I Love Monday: Mengubah Hari Senin Sebagai Paradigma Baru

Photo0370

Judul: I Love Monday
Penulis: Arvan Pradiansyah
Penerbit: Kaifa (PT. Mizan Pustaka)
Jumlah Halaman: xxx+302 hlm.
ISBN: 978-602-7870-43-7
Cetakan I: Maret 2015

Buku ini bisa dibeli di Bukupedia
Masuk link ini http://www.bukupedia.com/id/book/id-61345/i-love-monday.html

Bagaimana bisa bahagia jika kita melihat pekerjaan hanya sebagai setumpuk tugas (jobs) yang harus diselesaikan? Bukankah kita akan lebih bersemangat jika melihat pekerjaan sebagai karier kita, sebagai rencana besar yang ingin kita wujudkan di dunia ini? (hlm. xxviii)

I hate Monday! Jargon yang cukup terkenal untuk mengungkapkan satu hari yang identik dengan penuhnya kesibukan. Setelah dimanja dua hari libur di hari sebelumnya, maka menjalani kembali rutinitas pada Hari Senin rasanya cukup ‘menderita’. Tidak begitu halnya dalam I Love Monday. Arvan Pradiansyah yang juga seorang happiness inspirer mencoba mengubah stigma tentang Hari Senin. Terlebih mengubah paradigma tentang pekerjaan itu sendiri. Apakah kita melihat pekerjaan sebagai setumpuk tugas (job), sebuah karir (career) atau sebuah panggilan (calling)?

Penyebab utama tidak semangatnya seseorang dalam bekerja, ialah karena melihat pekerjaan hanya sebagai kewajiban yang harus dilaksanakan. Kewajiban ini yang akhirnya membuat kita bekerja dengan keterpaksaan. Kita bekerja karena kita mencari uang. Inilah yang disebut work as a job. Tingkatan terendah dalam memandang sebuah pekerjaan. Segala yang kita kerjakan hanyalah berdasar skenario orang lain bukan karena kemauan kita sendiri.

Photo0369
Ungkapan Steve Jobs (teladan “I Love Monday”) hlm. 23

Tidak adanya semangat kerja sesungguhnya adalah masalah paradigma, bukan masalah perilaku. (hlm. 5)

Sejatinya manusia adalah sutradara bagi dirinya sendiri. Work as a career. Yang berarti dalam bekerja kita melakukan pekerjaan yang kita pilih sendiri. Bagi orang yang sudah masuk level ini, karena mereka memiliki mimpi dan tujuan yang ingin dicapai.

Sesungguhnya tidaklah terletak pada apa yang saat ini sedang mereka lakukan, tetapi pada paradigmanya, pada mindsetnya, pada mimpinya. (hlm. 45)

Namun ketika kita bekerja untuk melayani orang lain, maka inilah tingkat tertinggi dalam memandang sebuah pekerjaan. Kita tidak lagi menganggap pekerjaan hanya setumpuk tugas serta mengejar tujuan yang berorientasi hanya pada diri sendiri. Work as a calling, bekerja sesuai dengan skenario Tuhan.

Photo0366
hlm. 56

Presiden Amerika Serikat, Woodrow Wilson, “We are not here to merely earn a living and to create value for our shareholders. We are here to enrich the world and make it a finer place to live. We will impoverish ourselves if we fail to do so.” (hlm. 48-49)

Dikatakan pula, dalam bisnis bahkan segala profesipun melayani orang lain dengan sepenuhnya adalah harga mati. Jika mau disadari, sesungguhnya tidak ada pekerjaan yang tidak bermanfaat bagi orang lain. Sekecil apapun profesi dan pekerjaan itu, pasti akan bermanfaat. Inilah yang disebut spiritualitas dalam bekerja. Sprititual tidak hanya identik dengan beribadah kepada Tuhan, melainkan dengan bekerja untuk melayani maka kita telah memuliakan orang lain dan tidak lagi menganggap remeh sebuah pekerjaan.

Photo0368
hlm. 50

Tujuan hidup kita bukanlah untuk mendapatkan uang. Tujuan hidup kita adalah untuk melayani orang lain. (hlm. 92)

Dengan bekerja, kita dapat menjelaskan kepada orang lain siapa diri kita, seberapa pentingnya kita, dan seberapa berharganya kita bagi orang lain. (hlm. 201)

Photo0363
hlm. 146

Dalam buku ini juga dilengkapi berbagai kisah terkait paradigma dalam melayani, salah satunya kisah Toyotomi Hideyoshi. Diceritakan, Hideyoshi selalu melayani atasannya, Lord Nobunaga dengan sepenuh hati. Bahkan dalam situasi kebakaran yang membahayakan, Hideyoshi sudah menyiapkan seekor kuda pelana agar atasannya bisa menyelamatkan diri. Dan masih ada berbagai kisah lainnya yang juga diambil dari kisah penulis sendiri.

“Orang-orang berdedikasi padaku karena aku juga mendedikasikan diri kepada mereka.” – Toyotomi Hideyoshi (hlm. 110)

Pantaslah jika lima bintang disematkan, sebab tak banyak buku seperti ini. Sebuah buku yang mampu membuka paradigma baru. Mengubah pandangan kebanyakan yang selama ini menganggap bahwa Hari Senin adalah hari yang ‘menakutkan’. Serta memiliki paradigma yang baik dalam melakukan sebuah pekerjaan maupun sebagai seorang profesionalitas.

Agar bisa bahagia, kita harus merevisi total pandangan kita terhadap pekerjaan. Kita harus merevolusi paradigma (hlm. 84)

Photo0365
hlm. 188

Bekerja, sesungguhnya, adalah esensi kehidupan itu sendiri. Hanya dengan bekerjalah hidup kita akan benar-benar menggairahkan. (hlm. 204)

100 Days of Asian Reads Challenge 2015

Nonfiction Reading Challenge 2015

Yuk, Baca Buku Non Fiksi 2015

Iklan

6 thoughts on “I Love Monday: Mengubah Hari Senin Sebagai Paradigma Baru

Thank you for not comment out of topic

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s