Ketika Dhira Jatuh Cinta: Dari Hannover hingga Cordoba

Photo0320

Judul: Ketika Dhira Jatuh Cinta
Penulis: Nadhira Arini
Cetakan I: Februari 2015
Penerbit: Mizania (PT. Mizan Pustaka)
ISBN: 978-602-1337-41-7

Oke, gue nggak pacaran. Tapi ngebayangin gue seolah-olah sudah menikah dengan dia, sang lelaki idaman, adalah suatu hal yang salah total. (hlm. 21)

Nadhira Arini, seorang gadis berhijab yang memutuskan untuk tidak berpacaran sebelum menikah. Hal itu bukan tanpa godaan. Setan selalu punya banyak cara menggoda manusia. Kalau tak bisa lewat jalan yang satu, setan masih punya cara lain. Demikian yang terjadi pada Dhira. Dua tahun tinggal di Jerman serta jatuh cinta pada seorang namun belum berani mengungkapkan, rasanya cukup melelahkan. Hari-hari Dhira dilanda kegalauan. Mendadak senang, mendadak sedih. Tidak jelas.

Sampai akhirnya, Dhira pun memutuskan untuk travelling keliling enam negara di Eropa Barat. Bersama Rara sahabatnya, ia mulai perjalanannya dari Hannover hingga Cordoba. Barangkali dengan udara baru, ia bisa melupakan perasaannya dan pria itu bisa hilang dari pikirannya.

Pangeranku, pasti datang tepat waktu.
Kalau bukan orang lain, pasti kamu. 🙂 (hlm. 24)

Saya sering membaca blog Dhira, bahkan saya juga menjadi salah satu followersnya. Tulisannya selalu enak dibaca. Mengalir dengan gaya bahasa sehari-hari. Demikian juga dengan buku ini, tak jauh beda dengan tulisan di blognya. Meski banyak kata yang tidak baku, justru itulah yang menjadi ciri khas tulisan Dhira.

Sebuah catatan perjalanan yang menarik. Travelling Dhira dalam rangka merindukan sesosok pangeran berkuda hitam. Ah ya, di buku ini dijelaskan Dhira tidak pernah berani untuk travelling sendirian. Karena dia sering diikuti orang asing. Aneh sekali memang. Tapi bukan sekali dua kali, kejadian itu cukup sering. Hiii tak terbayang rasanya.

Terlalu rumit menjelaskan rute perjalanannya, hehe ada baiknya kalian baca sendiri. Toh jadi lebih terasa kan 😀 Perjalanan paling menarik menurut saya saat Dhira menginjak puncak Gunung Alpen, Dhira sukses menggambarkan hamparan gunung salju abadi itu. Aah, bikin saya ikutan mupeng.

Satu perjalanan lagi yang bikin saya nyaris ikutan nangis. La Catedral de Cordoba. Konon, tempat ini dulunya masjid. Namun sekarang berubah menjadi katedral. Bangunan menjadi lebih gelap. Tembok-tembok penuh dengan ukiran yang terkesan dipaksakan. Patung-patung Bunda Maria, pastor-pastor berjejer sepanjang tembok jadi menghalangi akses cahaya masuk ke masjid. Rasanya sedih banget. Tak terbayang pejuang Islam yang dulu berjihad untuk mempertahankan masjid tersebut. Hingga dipaksa pindah agama bahkan dibunuh dengan sadis. Semoga Allah merahmati mereka dan menempatkan di surga tertinggi-Nya.

Imam Al-Syafi’i bilang, “Orang pandai dan beradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah. Kau akan dapatkan pengganti kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang. (hlm. 204)

Tapi saya kurang suka jenis dan warna fontnya 😦 Saya lebih suka warna netral yakni hitam. Dan jenis font yang biasa dipakai saja semacam Times New Roman. Mungkin sengaja dibuat seperti itu agar lebih menarik. Dan karena latarnya biru, beberapa gambar jadi kurang jelas bahkan tidak terlihat. Kalau nanti dicetak ulang, harapan saya sih bisa diperbaiki dan gambarnya dibikin berwarna saja. *eeh*

Kutipan menarik:

Bukti bahwa kau wanita hebat, kau tetap lebih sering mengingat Allah dibandingkan dengan lelaki yang kau cintai. (hlm. 29)

Untuk mengubah seseorang nggak harus dengan cara yang kasar. Cukup turunkan ego kita, bersikap lebih sabar, dan banyak senyum aja. (hlm. 192)

Jika kita menyadari kemudian mensyukuri setiap kelebihan dan kekurangan pada diri kita, itulah yang membuat kita yang tidak sempurna ini terlihat menarik di mata orang lain. because being perfect is boring. And love isn’t finding the perfect person, it’s seeing in imperfect person perfectly. (hlm. 236)

Benarlah, jika ingin berubah, maka bukan dengan berdiam diri. Tapi justru harus bergerak. Dengan melakukan sesuatu, kita jadi tidak terfokus pada perasaan yang belum pantas. Dan memutuskan untuk menjaga diri sebelum halal, bukan tanpa cobaan. Namun sejauh mana kita kuat untuk menaati perintah-Nya 🙂

Satu doa Dhira yang saya suka:

1428764819018

 

Islamic Reading Challenge 2015

Nonfiction Reading Challenge 2015

Yuk, Baca Buku Non Fiksi 2015

100 Days of Asian Reads Challenge

Iklan

10 thoughts on “Ketika Dhira Jatuh Cinta: Dari Hannover hingga Cordoba

Thank you for not comment out of topic

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s