People Like Us: Sarat Moral Kehidupan

CYMERA_20150213_091137

Judul: People Like Us

Penulis: Yosephine Monica

Penerbit: Haru

Penyunting: Tia Widiana

Proofreader: Dini Novita Sari

Design Cover: Angelina Setiani

Cetakan Pertama: Juni, 2015

Jumlah Halaman: 330 hlm.

ISBN: 978-602-7742-35-2

Tidak ada yang spesial dari Amelia Collins atau biasa dipanggil Amy. Gadis lima belas tahun yang serba standar. Jaringan pertemanannyapun tidak luas. Hanya ada dua yang selalu bisa diingat darinya, kesukaannya menulis yang ia tuangkan lewat blog pribadinya, meski aneh karena ceritanya tidak pernah diselesaikan.

Benjamin Miller adalah pria pertama yang Amy sukai sejak ia berumur dua belas tahun. Tidak mengerti apa yang Amy sukai dari Ben, seorang pria jangkung yang amat pendiam. Itu sebabnya mereka berdua juga tidak pernah berbincang meski satu kelas dalam kursus musik. Hanya sekali yang Amy ingat, saat Ben mengucapkan Natal padanya. Setelah itu, Ben menghilang.

Dari 500 murid di high school ini – dan 267 siswa – kenapa harus dia yang dipilih Amelia Collins sebagai orang yang disukai? (hlm. 90)

Secara tak sengaja, Ben mendaftar di high school yang sama dengan Amy. Dan di sinilah semua kisah bermula. Meski Ben sudah tahu sejak lama Amy menyukainya, tapi itu malah menimbulkan kebenciannya pada Amy. Ia merasa Amy seperti penguntit yang terus mengikuti dirinya. Tapi semenjak Amy divonis kanker, Ben melunak. Berkat Lana, sahabat Amy, Ben mau menjenguknya.

Pertemuan intensnya dengan Amy membuat Ben memiliki pandangan baru tentang gadis itu. Kesukaan yang sama pada bidang menulis dan Amy yang selalu bijak dan tidak pernah memandang Ben rendah seperti yang selama ini dilakukan oleh orang-orang sekitarnya. Lantas apakah kini Ben membalas cinta Amy? Sayangnya tidak semudah itu. Kita masih harus menunggu kisah selanjutnya.

-x-

Kalau saja seorang teman tak merekomendasikannya, mungkin saya tidak akan melirik novel ini. “Keren banget, nggak percaya novel ini ditulis sama anak berumur 17 tahun! Bahasanya terasa seperti bukan ditulis seorang anak remaja.” Kurang lebih begitu. Dan tak pikir panjang, novel ini menjadi wishlist. Alhamdulillah pas sekali saat seorang teman yang lain menjualnya.

Apa yang saya rasakan setelah menikmatinya? Rupanya apa yang dikatakan teman saya lalu benar. Sulit dipercaya dengan penggunaan bahasa yang hmm penulis cukup pandai merangkainya. Pandai menyiratkan makna yang ingin disampaikan. Lebih-lebih makna kehidupan. Meski memang cerita terksesan klise, tapi tidak mengurangi kenikmatan membacanya. Dan sayapun larut dalam kisah Amy dan Ben.

Wajar pula jika novel ini memenangkan 100 Days of Romance yang diadakan Penerbit Haru 2013 lalu. Dengan sudut pandang orang ketiga dan tentu saja tokoh utamanya Amy dan Ben. Orang-orang sekitar yang turut melengkapi cerita keduanya juga semakin melengkapi novel yang ditulis oleh gadis yang berasal dari Medan ini.

Hanya ada dua typo. Ditulis tanpa spasi, pada halaman 108 bagikepada dan 181 apayang. Selebihnya, nyaris tidak ada kesalahan.

Seperti yang saya bilang, penulis pandai menyiratkan makna atau pesan moral. Beberapa yang saya suka:

Seharusnya anaklah yang memegang tangan orangtuanya. Karena jika orangtua memegang tangan anaknya, ada banyak sekali kemungkinan anak itu melepaskan genggaman orangtuanya. Dan ketika anak yang memegang tangan orangtuanya, kecil kemungkinan kehilangan akan terjadi. Orangtua takkan semudah itu melepaskan harta terbaik mereka. (hlm. 65)

Untuk menulis sebuah cerita baru, jangan terpaku pada hal yang membuatmu terinspirasi. Bisa-bisa kau terkesan menjiplak cerita itu dan orang-orang menganggapmu plagiator. (hlm. 119)

Kita seharusnya melakukan sesuatu bukan karena imbalan yang akan kita dapatkan setelah itu, melainkan karena kita memang benar-benar ingin melakukannya. (hlm. 130)

“Hidup itu seharusnya terus melihat ke depan, bukan hanya menoleh ke belakang.” (hlm. 142)

“… Hidup takkan sesulit itu jika kau melakukannya dengan sepenuh hati. Dan mati itu tidak akan gampang jika kau tahu kau punya sesuatu yang layak untuk dipertahankan dalam hidup.” (hlm. 164)

“… Kadang para penulis hanya mengisi kertas kosong dengan kalimat-kalimat penuh kebohongan yang tidak dipercayainya sama sekali.” (hlm. 175)

“… Tidak enak rasanya bertengkar dengan orang yang paling dekat denganmu.” (hlm. 177)

Meski kita membenci sekolah, tapi kita lebih benci lagi jika sudah lulus dari sana dan tak bisa kembali. (hlm. 199)

“Senapan memberimu kesempatan, tapi pikirkankah yang memengaruhimu untuk menarik pelatuk.” (hlm. 242)

“Kadang kau harus keluar dari zona nyamanmu dan bertarung.” (hlm. 247)

“Kau tahu, hanya karena ada orang-orang kejam di dunia, bukan berarti dunia yang kau tinggali ini adalah tempat yang kejam.” (hlm. 274)

“Kau tidak bisa meyalahkan siapapun untuk ini semua. Kau tidak bisa menghentikan dunia yang berputar, kau tak bisa memarahi burung-burung yang terbang melewati atas kepalamu. Kadang itu hanyalah takdir, atau kebetulan. Kadang, hal-hal seperti ini disalahartikan sebagai cobaan, padahal sebenarnya itu hanyalah pelajaran. Dan kadnag, yang harus kau lakukan hanyalah melepaskan. Kadang, melepaskan itu sama gampangnya seperti tertidur. Sama gampangnya seperti mati.” (hlm. 275)

“Jika aku bisa memaafkan, kenapa aku harus membenci? Kadang kau harus bisa memaafkan seseorang, meskipun orang itu tak tahu bahwa dia bersalah padamu.” (hlm. 281)

Ah ya, saya juga suka setiap pembuka bab ini. Jika biasanya novel dari bab satu ke bab selanjutnya disajikan secara langsung, namun di sini kita akan diajak untuk memasuki kisah apa yang akan diceritakan nantinya. Seperti:

Aku ingin jujur sekarang, aku harap kau tidak marah. Akan kuberitahu yang sebenarnya: cerita ini belum dimulai.

Paragraf-paragraf panjang sebelumnya hanyalah pembuka, sekedar menunjukkan sekilas sejarah tokoh utama perempuan kita, meski aku tahu itu semua belum cukup.

Namun aku tidak mau semuanya berjalan lebih lama lagi. Jadi sebaiknya kuceritakan yang penting-penting saja, sebelum kita benar-benar memasuki cerita aslinya.

Sudah siap?

Lalu siapa sebenarnya sedang bercerita? Silakan nikmati sendiri 🙂

Tantangan Membaca 2015 “Karya” Dini Novita Sari

Young Adult Reading Challenge 2015

TBRR Pile Reading Challenge 2015

Iklan

10 thoughts on “People Like Us: Sarat Moral Kehidupan

Thank you for not comment out of topic

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s