Walking After You: Berdamai dengan Masa Lalu

Photo0328

Judul: Walking After You
Penulis: Windry Ramadhina
Penerbit: Gagas Media
Cetakan Kedua: 2015
Jumlah Halaman: viii+320 hlm.
ISBN: 979-780-772-X

Kue adalah keajaiban, bahwa ada sesuatu – entah apa – dalam sepotong tar, sepiring pai, atau segelas granita yang mampu membuat seseorang tersenyum. (hlm. 38)

Kecintaannya pada masakan Italia tidak membuat An bertahan untuk mewujudkan impiannya mendirikan Trattoria. Ia justru bekerja di sebuah toko kue bernama Afternoon Tea milik sepupunya, Galuh. Ini demi Arlet saudara kembarnya. An belum bisa melepaskan belenggu masa lalu dan kesalahan yang menurutnya tidak bisa dimaafkan.

Terkadang, seperti kata Arlet, satu sendok krim bisa menyelamatkan hari-hariku yang kelabu. Namun, sayang, satu sendok krim tidak pernah bisa mengembalikan hari-hari kami yang telah lalu. (hlm. 38)

Ia harus menghadapi hari-harinya bersama Julian, koki yang amat-terlalu-kelewat-serius. Yang terlalu mencintai kesempurnaan. Dari awal bekerja, Julian tidak menyukainya. Menurutnya, tangan An bukan tangan koki kue. Ia hanya menjadi pengacau di dapurnya.

Sebelum An berhasil lepas dari masa lalunya, lelaki itu justru datang. Jinendra pemilik restoran La Spezia – tempat ia dan Arlet bekerja dulu. Awal dari kesalahan terbesarnya. An mengakui bahwa perasaannya masih ada pada lelaki itu, namun ia gamang karena ada perasaan lain untuk Julian. Impian, kesalahan dan cintanya membuat An semakin terombang-ambing.

Sesungguhnya, masa lalu tidak bisa dihapus, sebesar apa pun keinginanku untuk melakukan itu. (hlm. 93)

-x-

Sejak kemunculannya pertama kali, novel ini mampu membangkitkan rasa penasaran saya. Terlebih dengan berbagai review dari sekian banyak peresensi. Meski agak telat, namun saya tetap mensyukuri bisa menikmatinya. Memang benar jika novel ini punya cita rasa manis. Saya rasa Windry benar-benar melakukan riset yang mendalam tentang ceritanya. Berbagai pengetahuan tentang kue-kue Perancis, masakan Italia dan segala hal berbau restoran. Semua itu bisa dinikmati seolah nyata.

Jika cerita tentang masa lalu dan sulitnya memaafkan diri sendiri dirasa klise, maka Windry berhasil mengemasnya dengan cara yang berbeda. Selain dunia masakan, kehadiran saudara kembar namun beda impian, serta Ayu – si pembawa hujan, salah satu tokoh yang turut mempengaruhi An dan tentu saja koki amat-terlalu-kelewat-serius semakin membuat novel ini semakin penuh rasa. Tak jarang, kue di dalamnya juga membuat saya membayangkan bentuk dan rasanya yang hm sepertinya manis sekali. Maklum, saya jarang makan kue atau masakkan luar hiks 😀

Meski terbilang sedih, novel ini sarat pemahaman. Kita akan belajar lewat An yang terus berjuang memaafkan dirinya sendiri dan berusaha menerima masa lalunya.

Kutipan menarik:

‘Kau tahu tidak, An? Pelangi yang muncul setelah hujan adalah janji alam bahwa masa buruk telah berlalu dan masa depan akan baik-baik saja.’ (hlm. 256)

Untuk melepaskan masa lalu, yang harus kulakukan bukan melupakannya, melainkan menerimanya. Dengan menerima, aku punya kesempatan untuk belajar memaafkan diri sendiri. Aku tidak berkata ini mudah. Dan, ini akan butuh waktu. Tetapi, pada saatnya nanti, aku akan terbebas dari semua beban yang menekanku selama ini. (hlm. 293)

Bagaimana, siap berdamai dengan masa lalu? 🙂

100 Days of Asian Reads Challenge 2015

Iklan

4 thoughts on “Walking After You: Berdamai dengan Masa Lalu

Thank you for not comment out of topic

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s