[Opini Bareng: Alur Cerita] Tergantung Pengemasan

banner_opinibareng2015-300x187

Berbicara alur cerita, saya tidak pernah mematok apapun. Entah itu maju ataupun mundur, buat saya yang lebih berpengaruh adalah cara penceritaan si penulis itu sendiri. Kalau dia bisa mengemas alur mundur dengan menarik mengapa tidak. Kalau alur maju itu dirasa lebih baik ya sah-sah saja. Atau mungkin dengan alur campuran yakni maju mundur. Pada akhirnya memang tergantung cara pengemasannya.

Tapi mungkin rasa tidak suka saya adalah ketika alur berjalan lambat dan dirasa bertele-tele. Terlebih ketika di pertengahan saya masih bertanya, “Ini cerita mau dibawa kemana sih?” Dengan kata lain belum mengerti jalan cerita. Biasanya ini terjadi pada alur maju. Beberapa penulis mungkin masih terfokus pada ‘memancing rasa penasaran pembaca’. Namun ketika rasa penasaran itu tidak diimbangi dengan gaya penceritaan yang menarik, maka jatuhnya pembaca akan merasa jenuh dan bisa jadi meninggalkan buku itu begitu saja. Ya. Sempat ada buku yang bernasib seperti itu di tangan saya. Saya memilih menunda dan akan membacanya kembali – entah kapan hiks. Atau bisa jadi saya akan menjualnya pada orang lain hehe.

Saya tidak akan berbicara buku dengan alur yang menyebalkan. Novel Cheeky Romance bagi saya tidak menjenuhkan. Dengan alur maju namun tidak bertele-tele dan tetap bisa tampil tebal dengan tulisan yang halus pula 😀 Dan saya bisa menikmati ceritanya dengan enjoy.

Kalau alur mundur ada novel People Like Us – Yosephine Monica atau Seribu Wajah Ayah – Azhar Nurun Ala. Penulis bisa mengemasnya dengan menarik. Atau alur campuran seperti Rembulan Tenggelam di Wajahmu. Tere Liye bisa mengemasnya dengan elegan. Saya menikmati setiap jalan ceritanya. Tentang kehidupan awal Rey dan sejarah masa lalunya lalu kembali lagi pada masa kini dan pertanyaan-pertanyaan besarnya yang membuat penulis kembali menceritakan masa lalunya.

Alur mundur atau campuran ini mungkin akan jarang ditemukan dalam buku anak-anak. Saya juga pernah membaca sebaiknya dalam buku anak, alur dibuat maju. Mungkin ini ada benarnya. Agar anak-anak juga lebih memahami cerita.

Kadang pembaca memang butuh sesuatu yang baru. Alur maju mungkin sudah sangat umum. Tapi ketika bisa dikemas dengan menarik mengapa tidak? Kalau dengan maju mundur cerita justru jadi tidak karuan ya lebih baik bikin seperti umum saja hehe. Yang terpenting sih jangan sampai bertele-tele dan jatuh jadi membosankan.

Iklan

2 thoughts on “[Opini Bareng: Alur Cerita] Tergantung Pengemasan

Thank you for not comment out of topic

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s