Aku Cinta Buku Indonesia

10610488_1586408498297109_2979072851917334537_n

‘Tak kenal maka tak sayang’. Maka barangkali itulah pepatah yang pas untuk menggambarkan bahwa saya baru tahu Hari Buku Nasional jatuh pada tanggal 17 Mei. Mungkin kalau kesukaan saya pada buku masih tahap biasa-biasa saja, saya tidak akan tahu. Dan beruntunglah saya, hikmahnya bergabung dengan komunitas buku membuat saya jadi tahu banyak hal.

Jika sebagian teman di komunitas BBI mengeluh karena tak banyak buku-buku nasional yang dimiliki, yang terjadi pada saya justru sebaliknya. Nyaris 95% buku yang ada dalam lemari adalah buku-buku nasional! Maklumlah, sejak kecil orang tua memang menyuguhkan buku-buku dalam negeri. Cerita-cerita rakyat atau nabi misalnya. Dan baru menjejaki *menjejaki?* buku terjemahan justru sejak saya lulus sekolah dan bekerja.

CYMERA_20150517_132752lima tumpuk buku dalam negeri

Hingga kini, kecintaan saya pada buku dalam negeri tak pernah berkurang. Malah buku terjemahan atau impor yang jarang saya sukai. Berhubung bahasa Inggris saya pun tak terlalu mahir, terkadang buku terjemahan justru membosankan untuk saya. Maka itulah ketika membaca buku terjemahan yang pertama kali saya lihat adalah kualitas terjemahannya. Sampai saat ini masih bisa dihitung dengan jari buku terjemahan yang benar-benar saya baca sampai habis. Sisanya? Entahlah. Saya sendiri juga belum tahu pasti apakah akan melanjutkannya atau yang lebih buruk justru menjual atau menghibahkannya pada orang lain.

CYMERA_20150517_133351hanya satu tumpuk buku luar – terjemahan

Meski kabarnya saat ini Indonesia masih memiliki minat baca yang rendah dibanding negara lain, tapi saya tetap bangga karena kini negara kita berlimpah penulis-penulis berbakat yang bukunya berjejer dengan tumpukkan buku lain di toko buku. Belum lagi masyarakat kini sudah banyak yang berjuang untuk menumbuhkan minat baca hingga ke pelosok dengan menyediakan perpustakaan atau pembagian buku gratis misalnya. Serta promosi penerbit buku yang kini juga kian gencar dibanding sebelum-sebelumnya. Ah, begitu nikmatnya jika kita mencintai buku.

Cinta pada buku memang tidak terjadi dalam sesaat, menurut saya juga butuh kebiasaan. Alah bisa karena biasa bukan? Maka begitu pula dengan cinta. Jika dimulai saat ini dengan mencoba baca buku walaupun sedikit, jika itu dilakukan setiap hari maka saya yakin perlahan cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya. Pun dengan halnya cinta pada buku dalam negeri. Barangkali ini memang masalah selera. Tapi kalau bukan kita yang memelihara kecintaan pada buku di negeri sendiri lantas siapa lagi? Malah sudah banyak lho sekarang buku-buku Indonesia yang justru diterjemahkan di luar negeri!

Harapan saya di Hari Buku Nasional saat ini, semoga minat baca di Indonesia semakin tinggi. Dunia perbukuan kian berkembang. Penulis-penulis tidak lelah untuk ‘menelurkan’ buku-buku yang kian bermanfaat serta penerbit tak pernah putus asa untuk menerbitkan buku-buku lokal dan semakin tinggi minat masyarakat Indonesia untuk membaca buku-buku karya anak negeri! ^_^

PicsArt_1431841914189

Iklan

2 thoughts on “Aku Cinta Buku Indonesia

  1. hihi, iya.. saya waktu masih kecil juga banyak baca cerita-cerita rakyat. Ber-rak-rak buku macam itu ada di rumah. Tapi itu statusnya buku-buku kakak saya, saya kecipratan kesempatan baca saja. 😀

Thank you for not comment out of topic

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s