Stereotip tentang Remaja dalam Karya Fiksi

HUT-BBIbanner 13 days cl-ya

Ya masih dalam rangka Around The Genres in 30 Days, kali ini giliran saya menulis tentang Stereotip tentang Remaja dalam Karya Fiksi.

Stereotipe adalah penilaian terhadap seseorang hanya berdasarkan persepsi terhadap kelompok di mana orang tersebut dapat dikategorikan. Stereotipe merupakan jalan pintas pemikiran yang dilakukan secara intuitif oleh manusia untuk menyederhanakan hal-hal yang kompleks dan membantu dalam pengambilan keputusan secara cepat. (Wikipedia)

Sejak SMA saya memang sangat tertarik dengan novel-novel remaja. Bahkan hingga kini. Meskipun frekuensinya sudah lebih sedikit dibanding dulu. Sepanjang saya membaca, saya menemukan beberapa garis besar stereotip yang berhubungan dengan remaja dan pada dasarnya masalah-masalah ini memang sangat terkait pada remaja dalam kehidupan nyata.

Asmara
Rasanya urusan ini memang jadi masalah paling pokok pada remaja. Wajar saja itu karena naluri seksual yang muncul setelah beranjak remaja. Saling tertarik dengan lawan jenis. Maka tak heran, banyak novel kini yang paling diminati adalah masalah percintaan. Terutama dalam genre young adult itu sendiri.

Di beberapa novel, masalah ini biasanya muncul saat masa-masa mulai tertarik dengan seseorang, berkenalan hingga akhirnya pacaran. Atau seperti novel Des(c)ision yang lebih menekankan masalah pada hubungan pacaran itu sendiri. Buku-buku lain dengan bahasan asmara yang sudah saya bahas: LDR, Move On, Mantan, Cinta/Pergi, People Like Us.

Arogan/Kesombongan
Novel Girls in the Dark menurut saya novel paling menunjukkan sisi ini. Tokoh utama, Shiraishi Itsumi digambarkan nyaris sempurna. Dalam remaja, perubahan hormonal dan suasana hati berpengaruh pada sikap dan situasi tertentu. Rasa ingin menonjolkan diri, keberadaan, serta rasa ingin diakui membuat remaja sering dianggap sombong. Bahkan mungkin rasa ketidakpuasan akan apa yang dimiliki dalam dirinya membuat mereka tidak bisa berpikir jernih.

Kurangnya Kontrol Diri
Fase ini saya rasa merupakan bentuk kewajaran. Sebab tingkat emosi remaja yang belum matang, sehingga seringkali kesulitan mengambil keputusan. Karena sulit ini, remaja seringkali gegabah. Dalam tokoh novel Dec(s)ision contohnya. Desi sang tokoh utama digambarkan sebagai tokoh yang sulit mengambil keputusan. Cepat terpengaruh dengan orang. Hal-hal yang seperti ini yang menambah maraknya kata galau pada remaja. Sah-sah saja jika galau itu positif, namun jika galau hanya ‘menyiksa’ diri, pendekatan orang tua dan keluarga rasanya harus ditingkatkan.

Kurang Bertanggung Jawab

Remaja adalah waktu manusia berumur belasan tahun. Pada masa remaja manusia tidak dapat disebut sudah dewasa tetapi tidak dapat pula disebut anak-anak. Masa remaja adalah masa peralihan manusia dari anak-anak menuju dewasa.

Remaja masuk dalam kategori tanggung. Belum dapat disebut dewasa, namun terlalu hijau jika dibilang anak-anak. Rei dalam Cinta/Pergi mungkin hanyalah salah satu contohnya. Keretakkan rumah tangga orang tua, kurangnya perhatian, membuat Rei hilang rasa tanggung jawabnya sebagai pelajar. Tawuran, narkoba atau minuman keras bisa saja menjadi pelarian remaja karena masalah-masalah di atas. Remaja memang punya bahasanya sendiri. Karena faktor hormonal, maka mulai timbul rasa malu. Hal ini sering membuat remaja memilih curhat pada teman-teman sebayanya yang merasa lebih mengerti mereka. Akan sangat disayangkan jika orang tua tidak memahaminya.

Merasa Cerdas
Saat sekolah dulu saya punya seorang teman yang cukup cerdas. Dia disenangi banyak guru. Namun entah karena apa, banyak teman-teman lain menganggapnya sombong. Dari cara dia berbicara memang menunjukkan ‘itu’, namun saya berpikir ulang, barangkali memang seperti itulah ‘gaya’nya. Remaja tidak bisa yang namanya digurui, namun sesama remaja juga terkadang tidak bisa memahami hal ini. Layaknya Ben yang nyaman dengan Amy dalam People Like Us. Karena Amy memahami dirinya tanpa ‘menjudge’nya seperti halnya yang dilakukan oleh keluarganya.

Kembali lagi, ini hanyalah stereotip yang umum terjadi. Dalam karya fiksi bahkan fantasi sekalipun karakter remaja tidak akan jauh berbeda dengan kehidupan nyata. Masing-masing memiliki cara pandangnya sendiri. Seperti dalam GA Hop yang saya adakan. Saya meminta peserta untuk memberi penilaian pada karakter remaja fiksi saat ini. Terbukti, pandangan mereka berbeda-beda, namun tetap dapat satu garis besar. Perkembangan zaman, membuat karya fiksi saat ini jauh lebih berkembang. Tidak monoton dan lebih berwarna.

Meski orang tua saya sering melarang adik saya membaca novel, namun saya sebagai kakaknya, justru men’sah’kan saja. Selain untuk menumbuhkan minat baca sejak dini, dia yang beranjak remaja juga akan belajar rasa simpati dari setiap cerita-cerita di dalamnya. Tak menutup kemungkinan kan, dia jadi lebih memahami jika di lingkungannya ada karakter seperti yang ia baca dalam novelnya sehingga tidak lagi mudah menghakimi. Bukankah dalam setiap buku selalu tersirat nasihat 🙂 Ah bicara nasihat, satu hal yang saya suka dari novel fiksi:

Novel tidak pernah menyuratkan pesan terang-terangan. Namun dia membiarkan pesan itu mengalir dengan sendirinya bersama cerita, dan pembacalah yang akan terlatih kepekaannya. 🙂

Namun jangan sampai karena stereotip ini kita jadi mudah menghakimi. Sebab pada dasarnya setiap remaja memiliki karakternya sendiri. Di balik kekurangan pasti ada kelebihan demikian pula sebaliknya 🙂

Daaan jangan lupa! Besok masih ada BlogTour di Blog Book to Share tentang Navigating Newberry dan blog Book Admirer tentang Interview with Luna’s Red Hat Author. Simak juga di blogtour Child & YA’s Literature lainnya 😀 Oh ya, GA Hop masih berlangsung sampai besok lho 😀 Jangan sampai ketinggalan ya 😀

time-table-blog-tour

Iklan

2 thoughts on “Stereotip tentang Remaja dalam Karya Fiksi

Thank you for not comment out of topic

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s