelak. Kelak ya, jadi nggak tiba-tiba Kalian saling cocok. Ada proses. Nah, proses ini bisa lama bisa sebentar. Tapi ketika proses yang satu selesai, Kalian akan dituntut terus dan terus berproses.” (hlm. 41)

“Dalam setiap masalah akan timbul banyak pertanyaan. Tuhan, sementara itu, telah menyiapkan banyak dan begitu banyak jawaban di atas sana. Maka tugas kita adalah membuat pertanyaan yang tepat sehingga membuat Tuhan menurunkan jawaban demi jawaban yang cocok untuk pertanyaan kita.” (hlm. 362)

Semoga saja, kita tak menjadi anak-anak yang pendendam dan selalu memaafkan segala kekhilafan orang tua. Lebih dari itu, semoga kita tak menjadi anak-anak yang lupa pada orang tuanya.

“Rumah itu adalah sebuah tempat di mana sejauh-jauhnya kita pergi, kita akan selalu rindu pulang padanya. sebab hanya di sana, keletihan kita terobati. Ada istri yang penuh cinta menyambut dan menemani kita, saling berbagi dan bercerita. Ada anak-anak yang makin meramaikan hidup Kalian, membuat Kalian terus belajar menjadi bijak. Rumah itu adalah sarang yang hangat yang membuat kita ingin selalu berdiam di dalamnya, tetapi kita tetap harus terbang untuk mencari bekal agar semuanya menjadi lebih baik.” (hlm. 36)

TBRR Pile Reading Challenge 2015

Iklan

4 thoughts on “Home: Orang Tua yang Selalu Diingat

Thank you for not comment out of topic

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s