Islam Liberal 101: Perang Pemikiran Liberalis

PicsArt_1430323699282

Judul: Islam Liberal 101
Penulis: Akmal Sjafril
Penerbit: Afnan Publishing
Cetakan Ketujuh: Desesmber 2013
ISBN: 978-602-17748-2-3

Seperti dikutip dalam Wikipedia, secara umum, liberalisme mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan berpikir bagi para individu.[2] Paham liberalisme menolak adanya pembatasan, khususnya dari pemerintah dan agama. Maka ini jugalah yang terjadi pada Islam Liberal.

Islam liberal sesungguhnya jauh dari karakter gerakan intelektual. Lontaran-lontaran pemikiran yang dibawanya sangat jauh dari ilmiah. Ia lebih sering bersembunyi di balik relativisme; sebuah bentuk kemalasan berdebat yang diwujudkan dalam usulan (atau lebih tepatnya pemaksaan) untuk menerima segala pemikiran sebagai bentuk ijtihad. (hlm. v)

Diulas dengan bahasa yang sederhana dan informatif, penulis membaginya dalam lima bagian. Ghazwul Fikry, Dari Barat ke Timur, Modus Operandi, Cemoohan Mereka serta Al-Munafiquun.

Ghazwul Fikry

Perang pemikiran ini sudah ada sejak zaman Nabi Ibrahim as. Seorang tokoh besar dalam sejarah yang dikenal telah melakukan pertukaran argumen dengan para penyembah berhala untuk mengembalikan mereka kepada jalan yang lurus.

Berbeda dengan perang fisik, perang pemikiran menggunakan data-data dan hasil pemikiran sebagai senjatanya. Peluru berganti dengan argumen, sedangkan kemenangan tidak ditentukan oleh banyaknya korban jiwa, melainkan banyaknya pendukung. (hlm. 2)

Tujuan ghazwul fikry sendiri bukan mengganti pemikiran islam dengan pemikiran kufur, tapi menggeser prinsip-prinsip Islam sehingga hanya kulitnya yang Islami tidak isinya – Ustadz Felix Siauw. Untuk keperluan ini maka Islam liberal menyusupkan ideologi-ideologi sesat dari dari berbagai sudut. Orang islam diminta untuk ‘tidak ekstrem’ karena semua agama mengajarkan untuk hidup damai. Silakan pergi naik haji, tapi tak usah bawa pemikiran dari Arab Saudi ke tanah air; kalau impor pemikiran dari Eropa tak ada yang melarang.

Dari Barat ke Timur

Sekularisasi dan sekularisme ialah paham yang lahir dari rahim wacana pemikiran Barat. Maka di sini penulis menjelaskan sejarah peradaban barat yang banyak dilatari oleh hegemoni Gereja Katolik.

Pada awal abad ke-19 , filsuf berkebangsaan Perancis, Auguste, Comte, telah membayangkan terjadinya kebangkitan sains dan kejatuhan agama. Ia menyakini bahwa manusia akan berevolusi’ dan ‘berkembang’ dari tahap primitif ke tahap modern. (hlm. 47)

Selanjutnya kaum orientalis yang melakukan penyerangan otentisitas dan validitas Al-Qur’an dan hadits, pertentangan liberalis tentang fatwa MUI yang mengharamkan pluralisme agama, proses infiltrasi pemikiran liberal di Indonesia hingga kontradiksinya penjulukan Islam Liberal dibahas secara lengkap dengan banyaknya sumber literatur yang bisa menjadi bahan acuan.

Modus Operandi

Merupakan modus-modus yang selama ini dilakukan oleh kalangan liberalis yang kemudian bisa dirunut hingga ke dasar pemikirannya.

Liberal, progresif, konstektualis, literalis, pluralis, fundamentalis, revivalis, tradisionalis, modernis, emansipatoris, ekstremis, radikalis. Semua istilah ini digunakan oleh Barat untuk memecah-belah umat Muslim di dunia. Satu pihak disanjung, pihak yang lain dicela. Yang satu disebut ‘pembaharu’, yang lain disebut ‘teroris’. (hlm. 106)

Cemoohan Mereka

Bab ini lebih praktis lagi. Memberikan beberapa contoh kalimat yang biasa dilontarkan kaum liberalis ketika berada dalam diskusi. “Jangan mendominasi kebenaran.” Adalah salah satu kalimat yang kerap kali digunakan sebagai retorika-retorika mereka yang biasanya selalu berulang.

Selain menghasilkan manusia-manusia yang malas berpikir (karena tidak mau mencari kebenaran selain dengan bertanya pada hawa nafsunya sendiri), relativisme juga menghasilkan ‘raja-raja kecil’ yang dituruti oleh para pengikutnya, semata-mata karena kebenaran itu dianggap telah melekat pada dirinya.” (hlm. 149)

Al-Munafiquun

Dalam bab ini kita akan melihat bagaimana Al-Qur’an membimbing kita untuk menghadapi orang-orang munafik, juga melihat bagaimana kemunafikan-kemunafikan kontemporer yang sering dijumpai sekarang sebenarnya telah sejak lama diberitakan dalam Al-Qur’an.

Di antara manusia ada yang mengatakan, “Kami beriman kepada Allah dan Hari Kemudian,” padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri, sedang mereka tidak sadar. Di dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. (QS. Al-Baqarah [2]: 8-10)

Lima bab yang terlalu panjang jika dijabarkan satu per satu. Bahan literatur dalam penulisan buku ini juga sangat banyak. Sehingga pembaca bisa lebih mudah merujuk pada sumber jika dibutuhkan.

Sebagai penutup, Taufiq Ismail menulis Gelombang Liberalisme, Antara Lain Melahirkan Gerakan Syahwat Merdeka (dalam angka-angka). Dari sepuluh poin, mungkin poin keempat yang paling membuat saya bergeming:

Penulis, penerbit, dan propagandis buku syahwat ¼ sastra dan ½ sastra. Di Malaysia, penulis yang mencabul-cabulkan karya penulis pria. Di Indonesia, penulis yang asyik dengan wilayah selangkang dan sekitarnya mayoritas penulis perempuan. Ada kritikus sastra Malaysia berkata, “Wah, Pak Taufiq, pengarang wanita Indonesia berani-berani. Kok, mereka tidak malu, ya?” memang begitulah rasa malu itu sudah terkikis. Bukan saja pada penulis-penulis perempuan aliran s.m.s (sastra mazhab selangkang) itu, tapi juga bagian dari bangsa. (hlm. 221)

Naudzubillahimindzalik. Semoga Allah senantiasa melindungi kita.

Buku yang saya rasa harus dibaca oleh semua umat muslim. Terlebih di tengah maraknya perang pemikiran seperti saat ini. Pada akhirnya, kaum liberalis hanya mengaburkan makna yang haq dan yang bathil. Jika hal ini terus berkelanjutan manusia takkan mampu membuat penilaian yang benar. Jika sulit dengan argumen, maka dilakukan dengan berbagai tipuan.

Seorang Mukmin sejati tidak pernah menukar imannya dengan apa pun, karena ganjaran baginya telah dipastikan di akhirat kelak. Tidaklah masuk akal jika kita menukar kebahagiaan di dunia dengan kesengsaraan abadi di akhirat. (hlm. 216)

100 Days of Asian Reads Challenge 2015

Islamic Reading Challenge 2015

Nonfiction Reading Challenge 2015

Yuk, Baca Buku Non Fiksi 2015

Iklan

14 thoughts on “Islam Liberal 101: Perang Pemikiran Liberalis

Thank you for not comment out of topic

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s