The Dark Side of Sidney: Sarat dengan Filosofis

CYMERA_20150325_085238

Judul: The Dark Side of Sidney
Penulis: Haekal Adha Al-Giffari
Penerbit: de Teens (Diva Press)
Cetakan Pertama: Januari, 2014
Jumlah Halaman: 300 halaman

Yang dibutuhkan hanyalah kemauan yang membara. Jika saja kita tak bisa mengerjakan sesuatu dan berhenti, bukan berarti kita tidak bisa. Kita hanyalah tidak mau. (hlm. 4)

Perjalanan liburan bagi Giffari kali ini cukup menyenangkan. Kehidupannya di asrama selama ini dirasa membosankan. Fachry, sahabatnya mengajaknya untuk berlibur di Austaralia. Negeri yang sudah lama ia impikan untuk meninggalkan tanah Jawa dan melihat Opera House secara langsung serta menikmati habitat sebenarnya kangguru dan koala.

Mereka menghabiskan waktu selama dua hari di Bali sebelum keberangkatan mereka menuju Australia. Sesampainya di Australia, Giffari bertemu dengan seorang gadis bernama Zafhira yang ternyata merupakan teman Fachry saat ia masih sekolah dasar di Sydney. Zafhira berniat mencari ayahnya di Bankstown yang juga merupakan tempat apartemen keluarga Fachry menginap.

Perjalanan ke Australia memberi Giffari banyak pelajaran. Kebersamaannya dengan Zafhira, serta Fachry dan keluarganya yang hangat menjadi senjata dalam melawan dinginnya cuaca. Snowy Mountain juga mengantarkan Giffari pada petualangan aneh di dunia yang penuh salju. Di sana, ia bertemu dengan orang bijak bernama Masef bersama seorang gadis yang disebut Salju Putih dan Wolda yang selalu bersama si Salju Hitam.

Mereka selalu mengikuti Giffari. Siapa sebenarnya mereka? Apakah itu suatu kebetulan atau telah diatur sejak awal? Mengapa juga Zafhira selalu melekat di benak Giffari?

-x-

Sebuah novel yang sarat dengan banyak filosofis. Ketika ini dikategorikan sebagai novel remaja, saya khawatir justru membuat bahasa tergolong berat, karena beberapa bagian bisa dibilang sulit dicerna. Saya sendiri sempat ingin berhenti di tengah jalan, karena belum tahu pada dasarnya cerita ini akan dibawa kemana. Saya rasa hal ini karena banyak sekali yang ingin disampaikan oleh penulis.

Tapi memang selalu ada balasan untuk kesabaran, ketika didalami dapatlah apa yang ingin disampaikan dalam novel yang ditulis oleh Haekal yang berusia tiga tahun di bawah saya. Jika filosifis-filosofis itu dipahami, maka sebenarnya novel ini mengajak remaja pada kesadaran untuk memahami tujuan hidup salah satunya.

Hanya saja ada satu bab yang membuat saya bingung, di halaman 132 dengan judul Al-Ghazali dan Ibnu Rusyid yang berisi cerita tentang keterkaitan perdebatan antara Al-Ghazali dan Ibnu Rusyid dengan perdebatan Fatih dan Giffari. Apa sebenarnya kaitannya dengan seluruh cerita? Ataukah ini hanya bab yang menceritakan tentang masa lalu Giffari semasa sekolahnya? Yang membingungkan adalah ketika Fatih tidak pernah diceritakan sebelumnya atau setelahnya. Mungkin jika Fatih bernama Fajri atau Fachry, masih bisa dipahami. Sebab kedua orang inilah yang berkaitan dengan cerita. Saya rasa jika bab ini dihilangkanpun sebenarnya tak masalah 🙂

Berhubung saya termasuk orang yang suka dengan kata-kata filosofis, maka di novel ini cukup banyak bertebaran kutipan menarik, di antaranya:

Selama ini, kita telah ditutupi oleh sejumlah seruan palsu yang menyeret kita pada nafsu berkobar, seperti terciptanya api di tengah-tengah hutan tanpa setetes air hujan yang menghentikan. Orang-orang telah membuang jauh ketekunan, kesungguhan, kejujuran, dan arti sebuah proses.(hlm. 45-46)

Sesuatu yang berharga tidaklah semua hal yang dapat dilihat. (hlm. 93)

“… Manusia tidak akan bisa diukur kemampuannya, dan kehidupan ini pasti akan hambar. Di sinilah sebuah peran kesengsaraan yang mencoba mewarnai kehidupan.” (hlm. 126)

Jangan lihat siapa yang mengatakan. Tapi dengarkanlah apa yang dikatakan. (hlm 127)

“Karena keindahan itu adalah bagian dari kebahagiaan, kan?” (hlm. 149)

“Air adalah dasar dari es batu. Es batu adalah air yang membeku, menjadi lebih keras. Tapi setidaknya jika dipanaskan, es batu akan menjadi air, dan kembali ke dasar. Manusia juga dapat kembali ke dasar jika diberi suasana panas, pengalaman yang dapat mengubahnya kembali menjadi dasar, yaitu manusia yang pantas untuk dipanggil manusia, yang masih menggunakan hati, otak, dan menyadari sebuah tujuan dari penciptaannya.” (hlm. 197)

“Bukankah manusia telah berjanji pada Tuhan saat akan ditiupkan ruh kepada mereka? Tapi kebanyakan dari mereka lupa dengan amanah besar dari-Nya.” (hlm. 212)

Tak ada yang abadi di dunia ini, kecualo penulis dan ahli ilmu yang mengamalkannya. Ia akan abadi dengan tulisan dan ilmunya. (hlm. 266)

Yang kita butuhkan adalah melihat segala hal dengan berbagai sudut pandang, bukan dengan kacamata kuda. (hlm. 277)

Jika rindu pada novel-novel remaja yang islami dan sarat hikmah, maka novel ini cocok menjadi penawarnya 🙂

Islamic Reading Challenge 2015

Young Adult Reading Challenge 2015

100 Days of Asian Reads Challenge

TBRR Pile Reading Challenge 2015

Iklan

9 thoughts on “The Dark Side of Sidney: Sarat dengan Filosofis

Thank you for not comment out of topic

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s