Days of Terror: Almanak dan Perjalanan Waktu

CYMERA_20150602_042749

Judul: Days of Terror
Penulis: Ruwi Meita
Penerbit: Bukune
Jumlah Halaman: vi+134 hlm.
ISBN: 602-220-155-1

 Semua berawal dari almanak. Kehidupan Oriana seketika berubah menjadi seratus delapan puluh derajat. Ori yang ‘selalu sial’, pelupa bahkan disebut ‘Miss KW’ oleh teman-temannya, kini justru nasibnya berubah menjadi lebih baik. Nilai ulangan yang selalu bagus, janji-janji yang selalu ditepati hingga semua hal buruk yang biasa menimpa bisa dicegahnya.

“Lingkari tanggalnya, dan kamu akan tahu apa yang terjadi di hari itu. Ya, pasti itu,” (hlm. 56)

Sepulang sekolah Ori melihat seorang perempuan keluar dari rumahnya. Rupanya perempuan itulah yang menjual almanak tersebut pada bunda Ori. Tak disangka, almanak tersebut mempengaruhi jalan hidupnya. Bisa mempercepat waktu atau mengembalikannya ke masa lalu. Hingga akhirnya Ori terlena dan lupa, bahwa dibaliknya ada kematian yang mengintai.

“Yah, apa beda almanak dengan kalender?”

“Beda. Kalender itu bisa dikatakan bentuk sederhana dari almanak sedangkan almanak itu lebih rumit dari kalender. Di dalam almanak tidak hanya terdapat penanggalan, namun ada keterangan mengenai prakiraan cuaca, musin, letak bulan dan bintang. Bahkan, ada almanak khusus untuk petani yang memberikan keterangan pada bulan apa petani harus menanam. Disitu juga dicantumkan jenis tanaman apa yang sebaiknya ditanam.” (hlm. 17)

-x-

Novel horor ini mengingatkan saya pada satu film yang juga horor. Hanya saja, di film tersebut si tokoh mengalami de javu tanpa sebuah alat. Melainkan karena ia memang memiliki kemampuan tersebut. Beda hal dalam buku ini, setiap kali Ori melingkari tanggal di almanak dan menyebutkan apa yang terjadi pada hari itu, maka seketika Ori bisa mengubah hari itu sesuai keinginannya. Dan ketika hari yang ditentukan tiba, maka Ori sudah mengetahui apa yang terjadi. Ya seperti de javu.

Tak terbayang jika di dunia ini tercipta almanak seperti itu, saya yakin semua orang pasti memanfaatkannya. Dan tak terhitung berapa kali waktu dipermainkan.

“.. Pada mulanya almanak itu akan memberimu keuntungan, sampai akhirnya kamu terus ketagihan untuk terus melakukan perjalanan waktu. Padahal ada harga yang harus dibayar dalam tiap perjalanan itu.” (hlm. 117)

Masih terdapat kesalahan penulisan. Di halaman 127 terdapat kalimat,

“Kenapa kemarin kamu tidak masuk, Le? Kamu juga nggak datang di pesta ulang tahunku di Kafe Mentari.”

Le seharusnya bisa adalah Ori, karena yang sedang berbicara di situ Kalea (teman dekat Ori). Di halaman lain, panggilan Ori yang semula bunda, tiba-tiba berubah jadi ‘Ma’/Mama.

Overall novel ini cukup memuaskan rasa saya akan novel horor. Bukan saja horor, tapi banyak sesuatu bahkan ending yang tidak terduga.

“Kau sang penjelajah waktu. Hanya kau sang empunya masa. Bukalah lembaran kayu. Lantunkan sebuah mantera. Waktu maju waktu mundur. Pada suatu ketika waktu beku. Semua bisa terjadi saat kau… TERKUTUK.” (hlm. 26)

Psst… Resensi ini adalah postingan blogtour. Besok saya akan posting satu cerita dan bisa kamu ikuti Giveawaynya untuk mendapatkan buku ini. Stay tuned ya 😀

received_10205258616298389

100 Days of Asian Reads Challenge 2015

Young Adult Reading Challenge 2015

Iklan

26 thoughts on “Days of Terror: Almanak dan Perjalanan Waktu

  1. Baru sadar kalau ada mata di balik rak buku itu, hehe (rata-rata orang bilang begitu). Karena pusat perhatian pada kover tertuju pada seorang gadis yang justru membuat kita bertanya-tanya: ada apa dengan gadis itu? Mungkin matanya kurang kentara kalau tak dilihat secara teliti.
    Pembahasannya tentang almanak tergolong unik karena kurang familiar, tapi aku sudah pernah membaca almanak khusus pertanian di museum seperti yang dijelaskan halaman 17. Pembahasan tentang almanak yang diangkat ini bisa menambah wawasan tentang hal yang kurang familiar ini serta memperdalam pemahaman pembaca meski dalam bentuk fiksi, hingga berkualitas untuk memperjuangkan buku dengan tema baru ini. Sangat menonjolkan diferensiasi dan keorisinal-nya (hm, dah benar nggak ya tulisannya?) :=(D
    Tak hanya mereview kualitasnya, bagusnya review ini juga membuka typo yang ada pada halaman tertentu, yang kiranya menunjukkan bahwa tak ada yang sempurna di dunia ini. b(^0^)d
    Penasaran untuk mendalami isi buku ini dan tertarik ikutan blogtour. Semoga jika membacanya kelak bisa membakar kalori, seperti halnya menonton film horror. Bagus tuh tuk pembakaran lemak kecil-kecilan, hehe… \(^0^)/

  2. Idenya bagus juga nih pake perantara almanak. Biasanya kan pake jam atau mesin waktu sekalian. Eh, tapi ada juga ding di film yang cuma mejemin mata trus langsung deh wuuussshhh ke masa yang dia inginkan. Coba deh nonton About Time, kalau belum sih. 🙂

    Kalau 134 halaman aja udah bisa bikin puas, gimana kalau yang lebih tebal ya? Tapi sejauh ini saya baca review dari kalian mengatakan puas berarti porsinya sudah pas ya untuk mengungkapkan kasus yang ada.

    Btw, ngomongin soal horor, kadang saya jadi bertanya pada diri sendiri, sanggupkah saya deal dengan buku horror yang katakanlah tebalnya 400 halaman? Bisakah saya nggak jadi parno selama seminggu atau sebulan setelah baca itu? Ah, I think ppl shud ask this to themselves. Hehehehe.

  3. Mbak rumei memang paling jago membuat ku tergila-gila dengan cerita misterinya >.< berawal dari cerita 'Kamera Tersembunyi', aku jadi ketagihan baca karya-karya nya ^^ dan sekarang, mbak rumei menggodaku lagi untuk mencicipi buku barunya. Ceritanya unik, pasti ciri khas mbak rumei tetap tertinggal di buku yang satu ini. Makin penasaran mbak, pengen banget buku ini 😦

  4. Dari cover-nya, kelihatannya buku ini seperti buku horor untuk anak-anak, tapi pastinya isinya tidak cocok dibaca untuk anak-anak, karena mungkin terlalu menakutkan… >_<

    bikin penasaran nih kak Ruwi, apalagi dengan endingnya yg katanya ngejutin
    tapi sepertinya bakal ngeri deh, horornya udah berasa di mata-mata yang menggelisahkan Oriana itu (dan langsung nular ke aku
    good Job kak Reviewnya

  5. Pengen banget baca buku ini setelah baca reviewnya. Jujur, meski baru baca satu kali novel kak Ruwi yang Cruise Chronicle aku suka cara berceritanya. Dan kak Ruwi nulis genre horor yang belum pernah aku coba buat baca, siapa tau nanti ketagihan kayak baca genre romance 😀

  6. Waktu adalah misteri dan perjalanan melintasi waktu bersama almanak, kedengarannya mengerikan juga apalagi menyangkut tentang kutukan.
    Kalau dari porsi jumlah halaman, aku juga kurang puas dengan ketebalannya. Kurang tebal banget nih untuk genre novel macam ini. Tapi, mungkin penulis sengaja meninggalkan kesan mendalam walaupun ceritanya cukup singkat

  7. Horor… Yey! Genre favorit aku nih, tapi selama ini novel horor yang kubaca rata-rata novel terjemahan. Pernah sih baca novel horor Indo, tapi kebanyakan porsi 18+ nya.

    Dan setelah baca review ini sepertinya aku dapat angin segar kalau ternyata ada novel yang horornya kental tanpa embel-embel 18+.

    Jadi penasaran sehoror apa bukunya.

  8. Wow, mbak Ruwi Meita selalu punya ide cerita yang sangat unik dan antimainstream. Novel yang ini bermain-main dengan waktu, pasti seru. Berpeluang untuk difilmkan! 🙂

  9. Saya juga sependapat. Kalau di dunia ini ada almanak seperti kepunyaan Ori, mungkin semua hal yang terjadi di dunia ini akan kita jalani dengan lebih mudah karena kita sendiri kan yang menciptakan / menginginkan hal itu terjadi? Tetapi kalau setiap almanak selalu meminta imbalan harga yang harus dibayar, sepertinya saya nggak akan berani menyentuhnya. Nggak bisa bayangin harga apa yang harus kita bayar, kalau nyawa kan repot jadinya 😀

Thank you for not comment out of topic

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s