Des(c)ision: Galau Karena Labil

CYMERA_20150214_105030

Judul: Des(c)ision
Penulis: Almira Raharjani
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman: 224 hlm.
ISBN: 978-979-22-8632-8

“De nggak pernah menunjukkan rasa sayangnya sama gue. Okelah, kami memang ketemuan setiap minggu, tapi itu hanya pertemuan biasa. Seperti pertemuan antara dua orang teman. Hanya itu.” (hlm. 14)

Satu setengah tahun itulah yang dirasakan Desi. Hubungannya dengan De terasa hambar. De tidak seromantis pria lain. Banyak bicarapun tidak. Bahkan Desi hanya dipanggil Desi bukan beb, say atau apapun panggilan yang biasa dilakukan layaknya pacaran lainnya. Kehadiran Cindy, sahabatnya turut membulatkan keputusan Desi untuk memutuskan hubungannya dengan De.

Sayangnya Desi melupakan satu hal, De sangat dekat dengan keluarganya. Saat Anggi, adiknya meminta De untuk mengantarkannya kuliah dan melihat De sedang asyik berbincang dengan keluarganya, di situlah Desi merasa tidak suka.

“Tapi gue minta lo menjauh. Tahu arti menjauh kan. De? Go away. Gone. Dissapear. Minggat. Kita udah putus. Dan itulah yang dilakukan orang yang putus. Pergi menjauh. Mengapa? Karena nggak relevan lagi lo berada dekat-dekat orang yang sudah putus hubungan dengan lo.” (hlm. 36)

Keluarganya tidak tahu jika Desi sudah putus dengan De. Semua baru terungkap ketika Linggar, sepupu Desi, bertengkar hebat dengan De karena merasa De telah menyakiti sepupunya dan terbawa dendam masa lalunya.

Setelah De akhirnya benar-benar menjauh, Desi justru kalang kabut. Ia merasa kehilangan. Merasa telah keliru mengambil keputusan. Hubungannya dengan Cindy, sahabatnya juga tidak sehangat dulu akibat pertengkaran mereka tentang hubungan Cindy dengan Dody yang sempat menembak Desi dan membuat Desi tidak suka.

Semua masalah membuat kuliahnya berantakan. Skripsinya yang sempat tertunda dan keluarganya yang tidak mengerti pikiran Desi mengapa memutuskan hubungan dengan De. Lantas apa keputusan Desi akhirnya?

-x-

Ini novel bergenre Amore pertama yang saya baca. Kalau melihat artinya seperti yang saya kutip dari sini, mungkin ada benarnya jika novel ini membahas kisah cinta dengan lebih dalam

Capture

Dengan tagline, Kisah Galau Sepanjang Masa, sekali lagi memang benar. Novel ini benar-benar galau. Tapi kalau mau lebih spesifik lagi sebenarnya kegalauan itu disebabkan karena kelabilan sikap Desi sendiri. Sampai saya sebal rasanya -_- Desi ini anak kuliah tingkat akhir lho, tapi labilnya seperti mengalahkan anak seumuran SMA -_- Inilah salah satu yang menyebabkan ketidaksukaan saya membaca novel ini. Padahal saya penasaran seperti apa genre Amore. Apakah novel Amore lainnya sama? Ah semoga saja tidak.

Banyak pula kekurangan dalam novel ini.

Inkonsistensi kata ganti. Sebenarnya ingin memanggil Mama atau ibu. Kadang Ibu Desi disebut Mama, di halaman lain jadi Ibu. Ini terjadi pada halaman 55, 149, 192, 194, dan 216.

Ibu baru saja hendak membeli bumbu dapur di warung belakang rumah. (hlm. 55)

Ibunya yang heran mendengar keributan mereka menghampiri keduanya. (hlm. 149)

Lalu mengapa berbicara dengan orang tua pakai gue? Apakah memang disengaja? Tapi kalau menurut saya sih kurang sopan.

“Mama, tolong… kembalilah ke jalan yang benar! Tontonlah hanya tayangan berkualitas seperti Papa, sang kekasihmu, suamimu tersayang! Seperti juga gue dan Desi, mahasiswi cerdas dan inteligensia,” (hlm. 60)

“Nggak tahu, Yah. Gue nggak suka aja pacaran dengan De?” sungut Desi dengan wajah merengut. (hlm. 71)

Dan ada kalimat yang rasanya kurang sopan ditujukan pada orang tua, sekalipun itu menggerutu sendiri.

Dasar si ayah ini! Dasar generasi tua nyebelin, nggak ngerti perasaan anak muda! (hlm. 90) Whats? Generasi tua? -_-

Juga ada inkonsistensi kata ganti mu dan lo. Kadang mu, kadang lo, kadang gue kadang mu. Terjadi cukup sering, yakni di halaman 103, 109, 110, 117, 127, 152, 160, 174, 213. Seperti:

“Sinis banget sih lo hari ini. Tadi omonganmu kayak suporter, sekarang kayak kritikus.” (hlm. 109) lo lalu jadi mu?

“Teori daganganmu nggak berlaku buat gue, Cin.” (hlm. 110) mu dan gue? 

Lalu ada kesalahan penulisan. Seperti:

“Ya, ditinggal Anggi latihan akrobat Brasil!” (hlm. 105) Padahal ceritanya Anggi sedang ada di rumah temannya, Cintya dan kejadiannya Cintyalah yang meninggalkan Anggi.

tanya Fifi heran, tapi ia tidak sempat bertanya lebih jauh karena rusuknya keburu disikut Desi. (hlm. 186) Padahal yang sedang ada di sana Fifi dan Anggi. Seharusnya disikut Anggi dong -_-

tanya Fifi tidak sabar, tapi segera terdiam begitu rusuknya kembali disikut Desi. (hlm. 190) Desi lagi, Desi lagi yang disalahin -_-

Dan agak kurang mengerti sih kenapa di halaman 206 mendadak jadi cerita Idul Fitri? Setelah ditelaah, oh ternyata kegalauan si Desi ini dari bulan biasa sampai memasuki bulan puasa belum kelar -_-

Ya, baiklah mudah-mudahan bisa jadi perhatian penulis dan editor untuk buku selanjutnya.

Kutipan menarik:

“Ma, pacaran kan nggak ada ikatan hukumnya, Ma! Nggak seperti orang kawin! Pacaran nggak ada kontrak resmi yang sah. Juga nggak ada istilahnya dalam agama.” (hlm. 122) Then, jangan menganggap novel ini religius ya, tapi saya suka aja kutipan ini.

Manusia telah begitu banyak merumuskan sesuatu dari fakta yang terserak dimana-mana, masih banyak yang belum dijangkau ilmu pengetahuan dan kemanusiaan. Masih banyak hal yang belum tergali di luar sana. (hlm. 135) Apalagi menganggap novel ini novel sains.

Di balik semua ini ada sebuah skenario besar, sebuah aturan yang paripurna, yang menyelutuh, yang menunjukkan adanya Yang Mahakuasa. Kekuasaan Tuhan masih amat luas. Ilmu Tuhan masih berlimpah seluas dan sedalam samudra. Bukankah ilmu yang dicapai manusia hingga kini baru setitik air dari samudra itu? (hlm. 135) One again, ini bukan novel religius dan sains, ok?

“Lo nggak perlu mikirin omongan nggak penting dari orang lain. Jadilah apa yang lo mau. Jadilah diri sendiri. Biarkan anjing menggonggong, kafilah berlalu. Lo punya kawan. Itu yang terpenting” (hlm. 142)

“Keputusan itu bukan ludah. Manusia tempat salah dan keliru. Kita harus membetulkan yang keliru, meluruskan apa yang bisa kita luruskan.” (hlm. 165)

“Memang, meminta maaf itu mudah. Tapi tidak semua orang sanggup meminta maaf. Bahkan kebanyakan orang biasanya lebih suka menyalahkan orang lain untuk kesalahan yang dilakukannya. Meminta maag membutuhkan jiwa yang besar. Membutuhkan kepedulian yang besar.” (hlm. 195)

“Jika semua pendapat pribadimu berdasarkan prasangka buruk, kebaikan akan menjauh darimu,” (hlm. 195)

Agak sulit untuk merekomendasikan buku ini. Apalagi untuk kamu yang mudah galau dan labil -_- Tapi kalau hanya sebagai pembelajaran, ya okelah.

Young Adult Reading Challenge 2015

TBRR Pile Reading Challenge 2015

Iklan

9 thoughts on “Des(c)ision: Galau Karena Labil

Thank you for not comment out of topic

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s